Masih Minim Pemilahan Sampah

Masih Minim Pemilahan Sampah

Read Time:5 Minute, 30 Second
Masih Minim Pemilahan Sampah

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah menyediakan tempat sampah organik, anorganik, dan B3 sebagai perwujudan visi “Innovation, Green, Humanity”. Sayangnya, kenyataan di lapangan menunjukan pemilahan sampah yang belum optimal. 


Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menyatakan telah menerapkan green campus. Tujuan diadakannya program itu untuk menciptakan kampus yang ramah lingkungan. Berbagai upaya untuk mendukung program kampus telah dilakukan, seperti bis listrik (bilis), sepeda listrik (selis), dan kampanye pengurangan kendaraan bermotor. Tetapi, program green campus ini belum berjalan secara optimal.

Dilansir dari uinjkt.ac.id, untuk menciptakan kampus yang ramah lingkungan, UIN Jakarta menyongsong satu kategori green campus yaitu pengelolaan sampah. Dalam mengelola sampah, tidak hanya dengan memilah berdasarkan jenisnya, tetapi juga mencakup proses pengolahan, serta pemanfaatan kembali limbah agar dapat digunakan secara berkelanjutan.

Untuk mendorong partisipasi civitas academica dalam memproses pengelolaan sampah, UIN Jakarta menyediakan tempat sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3). Tujuan disediakan tempat sampah dengan kategori itu agar mempermudah proses pemilahan sampah, sehingga masing-masing jenis tidak saling mencemari dan dapat didaur ulang dengan lebih optimal.

Sayangnya, kondisi di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Tempat sampah organik dan anorganik masih bercampur dengan jenis sampah lain sehingga mengurangi kualitas hasil daur ulang dari sampah yang dapat digunakan kembali. Selain itu, masih ditemukan sampah tidak dibuang pada tempatnya dan mengganggu kebersihan ruang publik kampus. 

Koordinator Divisi Lingkungan Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arti Keagungan dan Keindahan Alam (Arkadia) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Naufal Wahab menanggapi, menurutnya program green campus di UIN Jakarta masih jauh dari kata efektif. Masih banyak program green campus yang sebatas program tanpa tindakan tegas dari pihak kampus. “Faktor utama dari pemilahan sampah yang belum optimal tentunya dari kesadaran orang-orang yang beraktifitas di kampus yang masih kurang dan sistem pengelolaan sampah yang belum cukup baik,” ujar Naufal saat diwawancara via WhatsApp, Senin (24/11).

Naufal mengaku, KPA Arkadia sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang kepecintaalaman, belum mendapatkan ajakan untuk ikut terlibat dalam kampanye, edukasi, dan pendampingan terkait pemilahan sampah di lingkungan kampus. Menurutnya, untuk menegaskan pentingnya pemilahan sampah, diperlukan keterlibatan pihak luar, tidak hanya KPA Arkadia.“Ini sangat diperlukan, bukan hanya Arkadia saja tetapi untuk semua sivitas akademika yang memiliki kesadaran, karena untuk mengedukasi dan mengampanyekan tidak bisa hanya dari pihak kampus dan Arkadia saja,” tegasnya. 

Naufal pun melihat, pemilahan sampah masih minim pengawasan, dapat dilihat dari masih bercampurnya jenis sampah organik dengan anorganik. Beberapa kali tak sengaja Naufal menemukan pengangkutan sampah semuanya ditumpuk jadi satu. “Kesadaran dari mahasiswa untuk memilah sampah masih minim sekali, sering tuh di area saung atau gazebo mahasiswa setelah pakai meninggalkan banyak sekali sampah, padahal tak jauh dari saung ada tempat sampah, untuk buang sampah, pun, mereka enggan,” ungkapnya.

Naufal menyebutkan, untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terkait pemilahan sampah, diperlukannya edukasi dan kampanye serta pengawasan ketat agar pemilahan sampah dapat berjalan efektif. “Selain itu, yang paling penting adalah meminimalkan jumlah timbulan sampah di kampus,” tambahnya.

