
UIN Jakarta mencanangkan dirinya sebagai kampus ramah disabilitas. Namun, fasilitas trotoar di kampus satu UIN Jakarta masih menyisakan persoalan lantaran belum memiliki guiding block dan ramp.
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta telah mencanangkan dirinya menjadi kampus ramah disabilitas. Komitmen tersebut diperkuat dengan dibentuknya lembaga sosial Center for Students with Special Needs (CSSN) atau Pusat Layanan Disabilitas yang bertugas menangani pelayanan para penyandang disabilitas. Tak hanya itu, Kode Etik Mahasiswa Pasal 15 ayat 1 juga menjamin hak mereka untuk menerima layanan akademik dan administrasi yang setara dengan mahasiswa lainnya.
Menurut laporan antaranews.com, idealnya trotoar memiliki lebar minimal tiga meter agar mampu mengakomodasi tingginya jumlah pejalan kaki. Kemudian, bahan yang digunakan untuk membuat trotoar disarankan memiliki tekstur yang kasar guna menghindari insiden pejalan kaki yang terpeleset. Serta desain trotoar ramah untuk penyandang disabilitas.
Sementara itu, melansir dari jurnal widyakartika.ac.id, desain trotoar dapat dikatakan ramah disabilitas jika memiliki jalur landai dengan lebar, kemiringan, dan ketinggian rendah. Hal itu guna memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi pengguna kursi roda. Trotoar juga perlu dilengkapi guiding block agar penyandang disabilitas netra dapat mengetahui arah serta menggunakan jalur dengan aman. Namun, berdasarkan pengamatan Institut, Rabu (29/10), fasilitas tersebut belum terpenuhi, khususnya pada trotoar di kampus satu.
Arundya Rangga Wirabumi, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) penyandang disabilitas netra, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), mengeluhkan langsung hal tersebut. Ia mengaku kesulitan mengakses trotoar akibat kondisi trotoar yang berlubang dan terputus. Padahal, dirinya cukup aktif berkegiatan di gedung Student Center (SC). “Di tengah-tengahnya tiba-tiba ada selokan dengan teralis besi yang tidak menutupi secara sempurna,” kata Rangga saat diwawancara via telepon, Minggu (2/11).
Menurut Rangga, untuk menciptakan trotoar yang inklusif, pihak kampus perlu membuat jalur landai (ramp) untuk kursi roda. Selain itu, kampus perlu menurunkan ketinggian trotoar di jalur tersebut agar penyandang disabilitas daksa lebih mudah mengaksesnya. Ia menambahkan, UIN Jakarta perlu upgrade trotoar dengan memasang penanda arah berupa guiding block agar penyandang disabilitas netra seperti dirinya dapat mengetahui kapan harus belok atau berhenti.
Rangga membandingkan trotoar yang ada di kampus satu dengan trotoar lain yang dinilainya lebih ramah disabilitas. Ia menyebut trotoar dari Lebak Bulus sampai Sudirman sudah dilengkapi dengan guiding block. Selain itu, lebar trotoar sudah luas dan tersedia jalur landai, sehingga aksesibel untuk pengguna kursi roda. “Di kampung aku, tepatnya jalan Malioboro, Yogyakarta, aku menemukan trotoarnya sudah dilengkapi dengan guiding block dan jalur landai,” jelasnya.
Keluhan serupa juga dirasakan oleh Muhammad Syauqi Al Ghifari, mahasiswa Fakultas Ushuluddin (FU), Prodi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir (IAT) penyandang disabilitas netra. Ia menyatakan trotoar kampus satu belum aksesibel untuk teman difabel. “Tentu kami sering menggunakan trotoar, apalagi saat menuju pintu doraemon (pindor), tetapi aksesnya tidak inklusif karena jalurnya yang sempit, berlubang, dan tidak ada jalur khusus netra,” ujar Syauqi saat diwawancara via telepon, Senin (3/11).
Syauqi menilai banyak hal yang harus dibenahi dari fasilitas disabilitas di kampus satu. Ia menyoroti trotoar yang sempit dan kurang lengkapnya fasilitas penunjang disabilitas. “Trotoarnya harus dilebarkan lagi dan dibuat jalur disabilitasnya seperti guiding block dan ramp, serta diberikan space untuk teman normal,” tegasnya.
