Mazhab Ciputat: Dobrakan Baru Pemikiran Islam Indonesia

Read Time:1 Minute, 48 Second

 


Gusdurian Ciputat dan Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) mengadakan diskusi publik yang bertema “Geliat Islam Indonesia: Membaca Islam Mazhab Ciputat”. Acara tersebut diselenggarakan di Aula Madya Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin (29/8) lalu.


Diskusi tersebut mengundang berbagai narasumber, antara lain Program Manager Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad, dan Anggota Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha (LSPEU) Indonesia Fachry Ali.


Dalam diskusi tersebut, Saidiman Ahmad menceritakan tentang Islam saat Orde Baru. Ia mengatakan, Islam tak lagi muncul sebagai suatu kekuatan politik, namun sudah menjadi kekuatan kultural. 


Kemudian, Saidiman menceritakan fenomena unik dari interaksi Islam dengan kelompok lain dalam politik di Indonesia. Fenomena unik tersebut, tuturnya, yaitu selalu ada penurunan minat pada kelompok Islam dibanding kelompok nasionalis.


Saidiman lanjut mengatakan, hal itu terlihat pada pemilu tahun 1999, yakni partai islam memperoleh suara sebanyak 33,73%, sedangkan partai nasionalis sebanyak 57%. Menurutnya, hal itu disebabkan karena sekularisasi yang terjadi di masyarakat muslim. 


“Ini fenomena terjadinya sekularisasi di dalam masyarakat muslim,” tutur Saidiman, Senin (29/8).


Ia pun mengutip teks pidato Nurcholis Majid, salah satunya penggambaran situasi Islam kala itu. Katanya, kegairahan masyarakat tentang Islam saat itu meningkat. Tetapi, kegairahan keislaman masyarakat tidak ingin diformalkan dalam bentuk polemik.


Lalu, Saidiman juga menceritakan tentang perang intelektual Muslim yang terjadi di Ciputat. Menurutnya, hal tersebut tak lepas dari sokongan organisasi-organisasi pembaharuan Islam.


Anggota LSPEU Indonesia, Fachry Ali menjelaskan soal sejarah Islam Mazhab Ciputat, yang Ia gagas bersama Ihsan Ali Fauzi, Bahtiar Effendy, dan Nurcholis Majid. Awal mulanya, pihaknya membuat studi ekonomi-politik untuk meningkatkan demokrasi dari distribusi kekayaan yang relatif rata.  


“Waktu itu saya ngobrol sama Bahtiar, kita kasih nama Mazhab Ciputat saja,” kata Fachry, Senin (29/8).


Lalu, Ihsan ditugaskan oleh Fachry untuk membuat proposal tentang Mazhab Ciputat. Proposal tersebut mengutip dari buku karya Fachry dan Bahtiar, yaitu “Merambah Jalan Baru Islam”.


Fachry juga menjelaskan dasar pemikiran Islam Mazhab Ciputat yang menjadi gagasan pembaharuan. Pertama, tuturnya, kebenaran tidak pernah disentuh secara absolut. Selanjutnya, kebenaran tidak terletak di satu tempat, sebab kebenaran terdapat di masing-masing manusia. Ketiga, struktur hubungan manusia bersifat horizontal dan tidak bersifat vertikal.


Reporter: Febria Adha Larasati

Editor: Haya Nadhira

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Tanpa Dasar Pro-Kontra RKUHP
Next post Main Ricuh Saat PBAK Universitas