Limpahan Rezeki Minuman Jamu

Read Time:2 Minute, 29 Second

Seiring berkembangnya zaman, eksistensi jamu mulai tergantikan dengan berbagai minuman kekinian. Hal tersebut tak menjadi hambatan bagi para penjual jamu di area Ciputat untuk tetap menjalani profesinya. 


Di tengah berkembangnya zaman, eksistensi jamu mulai tergantikan dengan berbagai minuman kekinian. Meski begitu, para penjual jamu tradisional di sekitar Ciputat, Tangerang Selatan terlihat tetap konsisten menjajakan dagangannya. 

 

Ning merupakan salah satu pedagang jamu asal Solo yang mengadu nasib di sekitar kampus. Bekerja sebagai pedagang jamu telah ia jalani selama 21 tahun. Pada tahun 1991 silam, Ning berjualan jamu di area sekitar Bintaro. Kemudian pada tahun 1995, dirinya memutuskan untuk pindah ke Ciputat kala UIN Jakarta sudah mulai ramai. 

 

Awal berjualan, Ning masih membopong bakul jamunya yang berbalut kain batik dengan berjalan kaki. Namun dirinya kini telah beralih menggunakan sepeda ontel. Dengan mengayuh sepeda tuanya, setiap hari Ning berkeliling ke area Masjid Fathullah, Pesanggrahan, hingga Mega Mall Ciputat dari pagi hingga petang. 

 

Sudah menjadi rutinitas Ning untuk berkelana menyambangi pelanggannya yang telah menunggu asupan jamu. Tak hanya menjadi pedagang jamu, Ning juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang pijat dan asisten dapur di sebuah katering masakan solo. 

 

Pada tahun 2014, Ning terpaksa menjadi tulang punggung di keluarganya sebab suaminya yang menderita penyakit gula. Di tahun 2021, anak perempuannya telah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Namun, ia memutuskan untuk tak melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah sebab terkendala biaya.

 

Ning lanjut menceritakan kisahnya, saat itu, sekitar pertengahan 1995, para pedagang masih diperbolehkan untuk memasuki area Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Dari sanalah Ning banyak mengenal para petinggi kampus, seperti Komaruddin Hidayat, Nasaruddin Umar, dan Quraish Shihab. “Sudah seperti keluarga sendiri, setiap hari saya ke rumah Quraish Shihab untuk bawain jamu,” katanya bangga, Minggu (18/12). 

 

Lami merupakan pedagang jamu lainnya yang berasal dari Wonogiri. Saat ini, Lami berumur 53 tahun. Wanita yang akrab dengan sapaan Bude Lami itu sudah berjualan jamu sejak tahun 1985 di Ciputat. Berjualan jamu sejak belia, hingga kini Lami mengaku masih nyaman berkeliling sembari membopong bakul dagangannya. “Kalau naik ontel, saya gak sanggup gowesnya,” kata dia, Selasa (20/12).

 

Membuat jamu menjadi salah satu tradisi di daerah asal Lami. Mempertahankan tradisi sembari mengais rezeki menjadi alasan Lami merantau ke kota besar. Setiap harinya, Lami menjajakan dagangannya saat pagi dan sore hari. Setelah pandemi menerpa, dirinya hanya berjualan dari pukul 7 pagi hingga 11 siang. Saat ini, ia hanya menjual dagangannya ke pelanggan panggilan atau ngapung dalam bahasa jawa.

 

Lami bercerita, pada tahun 1993, dirinya pernah terpilih menjadi perwakilan pedagang perempuan untuk menghadiri acara berjudul “Wanita Karir”. Ia pun merasa bangga, sebab di antara pedagang jamu lainnya, dirinya yang terpilih untuk menghadiri acara tersebut. Di sana, Lami menyajikan jamunya untuk para pengunjung. 

 

Lami berharap, budaya minum jamu mesti dilestarikan. Tak hanya dengan cara tradisional, menurutnya saat ini jamu juga bisa dikembangkan menjadi minuman yang menarik. “Minum jamu itu tidak seperti obat yang ditarget sehari tiga kali, cukup sehari sekali saja,” tandasnya. 

 

Reporter: IHPA

Editor: Haya Nadhira

[/et_pb_text][/et_pb_column] [/et_pb_row] [/et_pb_section]

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Sesar Baribis Ancam Jakarta
Next post <strong>Banyak Penyebab Korupsi Pejabat Publik</strong>