Naufal juga mengungkapkan, jika dirinya dan KPA Arkadia diberikan kesempatan untuk menegakkan green campus, ia akan mencoba membangun dasar bagi seluruh sivitas akademika terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar setiap individu memiliki rasa kepedulian alam yang tinggi. “Selain itu, perlu diadakan riset yang melibatkan berbagai pihak untuk mencari kebijakan seperti apa yang sebaiknya dilakukan, agar tercipta green campus yang optimal. Dan untuk mendukung itu semua tentu perlu pengawasan yang baik,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Green Campus UIN Jakarta, Hendrawati menjelaskan kebijakan pemilahan sampah dan diadakannya tempat sampah organik, anorganik, dan B3 untuk mencegah kontaminasi dan menjaga kualitas sampah. Selain itu, pemilahan sampah juga membantu pihak ketiga yang mengolah sampah untuk didaur ulang agar lebih mudah. “Pengolahan sampah itu tidak bisa disatukan, harus dipisah. Karena, jika sampah yang seharusnya dapat didaur ulang seperti kertas, terkontaminasi dengan sayur atau soto, kertas bekas itu akan kehilangan fungsi dan nilai daur ulangnya. Untuk sampah jenis plastik mungkin masih bisa didaur ulang, tapi butuh effort lebih, dan belum tentu kualitas hasil daur ulangnya maksimal,” jelas Hendrawati saat diwawancara, Rabu (19/11).

Hendrawati menyebutkan, telah melakukan berbagai upaya sosialisasi green campus. Berdasarkan hasil evaluasi, diketahui pemilahan sampah di lapangan belum optimal. Ia menyayangkan rendahnya kesadaran mahasiswa dalam memilah sampah. “Edukasi terkait pemilahan sampah itu sudah diberikan sejak Sekolah Dasar (SD), loh, bahkan Taman Kanak-kanak (TK). Jika membandingkan dengan negara maju lainnya, kita harus berkaca, melihat bagaimana kebiasaan negara maju dalam memilah dan mengolah sampah,” ungkapnya.

Menurut Hendrawati, tanggung jawab memilah dan mengolah sampah merupakan tanggung jawab semua civitas academica. Pihak yang memastikan sampah telah dikelompokkan sesuai kategori adalah pihak teknis yang mengurus pengumpulan dan pengangkutan sampah. “Tapi saya pernah mendapatkan laporan jika saat sampah diangkut ke truk, ternyata masih dicampur jenis sampahnya,” jelasnya.

Hendrawati menambahkan terkait penemuan sampah yang masih tercampur ketika diangkut ke dalam truk butuh konfirmasi lebih lanjut. Ia akan mencoba melakukan inspeksi pengangkutan sampah untuk melihat apakah sampah benar tercampur atau di dalam truk disediakan sekat untuk memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. “Kalau ternyata di truknya masih tercampur, masalah ini akan segera ditindaklanjuti oleh pihak green campus agar program kampus hijau dapat berjalan dengan efektif,” tambahnya. 

Hendrawati mengungkapkan, tantangan terbesar dalam pemilahan sampah terletak pada kesadaran mahasiswa yang masih abai peraturan. Ia sering menemukan mahasiswa masih enggan untuk membuang sampah pada tempatnya, apalagi memilah sampah. “Untuk sanksi, di Kode Etik Mahasiswa disebutkan mahasiswa berkewajiban menjaga lingkungan, nyatanya masih banyak yang belum. Sanksi yang dapat diberikan hanya berupa teguran ataupun sanksi memungut sampah,” tambahnya. 

Untuk mengoptimalkan pemilahan sampah, Hendrawati menyebutkan, akan dimulai dari truk sampah dipastikan memiliki sekat untuk membedakan jenis sampah. Kepada sivitas akademika sejauh ini sudah digelar sosialisasi dan akan terus dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian kepada alam. “Waktu itu ada mata kuliah di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang melakukan tadabur alam, jadi keliling kampus satu sekalian memungut sampah yang ada, saya juga pernah melihat salah satu UKM yang melakukan penuangan cairan ekoenzim ke selokan, mungkin program ini akan dilakukan dan ditambah dengan car free day (CFD) atau Jumat bersih, dan akan terus dilakukan,” ungkapnya.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika terkait pemilahan sampah. Hendrawati mengungkapkan, jika nantinya seluruh sivitas akademika telah mampu memilah sampah dengan baik dan tahapan pemilahan sampah dapat disebut telah selesai, UIN Jakarta akan mendaur ulang sampah secara mandiri. “Dari pihak kampus saat ini sedang tahap awal membangun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Mandiri (TPSTM). Alasannya, bukan untuk menghemat pembiayaan dari pembayaran vendor, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen kampus sebagai pelaksana program green campus,” jelasnya.

Kegiatan sosialisasi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Mandiri (TPSTM) telah dilaksanakan oleh pihak green campus di kampus tiga UIN Syarif Hidayatullah, Bojongsari, Depok, Jawa Barat pada Sabtu, 22 November 2025. 

Reporter: HZ
Editor: Naufal Fauzan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Mahasiswa Keluhkan Kondisi Halte Depan Kampus Satu Previous post Mahasiswa Keluhkan Kondisi Halte Depan Kampus Satu
Trotoar UIN Jakarta Tak Ramah Disabilitas Next post Trotoar UIN Jakarta Tak Ramah Disabilitas