Merajut Asa Lewat Melodi

Merajut Asa Lewat Melodi

Read Time:7 Minute, 41 Second
Merajut Asa Lewat Melodi

Tak hanya menjadi penikmat musik, sejumlah mahasiswa menjalin asa lewat alunan melodi. Rangkaian nada membawa mereka pada sebuah tantangan dan peluang, hingga menggapai prestasi. 

Siang itu, Rangga berangkat dari rumahnya di Sawangan menuju Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menghadiri latihan musik sebagai persiapan mengisi gigs di kafe Moonwave. Tepatnya di Studio Pojok Seni Tarbiyah (Postar) lantai dua Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FITK). 

Berangkat pukul 11.00 WIB, Rangga menumpangi ojek online menuju Bojongsari, dan dilanjutkan menumpangi angkot D29 Parung-Ciputat menuju UIN Jakarta. Sesampainya di UIN Jakarta pukul 12.00 WIB, Rangga lekas menuju Studio Postar. Seperti kebiasaannya di studio itu, Rangga yang tiba lebih awal daripada rekan-rekannya, menunggu sembari mengulik Bartolomeo— piano klasik kegemarannya untuk persiapan tampil di sebuah kafe.

“Di kuliah ini aku nemu apa yang aku senang, kayak piano klasik itu aku senang banget. Jadi, aku latihan dengan intensitas tinggi untuk belajar piano itu di kampus. Aku itu gak pernah nongkrong, jujur yang lainnya pada nongkrong aku enggak pernah,” tegasnya, saat dihubungi lewat telepon WhatsApp, Minggu (25/5). 

Tak lama, satu per satu rekan-rekannya datang. Setelahnya, mereka berdiskusi tentang beberapa lagu yang akan dimainkan dalam penampilan itu. Saat  latihan, mulanya mereka mencari repertoar lagu, kemudian Rangga mengonsep aransemen lagu yang akan dimainkan nantinya. Usaha Rangga itu bertujuan untuk mempermudah rekan-rekannya dalam memainkan lagu, misalnya menentukan bagian intro ataupun interlude, baik melodi maupun ritmenya.

“Jadi kemarin itu prosesnya, ya, bagaimana caranya aku harus merubah formasi notenya, segala macam agar mudah dicerna. Spesifiknya yang aku benar-benar tonjolkan itu gitaris, bagaimana caranya mereka itu enggak kagok dan bagaimana caranya agar mereka mudah memainkan note-notenya,” terangnya.

Ketertarikan mahasiswa disabilitas netra Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) itu terhadap musik, sudah muncul sejak ia duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Sejak kecil, ia sudah disuguhkan beragam jenis musik oleh orang tuanya. Melalui Digital Video Disc (DVD), Rangga mulai menggandrungi musik-musik klasik serta film-film musikal. 

“Waktu itu Papa kadang dari kantor suka bawa pulang DVD lagu atau film, suka musik itu dari situ. Jadi, aku tipikal orang yang nonton film itu ikutin alur musiknya, bukan alur ceritanya. Aku suka karakter-karakter suaranya, segala macam scoring film kayak begitu,” terangnya.

Rangga tidak hanya menjadi penikmat musik saja. Saat TK, Rangga juga dibelikan oleh orang tuanya alat musik seperti seruling, drum anak, dan spring drum. Bahkan, ia kerap memperoleh hadiah alat musik dari orang lain. “Waktu itu ada mahasiswa yang mau skripsi tentang anak-anak yang berkebutuhan khusus buat di interview, salah satunya aku. Jadi, setiap selesai main sama aku atau interview, kalau aku menjawab itu dikasih harmonika,” tuturnya.

Masuk pada jenjang Sekolah Dasar (SD) di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Pembina Tingkat Nasional,  Rangga mulai aktif untuk belajar musik. Mulanya, ia mengikuti ekstrakurikuler musik di sekolahnya. Namun, hal itu tak berjalan mulus. Rangga yang saat itu belum fasih bermain alat musik ditunjuk untuk menjadi vokal. “Gara-gara aku belum bisa main alat jadi disuruh nyanyi, sedangkan pas aku disuruh nyanyi suaraku dibilang fals, terus pas anak-anak ngeband aku disuruh pulang duluan begitu,” ungkapnya.

