Potret Kartini Masa Kini

Read Time:2 Minute, 49 Second


Api semangat Kartini terus menyala hingga kini. Hak ini terbukti melalui semangat perjuangan perempuan-perempuan ini.

Dua puluh satu April menjadi hari yang sakral dalam sejarah bangsa Indonesia. Emansipasi yang digagas Raden Ajeng Kartini berhasil membuka perspektif baru. Perempuan—yang dianggap sebagai insan yang lemah—kini memiliki kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan. Bahkan tidak hanya itu, perempuan yang dulu hanya berperan sebagai konco wingking kini juga diperbolehkan berkarier dan menggapai cita-citanya yang setinggi langit.

Berbicara soal semangat Kartini, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki sosok perempuan-perempuan hebat dan menginspirasi. Para Kartini masa kini ini terus mengembangkan kualitas diri demi menjadi perempuan yang mampu merubah stigma lingkungan sekitar. Mereka terdiri dari mahasiswi dan dosen yang saat ini masih berjuang keras. Baik itu di dalam kampus maupun di luar kampus.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Mahasiswi Fakultas Imu Tarbiyah dan Keguruan Safti Nur Safitri. Tekadnya ingin menjadi salah satu tokoh yang dapat berkontribusi di dunia pendidikan mengantarkan Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah ini dinobatkan sebagai Putri Pendidikan Indonesia Provinsi Banten 2019. Pemilihan Putra-Putri Indonesia Pendidikan Banten merupakan kontes pemuda-pemudi cerdas, memotivasi, inspiratif, dan nasionalis yang diselenggarakan Ikatan Pemuda Prestasi Indonesia.

Menurut Safti, sosok kartini di zaman sekarang adalah perempuan yang mampu menunjukkan kualitas dan kemampuan dirinya tanpa ragu-ragu. Bahkan dapat dilihat bahwa perempuan saat ini mampu menjadi seorang pemimpin atau motivator yang menginspirasi banyak orang. “Jangan pernah ragu dengan apa kamu miliki, raih mimpi besarmu,” begitu pesan mahasiswi semester dua ini, Sabtu (13/4).

Berbeda dengan Safti, Mahasiswi Kedokteran semester 4 Fathiya Shafiatur Rahmah meneruskan perjuangan Kartini lewat dunia kedokteran. Perempuan yang akrab disapa Tya ini sudah didiagnosis mengidap Kanker Intra Apdomen sejak 2016 lalu. Ia telah mengeluarkan banyak cairan dalam perut bertahun-tahun lamanya. Meski dokter sudah menyatakan demikian, Fathiya tetap semangat untuk bisa terus belajar dan menggapai cita-citanya. Terbukti, Fathiya berhasil masuk Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional.

Saat Fathiya berada di jenjang Sekolah Menengah Atas, ia hanya menghabiskan waktunya di sekolah, tempat les dan rumah sakit. Fathiya bahkan pernah memanggil guru privat untuk belajar di rumah sakit saat sedang menjalankan kemoterapi. Selain ingin menjadi dokter, Fathiya juga memiliki keinginan menjadi seorang penulis. Pengalamannya saat melihat berbagai macam kondisi para pasien kanker membuat hatinya terenyuh dan ingin menuliskan kisah-kisah mereka dalam bentuk sajak. Tahun ini, ia bekerjasama dengan badan wakaf akan menerbitkan tulisan-tulisannya yang terangkum dalam sebuah buku berjudul Surat Cinta.

Menurut Fathiya, sosok Kartini zaman ini yang bisa diteladani ialah sosok yang peduli dan tidak apatis terhadap kondisi di sekitarnya. Contoh kecilnya ketika ada suatu permasalahan yang terjadi di kampus. Kartini masa kini harus ikut andil dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Selain peduli, Kartini masa kini juga harus memiliki jiwa sosial yang tinggi seperti RA. Kartini yang sering membantu semua kalangan tanpa pandang bulu. “Kita harus mengesampingkan gengsi. Jangan lupa untuk terus berjejaring dan berteman dengan siapa saja,” ungkap Fathiya, Senin (8/4).

Tak ketinggalan, perempuan pertama yang meraih Doktor Bidang Pemikiran Politik Islam UIN Jakarta Musdah Mulia pun turut angkat bicara. Menurut Musdah, Kartini masa kini ialah perempuan yang bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Perempuan harus bersaing dengan orang-orang sukses di sekelilingnya. “Kartini punya banyak kesempatan meningkatkan kualitas hidupnya meski tidak melalui pendidikan formal,” ujar Musdah saat ditemui di Sekretariat Indonesian Conference On Religion and Peace, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (14/4).

SEFI RAFIANI

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Semarak Gelar Olimpiade Quran
Next post Merajut Angan Anak Pesisir