Kerusakan Lift FEB Saat Jam Kuliah

Kerusakan Lift FEB Saat Jam Kuliah

Read Time:2 Minute, 28 Second
Kerusakan Lift FEB Saat Jam Kuliah

Lift FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dilaporkan sering mati pada jam operasional kuliah. Gangguan ini membuat mahasiswa kesulitan mencapai kelas di lantai atas karena tangga darurat penuh oleh mahasiswa yang naik turun. 


Lift di Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kerap mengalami gangguan dan mati saat jam operasional kuliah. Kondisi tersebut menyulitkan mahasiswa yang memiliki kelas di lantai atas karena harus menggunakan tangga darurat yang padat.

Muthia Nuraini Sutrisno, mahasiswi FEB Program Studi (Prodi) Manajemen mengatakan, ia sering melihat lift di fakultasnya yang tiba-tiba mati saat hendak digunakan, terutama saat jam aktif kuliah. “Biasanya dua sampai tiga kali lift tersebut mati dalam seminggu, terutama di jam sibuk sekitar jam satu atau jam dua siang,” ujarnya, Senin (24/11).

Sementara itu, Syahla Khairunnisa yang juga mahasiswa FEB Prodi Manajemen mengeluhkan hal yang sama. Ia menyampaikan bahwa kerusakan lift sudah beberapa kali terjadi sejak kegiatan belajar mengajar dimulai pada September lalu. Ia menegaskan bahwa gangguan tersebut cukup sering terjadi. “Semenjak September sampai sekarang, sudah lebih dari lima kali lift mati saat perkuliahan berlangsung,” ujar Syahla, Senin (24/11).

Syahla merasa kondisi tersebut sangat menyulitkan dirinya sebagai mahasiswa. Sebagian besar kelasnya berada di lantai empat dan lima, saat lift mati, Syahla harus berebut tangga darurat yang sudah padat dengan mahasiswa lainnya. “Kalau liftnya mati, kami harus naik tangga darurat yang penuh orang naik turun, terlebih kalau memang ada kelas yang mepet jadwal nya,” tambahnya.

Asep Sodikin, Teknisi Sarana dan Prasarana menjelaskan, kerusakan lift tidak disebabkan oleh masalah mekanis, tetapi oleh sensor touchscreen yang sangat sensitif. Sensor tersebut dapat terganggu oleh gerakan berlebih dan jumlah penumpang yang melebihi kapasitas optimal. “Lift FEB memang dilaporkan sering mati karena sensornya sensitif, bukan karena mekanis, tapi karena pemakaian yang terlalu berlebihan sehingga sistem safety nya bekerja dan melakukan shutdown sendiri,” ujarnya, Kamis (20/11).

Selain faktor sensor, Asep juga menyebutkan bahwa kotoran seperti debu dan sisa makanan yang menempel di area pintu atau seal lift dapat terbaca oleh sistem sebagai gangguan sehingga memicu sistem proteksi bekerja dan membuat lift berhenti sementara. “Kotoran seperti debu atau biji jeruk biasanya yang sering ditemukan menempel di seal pintu. Itu terbaca sistem sebagai hal yang mengganggu, jadi sistem proteksinya bekerja,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa pengecekan mekanis lift dilakukan setiap minggu melalui daftar pemeriksaan untuk memastikan seluruh komponen mekanis berfungsi dengan baik. “Kami menangani 32 unit lift di seluruh fakultas. Pengecekan lift kami lakukan rutin setiap minggu, monitoring juga dilakukan setiap hari oleh tim kami. Untuk sistem secara keseluruhannya di cek dua minggu sekali bersama pihak vendor,” jelasnya.

Asep menyampaikan bahwa pihaknya mengusulkan modernisasi lift, terutama pada gedung-gedung lama seperti gedung kampus satu. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut tidak hanya untuk satu gedung fakultas saja, tetapi juga mencakup lift di berbagai fakultas, dan telah dimasukkan dalam laporan khusus kepada pimpinan. “Harapannya ke depan ada modernisasi lift. Itu sudah kami buatkan laporannya dan masuk dalam daftar usulan di semua fakultas,” ujarnya.

Reporter: SJF
Editor: Muhammad Arifin Ilham

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Lambatnya Penanganan Atap Bocor Menjadi Keluhan Previous post Lambatnya Penanganan Atap Bocor Menjadi Keluhan
Di Balik Wajah Hijau Geothermal Gede Pangrango Next post Di Balik Wajah Hijau Geothermal Gede Pangrango