Syauqi turut membandingkan trotoar yang ada di kampus satu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan kampus lain yang menurutnya sudah ramah disabilitas. Ia menyoroti fasilitas di UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta yang trotoarnya sudah aksesibel untuk penyandang disabilitas. Fasilitas disabilitas yang disediakan UIN Suka sudah terpasang dari gerbang hingga pintu-pintu setiap fakultas. “Tidak hanya UIN Suka, deh, Universitas Pamulang (Unpam) yang notabenenya kampus swasta kenapa bisa lebih perhatian dengan penyandang disabilitas, fasilitas disabilitas mereka sudah ramah menurut aku, sudah aksesibel,” tambahnya.
Dengan demikian, mereka berharap UIN Jakarta dapat dengan segera mengatasi masalah yang dirasakan oleh mahasiswa penyandang disabilitas. Berdasarkan pernyataan Syauqi, permasalahan ini sudah lama disoroti tetapi belum ada tanggapan secara jelas dari pihak kampus. “Semoga kampus UIN Jakarta bisa jadi kampus yang inklusif untuk teman disabilitas, dan lebih banyak mendengarkan suara mahasiswa disabilitas,” harapnya.
Kepala Bagian Umum, Arif Rahman menanggapi komentar tersebut, ia menjelaskan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki komitmen untuk melengkapi setiap gedung baru dengan fasilitas yang ramah disabilitas. Komitmen ini didukung dengan hadirnya lift untuk penyandang disabilitas di Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) dan Fakultas Psikologi (FPsi). Jalur pedestrian khusus penyandang disabilitas juga sedang dibangun dari pintu masuk kampus satu dan akan diteruskan hingga pintu keluar kampus.
“Akses jalan untuk penyandang tunanetra akan ditambah dan diperbaiki, jalur ini akan dimulai dari area turunnya mahasiswa yang menggunakan kendaraan umum hingga ke setiap fakultas sehingga memudahkan teman-teman disabilitas netra untuk berjalan dengan aman dan nyaman,” ungkap Arif saat diwawancara via WhatsApp, Minggu (9/11).
Ia mengungkapkan alasan trotoar belum ramah disabilitas dikarenakan proses revitalisasi dilakukan secara bertahap menyesuaikan anggaran. Kedepannya, trotoar lama akan direvitalisasi dan disesuaikan dengan standar jalur pedestrian ramah disabilitas. “Revitalisasi trotoar sudah dimulai tahun ini di area pintu masuk, halaman rektorat, dan area pasca sarjana. Insya Allah tahun depan program ini akan dilanjutkan ke seluruh area kampus,” katanya.
Arif menjelaskan untuk memantau fasilitas disabilitas tetap dalam kondisi yang baik, dilakukan pemeliharaan dan perawatan fasilitas disabilitas yang telah tersedia. Perawatan fasilitas disabilitas dilakukan secara periodik oleh tim teknis dari Bagian Umum atau dari unit kerja seperti fakultas, pascasarjana, dan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT). Ia mengimbau, mahasiswa dan sivitas akademika untuk melapor melalui layanan pengaduan simantra.id jika menemukan kerusakan pada fasilitas agar segera ditindaklanjuti.
Kemudian, ia mengklaim bahwa CSSN merupakan mitra strategis dalam upaya pelatihan pemberian layanan disabilitas. Maka dari itu, UIN Jakarta dan CSSN berkolaborasi dalam melakukan asesmen kebutuhan, pelayanan disabilitas, dan memonitoring seluruh fasilitas dapat digunakan oleh penyandang disabilitas. Melalui kerjasama tersebut, saat ini UIN Jakarta memiliki kursi roda khusus yang dapat digunakan untuk naik tangga. “Toilet yang aksesibel juga mulai dibangun untuk memastikan penyandang disabilitas dapat menggunakan fasilitas kampus dengan nyaman dan mandiri,” tutur Arif.
Reporter: HZ
Editor: Naila Asyifa