Meskipun Rangga tidak begitu suka bernyanyi, namun ia dapat membuktikan bahwa dirinya mampu. Ia menunjukkan kebolehannya bernyanyi dengan tampil di acara wisuda dan ulang tahun sekolahnya saat masih SD. Kala menginjak tingkat menengah pertama  di sekolah itu, Rangga berkesempatan kembali untuk menyanyi di acara ulang tahun sekolahnya. Lalu,  ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) sekolah itu, ia bernyanyi untuk acara perpisahan.

Di balik bakatnya menjadi penyanyi, asa untuk bisa bermain alat musik tetap ia tekuni. Rangga mulai belajar bermain drum, gitar, bas, serta alat musik tradisional seperti karawitan Sunda yang tersedia di sekolahnya.Rangga juga mengikuti ekstrakulikuler musik sebagai drummer. Untuk menjadi mahir, Rangga juga mulai mengikuti les gitar dan drum di luar sekolah. 

“Di SMP mulai manggung, alhamdulillah aku dipercaya dan aku mendapatkan kepercayaan guru aku itu penuh usaha,” lanjutnya.

 Kegigihan Rangga Capai Prestasi

Dari kelas satu sampai tiga SMP, Rangga mulai aktif mengisi acara musik, seperti perlombaan sekolah, acara formal atau informal sekolah, dan acara formal negara. Seiring berjalannya waktu, Rangga sempat mengikuti dua kali perlombaan, pertama lomba drum se-Jabodetabek dengan gelar juara pertama, kedua lomba drum se-Indonesia. Kala itu, Rangga juga sempat diundang untuk bermusik dalam gelaran Asian Games 2018 di Senayan, Jakarta Pusat. 

Saat berada di kelas satu SMA, kegiatan bermusiknya sempat terhenti akibat Covid-19, baik les maupun ekstrakurikuler. Menginjak kelas dua SMA, ia mulai aktif kembali bermusik.  Saat itu, Rangga mengikuti lomba drum disabilitas se-Pulau Jawa, dan memperoleh juara dua. Selain perlombaan, Rangga kerap kali mengikuti gigs atau live music di beberapa kafe dan mal.

“Aku mulai belajar apa-apa itu di YouTube, dari SMA sampai sekarang. Nada aja aku analisis, aku gak tau teknik dan penempatannya itu sama atau enggak, yang penting nada, pola dan karakter suaranya sama, misalnya kayak gitar,” tuturnya.

Saat memasuki dunia perkuliahan di UIN Jakarta, Rangga diperkenalkan oleh seniornya tentang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Komunitas Musik Mahasiswa (KMM) Riak dan Postar. “Waktu itu sebenarnya aku kuliah incar bisa masuk Postar, berhubung aku belum tau akses jalannya bagaimana ke Riak, aku ke Postar dulu aja. Toh kalau aku masuk Postar nanti bakal kenal anak-anak Riak juga,” terangnya.

Saat ini, Rangga telah menemukan kecenderungannya dalam bermusik, yaitu bermain piano. Kerap kali Rangga berlatih piano di Studio Postar. Hal tersebut sudah ia idam-idamkan sejak kecil, khususnya piano akustik, namun belum terfasilitasi. Sekarang, Rangga dapat berlatih piano itu kapanpun yang ia mau. 

Menjadi musisi bukan perkara yang mudah, bagi Rangga hal itu membutuhkan kreativitas agar dapat menciptakan sebuah karya yang orisinal. Meskipun  bisa menyewa jasa pembuatan lirik lagu, namun akan merogoh kocek yang tidak kecil. Menyiasati hal itu,  Rangga menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk memudahkannya dalam menyusun lirik lagu.

“Kuncinya di musik itu kan adalah kita dicari orang maupun kita mencari orang atau kita dibayar orang maupun kita membayar orang,” jelasnya.

Selain itu, Rangga terkadang masih kesusahan dalam menyesuaikan posisi jari dengan tombol nada (tuts) saat bermain alat musik. “Intinya penentuan posisi jari, tangan, kaki dan mulut itu juga. Tapi spesifiknya jari, main drum juga perlu pergerakan jari, ya,” tuturnya.

Di balik berbagai tantangan yang dihadapinya, menurut Rangga bermusik dapat memberikan  peluang untuk masa depan, terkhusus untuk personal branding. Terlebih lagi, ia memiliki target untuk menjadi produser musik, session player, hingga guru musik. 

