
Oleh: Rikza Anung Andita Putra
DEMA UIN Jakarta hari ini bukanlah suara mahasiswa
Sebagai mahasiswa tahun kedua di kampus Ciputat yang kerap disebut “miniatur Indonesia”, getir rasanya melihat wajah DEMA UIN Jakarta hari ini. Organisasi mahasiswa tertinggi yang seharusnya menjadi simbol demokrasi, kini berubah menjadi panggung pribadi. Kursi presiden mahasiswa kehilangan marwahnya, dirawat hanya demi gengsi dan status kosong.
Sudahlah, stop main pres-presidenan! Stop mempermainkan kursi yang mestinya jadi amanah, bukan mainan kekuasaan. Dua periode mengangkangi jabatan, menghambat regenerasi, menunda pemilwa yang sudah diumumkan sejak Januari, lalu tetap merasa paling berhak atas gelar presma? Itu bukan kepemimpinan, itu pengkhianatan.
Bahkan di hadapan ribuan mahasiswa baru, wajah bobrok ini pernah terbuka lebar. Pada hari kedua PBAK, ketika seluruh UKM berdiri di depan panggung, bukan untuk promosi kegiatan seperti biasanya, melainkan mendemonstrasi DEMA UIN Jakarta secara langsung. Bayangkan! Di panggung yang mestinya jadi ruang perkenalan, justru berubah jadi panggung perlawanan. Bukankah itu sudah cukup jadi tamparan keras? Tapi ternyata, bahkan hal itu belum mampu menggoyahkan kursi kekuasaan yang mereka cengkeram erat-erat.
Lebih menyakitkan lagi, di luar sana Indonesia sedang berdarah. Rakyat turun ke jalan di berbagai daerah: buruh, ojol, mahasiswa, semua menuntut keadilan. Seorang driver ojol bahkan meregang nyawa, ditabrak dengan keji oleh aparat. Pertanyaannya sederhana: apakah matinya satu orang ojol itu belum cukup untuk membuka matamu, wahai DEMA UIN Jakarta?
Saat rakyat berduka, saat mahasiswa di seluruh negeri konsolidasi aksi, DEMA UIN Jakarta justru memilih diam membisu. Tak ada seruan, tak ada koordinasi, tak ada sikap. Seolah mulut mereka disumpal anggaran, proyek, atau seremonial. Bahkan peran menggerakkan massa terpaksa diambil alih oleh Koneksi UIN Jakarta (@koneksi.uinjakarta), sementara DEMA kita sibuk menjaga panggung narsisnya sendiri.
Hari-hari ini, Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Demonstrasi merebak di tiap sudut kota, jalanan penuh lautan manusia yang menuntut perubahan. Negara terasa seperti memasuki stadium akhir, digempur krisis kepercayaan, moral, dan kepemimpinan. Ironisnya, miniatur Indonesia di Ciputat ini pun menirunya: elite yang rakus jabatan, organisasi yang mandul regenerasi, dan mahasiswa yang ditinggalkan tanpa arah.
Inilah wajah tragis demokrasi di kampus pergerakan. Organisasi mahasiswa yang kehilangan moral, kehilangan nurani, kehilangan fungsi. DEMA UIN Jakarta hari ini bukanlah suara mahasiswa. Ia hanyalah bayangan kosong yang sibuk menjaga status “presiden mahasiswa” di bio Instagram.
Dan kita bertanya lagi: berapa lama lagi mulutmu akan bungkam, wahai DEMA UIN Jakarta? Padahal, di luar sana rakyat sedang berdarah, sementara kau masih saja bermain dengan kursi kekuasaan.
*Penulis merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
