
Oleh: Barkah Maulida Sakinah
Perkembangan pesat teknologi di era digital membawa perubahan besar terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan mahasiswa. Akses internet yang mudah, serta munculnya media sosial dan hiburan digital membuat mahasiswa memiliki ketergantungan terhadap gawai. Salah satu akibat yang cukup menonjol adalah fenomena meningkatnya kebiasaan begadang di kalangan mahasiswa. Mereka begadang untuk menyelesaikan tugas akademik atau menghabiskan waktu bermain gawai.
Begadang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti yaitu, berjaga tidak tidur sampai larut malam. Fenomena tersebut semakin terasa di kalangan mahasiswa, termasuk mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta terutama saat memasuki pekan-pekan Ulangan Akhir Semester (UAS). Jadwal ujian yang padat, tugas akhir semester yang menumpuk, serta berbagai tenggat dalam waktu bersamaan. Kondisi ini membuat malam hari dianggap mahasiswa sebagai satu-satunya waktu yang aman untuk menyelesaikan semua tuntutan akademik, meskipun harus mengorbankan waktu istirahat sendiri.
Kebiasaan begadang yang awalnya dianggap sepele, namun dapat menimbulkan berbagai dampak buruk. Tidur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan fisik dan psikologis manusia. Kurangnya waktu tidur dapat berdampak pada kesehatan mental, kestabilan emosi, kemampuan berpikir, serta efektivitas dalam menjalankan suatu aktivitas. Ketika kebiasaan begadang dilakukan secara terus menerus, dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi dalam jangka waktu yang panjang.
Melansir halodoc, kaitan antara kurang tidur dengan kesehatan mental cenderung kompleks, karena keduanya saling berkaitan satu sama lain. Misalnya pada kasus insomnia yang memperburuk kondisi mental seseorang. Di sisi lain, stres yang dialami seseorang bisa memicu kurang tidur. Dampak negatif kurang tidur bagi kesehatan mental, yaitu emosi, depresi, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan hiperaktivitas, gangguan bipolar, dan gangguan kecemasan. Kebiasaan begadang juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung.
Selain berdampak pada kesehatan, begadang juga membentuk pola kebiasaan yang sulit dihentikan. Malam hari digunakan untuk menyelesaikan tugas atau mengakses hiburan digital, sementara pada siang hari lebih sering dalam kondisi lelah dan menjadi kurang fokus. Akibatnya, pekerjaan kembali tertunda dan begadang kembali terulang seperti itu terutama pada masa perkuliahan yang sangat padat.
Oleh karena itu, disiplin terhadap waktu tidur perlu menjadi perhatian serius. Produktivitas tidak ditentukan oleh seberapa lama seseorang terjaga di malam hari, melainkan oleh kemampuan mengelola waktu secara efektif. Di tengah tuntutan akademik yang padat terutama pada masa pekan UAS, istirahat yang cukup justru menjadi fondasi penting agar tubuh dan pikiran tetap optimal. Karena itu, di era digital yang serba cepat ini, menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik, hiburan digital, dan waktu istirahat bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan yang harus disadari
*Penulis merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