Serupa dengan Rangga, Triani, mahasiswa dengan disabilitas netra Prodi Ilmu Perpustakaan juga memiliki ketertarikan terhadap musik sejak usia dini, khususnya bernyanyi. Minatnya bernyanyi timbul kala duduk di bangku TK, melalui lagu-lagu yang ia dengar lewat televisi dan radio. “Dulu tuh suka mendengar lagu-lagu, salah satunya lagu anak-anak kalau di televisi. Kalau di radio, itu suka ikut nyanyi aja,” terangnya saat dihubungi lewat telepon WhatsApp, Rabu (28/5).

Triani menemukan minatnya bernyanyi lewat pelajaran musik ketika menempuh jenjang SD di SLB A Pembina Tingkat Nasional.Tidak hanya bernyanyi, bermain alat musik seperti seruling dan pianika juga ia tekuni. Bahkan Triani sempat mengikuti ekstrakulikuler angklung pada saat itu.  “Melatihnya itu, awalnya sama guru saya di sekolah,” jelasnya.

Saat kelas empat SD, Triani dipilih oleh gurunya untuk mengikuti lomba bernyanyi di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N)—kegiatan tahunan di bidang seni dan budaya yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). “Waktu itu rasanya saya senang dan enggak nyangka banget bisa juara tiga,” tuturnya.

Ketika masuk SMP, hobi bernyanyinya terus diasah. Meskipun Triani tidak mengikuti les atau ekstrakulikuler pada saat itu, asa dalam bernyanyi tetap ia tekuni dengan belajar otodidak, misalnya belajar teknik vibrato dan falseto lewat kanal YouTube. Meski hanya belajar secara otodidak, Triani kerap kali ditunjuk untuk bernyanyi di kegiatan sekolahnya, misalnya perayaan Hari Guru, Masa Pengenalan Lingkup Sekolah (MPLS) dan acara perpisahan. “Dari teman-teman tau saya bisa nyanyi, jadi saya ditunjuk untuk nyanyi,” ungkapnya.

Pada jenjang SMA, minat dan hobi bernyanyinya mulai tersalurkan lewat ekstrakurikuler paduan suara dan les bernyanyi. Kebolehan dalam bernyanyi juga ia ekspresikan dengan mengikuti lomba-lomba di sekolahnya, seperti musikalisasi puisi di Bulan Bahasa dan Sastra, serta lomba menyanyi di Hari Kartini. “Buat lomba-lomba tuh memang mau sendiri, ada juga ikut dua kali lomba tingkat nasional dari Bea Cukai gitu,” katanya.

Sampai saat menempuh pendidikan tinggi di UIN Jakarta seperti sekarang ini, Triani tetap melanjutkan perjalanannya di dunia musik. Kebolehannya dalam bernyanyi pada akhirnya disadari oleh teman-teman sebayanya di kampus. Mereka memberikan respons positif dan menyarankan Triani untuk mengikuti UKM seperti Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UIN Jakarta. Beberapa juga mendorong agar ia mengikuti lomba-lomba di kampus. 

“Jadi waktu itu saya suka iseng nyanyi, nah terus teman-teman pada tau. Tiba-tiba pas ada lomba, nama saya langsung dimasukin,” tuturnya.

Selama perjalanannya dalam bergiat musik, Triani merasa kepercayaan dirinya meningkat. Lewat berbagai lomba yang diikuti, ia menjadikannya sebagai peluang untuk melatih kepercayaan diri tampil di depan banyak orang. Namun demikian, tantangan tak luput hadir di tengah perjalanannya. Saat SMA misalnya, ia kesulitan mempelajari intonasi. Kesulitan-kesulitan itu kerap kali ia rasakan sampai saat ini, terkhusus saat belajar secara otodidak. “Tantangannya tuh kalau belajar nada-nada yang tinggi (falseto), jadi kesulitannya di situ sih,” pungkasnya.

Reporter: Adam Alfarraby
Editor: Rizka Id’ha Nuraini

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Surga Baru Pecinta Kopi dan Literasi Previous post Surga Baru Pecinta Kopi dan Literasi
Konsumerisme dalam Upaya Menuju PTN BH Next post Konsumerisme dalam Upaya Menuju PTN BH