Angkot Ngetem sembarangan Ganggu Mobilitas Mahasiswa

Angkot Ngetem sembarangan Ganggu Mobilitas Mahasiswa

Read Time:2 Minute, 14 Second
Angkot Ngetem sembarangan Ganggu Mobilitas Mahasiswa

Kebiasaan Angkot yang mengetem tidak sesuai tempatnya di depan Kampus Satu UIN Jakarta menuai keluhan dari mahasiswa. Keluhan itu berupa sulitnya akses pelican dan kemacetan yang timbul dari kehadiran Angkot yang mengetem.


Kehadiran angkutan kota (Angkot) di depan kampus satu Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengundang keluhan dari mahasiswa. Angkot jurusan D.01 Ciputat-Kebayoran dan S. 10 Ciputat-Pondok Ranji yang terkadang menghalangi pelican crossing saat menunggu penumpang, mengganggu mahasiswa yang hendak menyebrang. 

Pada Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) tertulis, angkot dilarang menaik-turunkan penumpang atau berhenti di sembarang tempat. Angkot hanya diperbolehkan berhenti di halte, atau tempat yang khusus diperbolehkan untuk berhenti seperti yang ditandai dengan rambu parkir biru (P), dilansir dari hukumonline.com.

Ilham, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), kerap mengeluhkan angkot yang menunggu penumpang naik dengan sembarangan saat berangkat kuliah. “Saat naik motor, tiba-tiba ada orang yang menyebrang. Orang yang ingin menyebrang tidak terlihat karena tertutup angkot. Takutnya dia ketabrak,” ujar Ilham, Senin (10/11).

Selain itu, katanya, angkot yang berhenti tiba-tiba juga dapat menyebabkan risiko kecelakaan bagi pejalan dan pengendara lain. “Angkot suka seenaknya, berhenti, belok juga seenaknya. Otomatis pengendara di belakang berhenti mendadak, akhirnya yang belakang ikut nabrak juga,” jelasnya Ilham.

Selaras dengan Ilham, Juanika, mahasiswi PBSI yang  juga merasa terganggu dengan angkot yang berhenti tidak sesuai tempatnya. Katanya, saat hendak menyeberang seringkali terhalang oleh angkot yang menutupi jalan penyeberangan. “Saat mau menyeberang lampu sudah hijau, tiba-tiba ada angkot yang menghalangi. Aku harus menunggu angkotnya lewat, jadi lampunya keburu merah lagi,” ucap Juanika, Kamis (20/11)

Ia berharap para pengemudi angkot memiliki kesadaran lebih untuk berhenti dan menunggu penumpang naik di tempat yang telah disediakan, salah satunya halte. Jika hal tersebut dilakukan, para mahasiswa yang menggunakan kendaraan, maupun yang berjalan kaki tidak merasa terganggu. “Seharusnya mereka sadar, bahwa tindakan ngetem yang dilakukan merugikan orang lain, khususnya pejalan kaki,” ujar Juanika.

Sementara itu, petugas keamanan UIN Jakarta, Rudi Sanjaya mengaku sudah berulang kali menegur sopir angkot yang berhenti tidak pada tempatnya itu. “Sudah sering ditegur, tapi memang dari pihak angkot bandel. Maju sedikit, kita lengah dia balik lagi ke trotoar,” ujar Rudi, Rabu (12/11).

Rudi mengaku pihak kampus sempat memasang spanduk himbauan di depan halte UIN Jakarta agar angkot tidak menunggu penumpang di sana. Namun, spanduk himbauan tersebut sudah hilang. Saat ditanya mengenai rencana tindak lanjut dalam menertibkan Angkot, Rudi menjawab belum ada himbauan dari pihak kampus.

Institut sudah menghubungi Unit Lantas Kepolisian Sektor (Polsek) Ciputat Timur sejak Jumat, 28 November 2025. Namun sampai tulisan terbit, mereka belum memberi tanggapan terkait permintaan wawancara dari Institut.

Reporter: RAA
Editor: Rifki Kurniawan 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Lemahnya Literasi Keuangan Mahasiswa Previous post Lemahnya Literasi Keuangan Mahasiswa
Lambatnya Penanganan Atap Bocor Menjadi Keluhan Next post Lambatnya Penanganan Atap Bocor Menjadi Keluhan