Tak Muncul Jadwal, Kelas Jadi Kacau

Read Time:2 Minute, 17 Second

Mahasiswa terjebak dalam rentetan polemik sistem KRS. Mulai dari tidak tersedianya keterangan waktu hingga benturan jadwal.


Polemik pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKom) menjadi perbincangan hangat mahasiswa. Pasalnya, terjadi perubahan sistem pengisian KRS yang mulanya terdapat kebebasan dalam menentukan kelas menjadi sistem paralel. Namun, tidak ada surat edaran resmi dari Kepala Program Studi (Kaprodi) ataupun Dekanat terkait perubahan tersebut.

Selain perubahan sistem menjadi paralel, mahasiswa turut mengeluhkan tidak tercantumnya jadwal perkuliahan dalam KRS. Hal ini berimbas pada mahasiswa yang memilih kelas secara acak kerap mendapat jadwal bentrok antar mata kuliah.

Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Rakan Daffa menjadi salah seorang mahasiswa yang merasakan hal tersebut. “Jadwalnya tidak langsung ditampilkan, jadi suka dapat kelas yang bentrok,” ungkapnya, Senin (11/3).

Ia juga mengaku tidak mendapat surat edaran resmi terkait perubahan sistem menjadi paralel pada semester baru ini. Hanya ada pesan berantai yang diteruskan di grup WhatsApp terkait perubahan sistem.

Berbeda dengan mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Raihan Naufal yang sejauh ini tidak pernah mengalami benturan jadwal antar kelas. Dalam KRS Fakultas Ushuluddin, sudah tercantum nama dosen, mata kuliah, keterangan waktu, dan ruang kelasnya.

Selaras dengan Raihan, Afreza Choirul Anam belum pernah mengalami permasalahan saat pengisian KRS. “Sudah tercantum nama dosen, mata kuliah, keterangan waktu, dan ruang kelasnya,” jelas mahasiswa Prodi Ilmu Politik itu, Senin (11/3).

Menanggapi polemik yang terjadi pada Prodi KPI, Afreza menegaskan supaya pihak berwenang mengimbau dengan surat edaran dan mencantumkan keterangan jadwal dalam KRS. Hal ini guna menghindari benturan jadwal kuliah.

Wakil Dekan Bidang Akademik FDIKom, Fita Fathurokhmah menyatakan, sistem pengisian KRS merujuk pada Pedoman Akademik Tahun 2021/2022. Mahasiswa dipersilakan mengisi KRS secara mandiri. Namun, seringkali jumlah mahasiswa dalam kelas FDIKom tidak merata.

Fita mengimbau mahasiswa yang ingin menabung atau mengulang mata kuliah, wajib berkonsultasi kepada Dosen Pembimbing Akademik (PA). “Di awal, mahasiswa dibagi secara rata sesuai kelas aslinya, jika masih ada kuota dipersilakan kepada mahasiswa yang ingin menabung atau mengulang mata kuliah,” jelasnya, Rabu (20/3).

Staf Akademik FDIKom, Muhammad Yusuf memberikan alasan terkait tidak adanya keterangan jadwal dalam KRS FDIKom. Dahulu pernah dimunculkan keterangan waktunya, tetapi mahasiswa menjadi seenaknya dalam memilih jam mata kuliah dan dosen.

Sedikit mahasiswa yang memilih kelas pagi sehingga jumlah mahasiswa di kelas siang membludak. “Kebijakan paralel diberlakukan agar kuantitas kelasnya merata dan tidak terjadi benturan jadwal,” tegasnya, Rabu (20/3).

Lanjut, dirinya mengaku tidak menyukai keluhan terkait jadwal bentrok. Terlebih jika hal tersebut terjadi karena perbuatan mahasiswa itu sendiri. “Saya paham betul proses penyesuaian jadwal itu butuh berpikir keras,” kata Yusuf.

Menurut Yusuf, persoalan ini dikembalikan kepada masing-masing prodi. Kaprodi harus mengingatkan Dosen PA supaya memiliki persepsi yang sama dalam pengisian KRS, saat ini sistem kelas dikembalikan menjadi paralel. “Khususnya Prodi KPI,” tuturnya.

Reporter: MSA
Editor: Nabilah Saffanah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Trotoar Terbangai, Pihak Kampus Abai
Next post Tak Tertib Speaker Masjid, Kemenag Minim Sosialisasi