
Dari jarak dekat hingga jauh, bersepeda jadi pilihan civitas academica UIN Jakarta untuk sehat, hemat, dan peduli lingkungan kampus.
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, sedari tahun 2024 telah mengambil langkah konkret dalam mewujudkan program green campus. Berbagai macam cara telah diupayakan oleh pemangku kebijakan, diantaranya pemindahan lahan parkir ke Lapangan Triguna, pengadaan bus listrik, serta penyediaan water drinking fountain—-perangkat penyedia air bersih yang siap minum guna mengurangi penggunaan botol plastik oleh civitas academica.
Selain kebijakan dari UIN Jakarta, beberapa mahasiswa dan dosen ikut berpartisipasi dalam melancarkan program green campus dengan caranya sendiri, salah satunya dengan bersepeda menuju kampus. Meskipun tak banyak yang melakukannya, hal itu menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk ikut bersepeda.
Salah satu yang ikut berpartisipasi lewat sepeda adalah Idris Thaha, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Meskipun umurnya tak muda lagi, ia sebisa mungkin menyempatkan diri untuk bersepeda ketika hendak mengajar, setidaknya sekali dalam kurun waktu seminggu. “Saya tidak sering bersepeda, tapi saya usahakan setiap pekan, walau hanya sekali,” tutur Idris, Senin (2/6).
Selain sebagai bentuk partisipasi dalam mewujudkan green campus, ia bersepeda lantaran menyehatkan tubuh serta membuat pikiran menjadi lebih segar. Rabu atau Jumat menjadi hari yang dipilih Idris untuk bersepeda. Hal itu, karena pada hari tersebut jadwal mengajarnya tidak terlalu padat, serta jam masuk pagi tak terlalu dini.
“Kalau tidak hari Rabu, hari Jumat. Saya harus pilih salah satu di antara dua hari tersebut. Saya usahakan sepekan sekali ke kampus naik sepeda,” ucapnya.
Untuk bisa sampai di Gedung FISIP UIN Jakarta, Idris harus mengayuh sepeda dari kediamannya yang berada di Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, sejauh 6,6 kilometer. Perjalanan itu membutuhkan lima belas menit waktu tempuh bila lalu lintas tak begitu padat. Namun, jika lalu lintas cukup ramai, ia bisa menghabiskan sekitar dua puluh hingga dua puluh lima menit waktu tempuh.
Soal parkiran sepeda, menurutnya sudah tersedia di setiap fakultas, khususnya FISP. Hanya saja, sepeda yang terparkir di sana tidak banyak. “Sudah bagus, sudah memadai. Setiap pagi saya lihat ada beberapa sepeda yang terparkir, tapi jumlahnya tak begitu banyak. Juga saya tidak tahu itu milik siapa, entah dosen atau mahasiswa,” katanya.
Bersepeda ke kampus bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga sebagai sarana menyalurkan hobi. Husein Kusumadinata misalnya, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Fisika itu, sudah rutin bersepeda setiap pekan. Katanya, selain sebagai cara berolahraga yang tidak mengganggu waktu kuliah, ia bersepeda karena jarak kampus yang cukup dekat.
“Apa yang saya lakukan sudah termasuk berkontribusi dalam green campus,” kata Husen, Minggu (1/6).
Kediamannya berada di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Saat sepi, butuh waktu enam belas menit untuk menempuh jarak sekitar 6,9 kilometer itu. Meskipun jarak dari rumahnya menuju kampus UIN Jakarta terbilang dekat, Husein tetap menuju kampus lebih dini ketika jadwal mata kuliah lebih pagi. Hal tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri, namun juga sebagai ajang melatih dirinya untuk semakin disiplin.
Keberadaan parkiran sepeda di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK) tak dihiraukan Husein. Alih-alih memarkir sepeda di tempat yang telah disediakan, ia lebih memilih menyandarkan sepedanya pada tiang-tiang Gedung FITK. Hal itu lantaran kabar yang ia terima bahwa parkiran sepeda di FITK sudah tak bisa digunakan. “Saya belum pernah lihat parkiran sepeda di fakultas. Saya sering parkir di dekat tiang-tiang yang berada di fakultas,” ucapnya.
Pengalihan parkiran ke Lapangan Triguna, juga menjadi salah satu alasan Husein lebih memilih bersepeda ketimbang mengendarai motor menuju kampus. Menurutnya, parkir di Lapangan Triguna banyak membuang waktu. “Biasanya, jurusan saya mata kuliahnya pagi terus. Kalau saya naik motor harus parkir di (Lapangan) Triguna, saya malas. Jadi saya lebih pilih sepeda sebagai transportasi menuju kampus,” tuturnya.
Dengan bersepeda, Husein menegaskan, secara tidak langsung dirinya sudah mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh knalpot motor, serta mengurangi intensitas penggunaan karcis yang terbuat dari kertas art paper—-campuran serat kayu dan bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan.
Lain halnya dengan Tsaqib Amru Najy, mahasiswa Prodi Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang bersepeda tanpa motif mewujudkan green campus. Amru bersepeda hanya untuk menyalurkan hobi semata. Bersepeda sudah menjadi kebiasaannya sedari duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu, menurutnya bersepeda juga dapat mengurangi stres dan meningkatkan konsentrasi saat belajar.
“Dulu sewaktu masih SMA sudah biasa bersepeda, jadi pas kuliah mau nyobain rasanya naik sepeda ke kampus,” tutur Amru, Kamis (29/5).
Di samping itu, menurutnya bersepeda bisa meningkatkan rasa kepedulian. Laju sepeda yang tidak secepat motor, membuatnya dapat menikmati suasana dan memperhatikan lingkungan sekitar. “Lebih peduli terhadap lingkungan sekitar ketika saya bersepeda menuju kampus,” kata Amru, Kamis (29/5).
Meskipun hobi bersepeda, Amru tidak dapat melakukannya setiap hari karena rumahnya yang berjarak 40 kilometer dari kampus, tepatnya berada di Bekasi Timur. Kendati demikian, ia selalu menyempatkan bersepeda setiap minggunya lantaran sudah menjadi kebiasaan. “Kalau untuk naik sepeda ke kampus saya lakukan setiap satu minggu sekali, karena jaraknya lumayan jauh, bisa memakan waktu sampai dua jam lamanya,” ucapnya.
Versi cetak artikel ini terbit dalam Tabloid Institut Edisi LXIX dengan judul yang sama.
Reporter : Ilham Hidayat
Editor : Muhamad Arifin Ilham
