Budaya dan Kebiasaan Orang Sumatra

Read Time:2 Minute, 33 Second

Judul Buku: Hikayat Sumatra

Penulis: Fatris MF

Penerbit: BUKU MOJOK

Tahun terbit: 2021

Cetakan: Pertama

Jumlah halaman: 187 halaman

Buku Hikayat Sumatra menceritakan tentang seorang penulis yang melakukan perjalanan di Sumatra. Melalui buku ini, pembaca dapat mengetahui keragaman budaya dan keahlian masyarakat Sumatra.


Ragam budaya Sumatra dituangkan dalam buku ini. Penulis buku Hikayat Sumatra, Fatris MF, melakukan perjalanan ke kota-kota di  Sumatra sembari mengajukan pertanyaan yang terlintas di kepalanya kepada warga setempat.

Cerita berawal ketika Fatris bertemu seorang polisi bernama Marah Panse yang menangkap saudara seperguruannya bernama Rancak dari ranah Minangkabau. Rancak diceritakan sebagai seorang penjahat yang ahli bela diri. Demi menangkapnya, tidak bisa dilakukan oleh polisi seorang diri. 

Fatris mendatangi pementasan  Silek Art Festival 2018. “Seperti apakah filosofi silat yang sebetulnya?” Pertanyaan ini diajukan Fatris kepada seorang guru silat tua yang ia temui di pementasan bernama Kasurin. Menurut penjelasan Kasurin, silat memiliki filosofi membunuh secara cepat. Silat yang dipertontonkan selama ini disebut tarian atau biasa disebut pencak. Silat sendiri tidak dipertontonkan karena tidak ada batasan memukul untuk silat. 

Kemudian, Fatris juga bertemu Syofyan Nadar yang merupakan guru besar Silat Harimau Singgalang. Syofyan menjelaskan, seni bela diri silat terkesan sulit berkembang secara jurus. Di sisi lain, dirinya melihat silat tersebar di mana saja. Tidak hanya di negeri Minangkabau, silat dapat dijumpai di Semenanjung Malaka, Brunei, dan Cimande. Bahkan, silat dikatakan sudah ada sejak dunia ini berkembang yang dikenal dengan sebutan ilmu berantem

Setelah berjalan menyusuri sejarah silat di ranah Minangkabau, Fatris berpindah dan bertemu masyarakat Talang Mamak di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Masyarakat di sana masih melahirkan dengan meminta bantuan dukun beranak. Janainah, kerap dipanggil Inah, selama tiga puluh tahun, membantu persalinan ratusan bayi. Dukun beranak bukanlah profesi melainkan tanggung jawab yang diemban sampai mati oleh Inah.

Tidak berhenti sampai di situ, Fatris kembali bertualang menyusuri bagian barat Sumatra, tepatnya di Pulau Nias. Dirinya bertemu Ferius Luahambowo, seorang pemandu di Kampung Bawomataluo, Nias Selatan. Nias menjadi tempat terkenal hingga masa kolonial berkat tindakan jual beli budak akibat terlilit utang atau melakukan kejahatan berat. Selain jual beli budak laki-laki, masyarakat Nias memiliki kemampuan yang disebut lompat batu. 

Akhir buku ini menggambarkan kehidupan di dataran tinggi Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi. Selepas singgah di Jangkat, Fatris berjumpa dengan seseorang bernama Mijak Penampung di Bangko, Jambi. Mijak menjelaskan orang Bangko tidak mencari ikan di pasar, tetapi di sungai tanpa menggunakan racun kimia karena itu akan merusak alam. 

Kisah perjalan Fatris dalam Hikayat Sumatra mengajak pembaca untuk mengetahui beragam masyarakat Sumatra dengan budaya dan kemampuan yang berbeda-beda. Fatris memberitahu dalam bukunya untuk tidak perlu takut saat berbicara dengan orang Sumatra karena mereka terbiasa bicara besar dan keras. Hal ini bagaikan adat yang tidak bisa ditinggalkan. 

Buku ini cocok dibaca oleh orang-orang yang ingin mengetahui lebih dalam terkait Sumatra, mulai dari masyarakat, adat istiadat, hingga suasana kehidupan di sana. Namun, penulis menggunakan kata yang sulit dipahami terlebih pada bagian awal buku. Penulis tidak memberikan penjelasan secara terperinci terhadap kata-kata daerah yang digunakan dalam buku ini. 

Reporter: HUC

Editor: Wan Muhammad Arraffi

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Polemik Penutupan Jalan Serpong-Parung
Next post Asesmen Akreditasi Internasional, ASIIN Sambangi UIN Jakarta