Santri Pencari Jati Diri

Read Time:2 Minute, 53 Second

Perjalanan tak biasa dilakukan tujuh santri yang berasal dari Guyangan Pati Jawa Tengah.  Dengan bermodalkan barang seadanya, mereka nekat menempuh perjalana dari Pati Jawa Tengah sampai Madura dengan berjalan kaki.
Spiritualitas identik dengan perjalanan seseorang menuju Tuhan. Perjalanan yang dilakukan ketujuh santri ini merupakan sesuatu hal yang baru bagi mereka. Persiapan dan perlengkapan yang ala kadarnya membuat mereka nekat melakukan perjalanan spiritual. Berbagai kesulitan pun sempat mereka alami, namun itu semua tidak membuat perjalanan spiritual mereka terganggu.

Buku karya Ibil Ar Rambany yang berjudul Wali Bonek ini bercerita tentang rekam jejak perjalanan spiritual tujuh orang santri. Tujuh santri yang tanpa bekal nekat mengunjungi makam-makan wali yang berada di Jawa Timur. Santri itu dikenal dengan Bondo Nekat (Bonek). Mereka merupakan tujuh santri asal Guyangan Pati Jawa Tengah. Ketujuh santri tersebut melakukan perjalanan spiritual kelima Wali yang ada di Jawa Timur dan makam Syekh Kholil Bangkalan. Santri yang bernama Ibil, Fuadi, Edi, Rasyid, Aji, Masluchi, dan Firdaus. Mereka menyebut dengan nama kelompoknya Ashabul Ghuroba.

Seusai melaksanakan ujian akhir, mereka berencana melakukan perjalanan spiritual untuk menguji seberapa kuat mereka melakukan perjalanan spiritualnya. Perjalanan dari Pati sampai Madura nekat meraka lakukan dengan persiapan yang cukup sederhana, dari bermodalkan uang 50 ribu hingga barang-barang yang dibawa ala kadarnya.

Alhasil beragam kendala mereka temui dari berjalan kaki, menumpangi truk hingga menumpang ke salah seorang beragama Kristen. Selain itu, Masjid juga menjadi tempat peristirahatan kala melepas lelah selama perjalanan.

Tempat yang pertama mereka tuju makam Syekh Kholil Bangkalan, namun tidak sesuai dengan yang direncanakan. Mereka menumpangi truk pengangkut semen dan tidak sengaja tertidur, tanpa di sadari mereka berada di pabrik semen yang jalurnya bukan ke arah Madura. Karena sudah terlanjur salah jalur, akhirnya mereka memutuskan untuk mengunjungi Sunan Bonang dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke Madura.

Dari situ, Aji mulai kehilangan semangat untuk melanjutkan perjalanan spiritualnya. Ia merasa tidak sanggup lagi dan bilang bahwa ia ingin kembali ke Pati. Aji mengatakan kepada teman-temannya kalau dia ingin kembali ke Pati. Hal tersebut membuat kaget dan tidak percaya dengan ucapan Aji. Karena dari awal mereka berkomitmen bersama untuk melakukan perjalanan spiritual tersebut.

Tak kalah mengecewakannya, Aji juga bilangtelah menyembunyikan uang 50 ribu untuk ongkos pulang. Sontak hal itu membuat yang lain pada kaget dan tak percaya. Teman-teman Aji mencoba untuk membujuk supaya Aji tidak kembali ke Pati, namun Aji tetap ingin kembali ke Pati. Mendengar pernyataan Aji, Masluchi member pilihan bahwa dia bisa kembali ke Pati setelah mengunjungi makam Syekh Kholil Bangkalan. Aji menerima tawaran dari temannya itu, namun setelah berkunjung ke makam Syekh Kholil Bangkalan Aji tetap dengan keputusannya kembali ke Pati.

Hanya tinggal berenam, namun mereka tetap melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Sunan Ampel Surabaya, Sunan Giri, Sunan Gresik dan Sunan Drajat adalah tujuan terakhir mereka. Namun sayang, mereka tidak sempat menyelesaikan perjalanannya sampai akhir karena salah satu dari mereka kakinya terluka.

Dari situlah kemudian terjadi silang pendapat anatara kembali atau melanjutkan perjalanan. Malsuchi mencoba menengahi “karena kita berangkat bersama begitu juga kembali,” tuturnya. Mendengar penjelasan Malsuchi, semua sepakat untuk kembali ke Pati, Firdaus dan Fuadi yang awalnya kekeh melanjutkan perjalanan juga menyetujuinya.

Berbagai lika-liku mereka hadapi, seperti bentrok sama preman saat mereka ngamen di jalan untuk bisa makan karena sudah tidak punya uang sepeser pun. Buku ini tak hanya menceritakan kisah perjalanan spiritual santri Bonek, melainkan buku ini juga menceritakan sejarah-sejarah para wali yang sudah mereka kunjungi. Bahasa yang digunakan dalam buku ini lebih menonjolkan bahasa sastra, tapi ada juga bahasa lain seperti bahasa Jawa.

HERLIN AGUSTINI

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Perjuangan Menuntut Kesetaraan
Next post Masjid Fathullah: Satukan Harmoni dalam Keberagaman