Fenomena Pendidikan Sarjana Kertas

Read Time:3 Minute, 6 Second

Ketika IPK tinggi, cumlaude, serta membanggakan ijazahnya menjadi hal belum tentu dipelukan di luar kampus. Sementara, soft skill yang dibutuhkan untuk berkarya dan menunjang kehidupan di masa depan.
Pendidikan menjadi buah bibir yang sering diperbincangkan di berbagai kalangan. Dikarenakan pendidikan menyangkut masa depan generasi mendatang. Namun, masalah pendidikan tak kunjung diselesaikan. Pada buku J. S. Khairen yang berjudul Kami Bukan Sarjana Kertas memuat kritik terhadap pratik pendidikan Indonesia selama ini yang dinilai bermasalah. Dalam Novel J. S.Khairen, ia mengisahkan tentang kehidupan para mahasiswa Universitas Eka Daulat Laksana yang biasa disebut UDEL. 
Mereka merupakan orang yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga bangku kuliah. Dengan alasan yang bermacam-macam mereka pun masuk UDEL. Seperti tidak mampu bersaing di kampus negeri, kurangnya biaya dari orang tua, dan beragam masalah lainnya yang menerpa para mahasiswa tersebut.
Pada hari pertama di kampus tersebut, mereka tidak langsung kuliah, tidak pula ospek. Melainkan para mahasiswa tersebut dikumpulkan ke dalam kelas bimbingan konseling hingga  lulus dan menyandang gelar sarjana. 
Dari sinilah kisah 7 mahasiswa tersebut bertemu. Ogi, Randi Jauhari alias Ranjau, Arko, Gala, Sania, Juwisa dan Catharine dipertemukan dalam satu kelompok yang dibimbing Bu Lira, selaku dosen dan anak pemilik yayasan UDEL.
Kelak peran  Bu Lira sebagai dosen konseling yang selalu memberi semangat serta pembelajaran makna kehidupan bagi ke tujuh mahasiswa tersebut menjadi kunci keberhasilan meraka walaupun dengan cara-cara absurd. Seperti menebar tikus dalam kelas jika dilihat tikus itu tidak lebih menjijikan daripada dunia nyata serupa potret yang dicontohkan Bu Lira.
Di sisi lain, Ogi merupakan mahasiswa yang kuliah lantaran keterpaksaan, kalau saja bukan hasil bujuk rayu sahabatnya Ranjau serta Babenya yang hutang emas demi satu bangku di perguruan tinggi. Atas dasar ikut-ikutan pun Ogi mengambil Jurusan Ilmu Komunikasi yang sama dengan Ranjau. Hingga mereka bertemu dengan Arko yang nyatanya satu jurusan jadilah mereka tiga sekawan. Hingga tibalah Ujian Tengah Semester dan Ogi tak mampu mengisi lembar jawabannya. Akhirnya Ogi pasrah dengan hasil IPK 1,83 yang akan di Drop Out apabila tak mencapai 2,50 dalam dua semester. 
 
Kabar IPK Ogi anjlok terdengar sampai ke telinga Bu Lira. Menurut Bu Lira, Ogi hidup  harus seperti kecoak spesies yang bisa bertahan hidup bertahan dari gempuran hal-hal berbahaya. Nasehat tersebut sampai ke relung hati Ogi. Lambat laun Ogi mulai berubah.
Sayang, nasib buruk menimpanya. Ogi malah terpengaruh dengan narkotika. Ia mengkonsumsi narkoba hingga matahari terbit ia baru pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia mendapati Babenya yang telah meninggal dunia. Kejadian ini membuat Ogi merasa terpuruk terhadap masalah yang menimpanya.
Ogi berusaha mengakhiri hidupnya. Namun usaha tersebut digagalkan oleh para sahabatnya. Bangun dari keadaan tersebut, Ogi yang telah DO dari kampusnya melanjutkan hidupnya. Ia bekerja sebagai tukang bengkel untuk menghidupi Emak dan adik-adiknya seperti mendiang Babenya. 
Dari hidup yang semrawut, tak sengaja Ogi bertemu dengan Miral anak rantau yang berkuliah di kampus bergengsi sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi.  Ogi yang sedikit bisa dalam programmer secara otodidak mengajak Miral untuk tinggal di rumahnya dengan balasan mengajarkan semua tentang pengaplikasian perangkat kommputer maupun website. Giat Ogi ini mencapai hasil dengan keahlian tersebut, ia pun diterima perusahaan Alphabet incyang membawahi Google.
Berbading terbalik dengan Ogi, Ranjau yang menyelesaikan kuliahnya hanya butuh waktu tiga setengah tahun. Dia pun lulus paling cepat serta cumlaude di antara teman seperjuangannya. Suatu prestasi yang membanggakan, namun Ranjau merasa tidak puas karena ia tak mempunyai kemapuan serupa Ogi dan Arko. 
Dalam buku ini, J.S Kharen sebagai penulis fiksi mampu mengalirkan cerita tentang fenomena yang dialami mahasiswa serta civitas academika. Drama dalam buku Kami Bukan Sarjana Kertas yang kental dari kehidupan sehari-hari bagi pembaca. Pembawaan setiap karakter yang mempunyai masala pelik sama seperti pernah dialami diri kita sendiri. 

Nurul Dwiana

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Sang Pemberani di Kutolama
Next post Mobile AIS Tak Praktis