
Sejumlah fasilitas kerap mengalami kerusakan sehingga menghambat aktivitas belajar mahasiswa. Di sisi lain, UIN Jakarta gencar menghadirkan fasilitas baru seperti kendaraan listrik, taman, serta penginapan komersial. Hal itu terlihat kontras dengan kebutuhan renovasi.
Menurut liputan Institut dengan tajuk Lift FST Bermasalah, Hambat Aktivitas Mahasiswa, Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubbag TU) Abdul Halim Mahmudi menyebut semua gedung di Kampus 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sudah berdiri sejak 2002. Menginjak usia 23 tahun, membuat sejumlah gedung kerap mengalami kerusakan. Beberapa fasilitasnya tidak berfungsi secara optimal, terutama di ruang belajar.
Misalnya, salah satu lift di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dan Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang kerap bermasalah ketika digunakan oleh civitas academica. Beberapa kali lift tersebut mendadak mati sehingga tidak bisa digunakan. Terkadang tombol lift juga kurang responsif. Kerusakan tersebut menimbulkan keluhan dari civitas academica karena menghambat aktivitas akademik mereka.
Kerusakan juga terjadi di Perpustakaan Utama (PU) lama yang menjadi ruang kelas dan ruang dosen untuk Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) serta Fakultas Ushulu6din (FU). Melansir liputan Institut dengan judul Keluh Kesah Kondisi PU Lama, loteng lobi, sejumlah kelas, dan kamar mandi di PU lama mengalami kebocoran. Kebocoran itu menjadi sorotan salah satu mahasiswa yang membandingkan kecenderungan kampus menanam pohon ketimbang merenovasi gedung PU Lama.
Tak hanya itu, berdasarkan liputan Keluh Kenyamanan Musala Fakultas Ushuluddin, terdapat musala di lantai lima FU yang berada dalam kondisi kurang terawat. Salah satunya masalah tersumbatnya saluran pembuangan air. Hal tersebut mengganggu kenyamanan mahasiswa yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Terlebih tidak hanya mahasiswa FU yang memanfaatkan fasilitas tersebut, tetapi mahasiswa FDIKOM juga turut menggunakannya.
Kampus 1 UIN Jakarta diperuntukkan bagi Gedung Rektorat, PU, Student Center (SC), serta beberapa gedung fakultas untuk kegiatan akademik. Gedung untuk aktivitas akademik meliputi gedung FDIKOM, Fakultas Ushuludin (FU), Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), serta PU lama.
Ananda Rahmat Hidayat, adalah satu dari mahasiswa yang merasa tidak puas dengan fasilitas di fakultasnya. Menurut mahasiswa FDIKOM itu, fasilitas penunjang aktivitas akademik seperti kamar mandi dan ruang kelas kerap bermasalah.
“Kurangnya kalau di FDIKOM ini cukup banyak, mulai dari fasilitas sentral seperti kamar mandi yang airnya tidak ada, serta sanitasinya dan kebersihannya yang buruk. Selain itu, paling saya sayangkan adalah kurangnya ruang kelas di FDIKOM itu sendiri, berbanding terbalik dengan jumlah mahasiswa yang masuk,” keluh Nanda, Kamis (20/11).
Ia juga menyoroti peralatan seperti proyektor dan air conditioner (AC) yang sudah tidak optimal. Menurutnya, AC di beberapa kelas tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, ia juga menuturkan proyektor di beberapa kelas sering tidak berfungsi sehingga mengganggu aktivitas perkuliahan.
“Seharusnya pihak kampus ini berimbang dalam menjalankan programnya. Bukan hanya di satu program seperti Green Campus dan meminggirkan fasilitas sentral di gedung-gedung fakultas. Menurut saya itu tidak bijak sih,” terang Nanda.
Sementara itu, Syawal, Senat Mahasiswa Fakultas (SEMA F) FST menjelaskan, beberapa fasilitas di fakultasnya sudah mengalami revitalisasi. Namun, belum ada jawaban pasti dari pihak Dekanat FST, katanya, menyoal revitalisasi keseluruhan fasilitas di fakultas itu.
Meski begitu, SEMA-F FST sudah melakukan inisiasi melalui Komisi Aspirasi untuk melakukan penyaringan aspirasi dari delapan himpunan mahasiswa di FST pada September. Kemudian, hasilnya disampaikan ke dekanat untuk dirapatkan di forum aspirasi bersama Wakil Dekan (Warek) 3 bidang kemahasiswaan pada Oktober.
“Setelah itu kita melakukan penjabaran aspirasi kita, beliau juga menjabarkan apa saja kendalanya, terus apa saja program yang sudah jalan dan program yang ingin berjalan ke depannya,” terang Syawal, Jumat (21/11).
Berdasarkan keterangan Wadek 3 FST dalam forum itu, tujuh puluh persen fasilitas di FST sudah direvitalisasi dan dibenahi. Misalnya, pembaharuan beberapa kelas yang semulanya sistem proyektor menjadi tv (smart class), pembenahan ruang teater, toilet, dan pengadaan coworking space di beberapa lobi FST. Sedangkan tiga puluh persen fasilitas yang tidak direvitalisasi meliputi fasilitas di Pusat Lab Terpadu (PLT).
Melansir dari liputan Institut bertajuk Tak Tersorot, Fasilitas PLT Perlu Dibenahi, beberapa fasilitas di sana sudah seharusnya mendapat pembaruan. Di antaranya seperti sebagian komputer tidak bisa tersambung ke jaringan sehingga menyulitkan proses pembelajaran. Peralatan kimia di lantai tiga PLT seperti tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet ukur, buret, mortar dan alu juga memerlukan perawatan. Selain itu, pendingin ruangan di beberapa ruang laboratorium kimia, teknik pertambangan, dan biologi tidak berfungsi dengan baik.
Menanggapi hal itu, Syawal memperingatkan agar kampus memiliki kesadaran terkait kenyamanan mahasiswa sebagai penunjang kegiatan akademik. “Calon mahasiswa yang nantinya akan masuk UIN Jakarta, ketika mengetahui tentang kurangnya fasilitas yang membuat mereka tidak jadi masuk ke UIN Jakarta, justru kampus itu sendiri yang akan terdampak,” keluh Syawal.
Di tengah keluhan mahasiswa terkait fasilitas di fakultasnya, UIN Jakarta justru menghadirkan sejumlah fasilitas di Kampus 1 untuk mendukung program Rektor Asep Saepudin Jahar, yaitu Green Campus. Melansir uinjkt.ac.id, UIN Jakarta menghadirkan fasilitas Bus Listrik (Bilis) pada tahun 2024 sebagai komitmen kampus dalam mewujudkan konsep Green Campus. Pihak kampus mengklaim hadirnya Bilis sebagai transportasi internal kampus untuk mengurangi emisi karbon di kampus 1.
Selain Bilis, melansir Tiktok @uinjktofficial, UIN Jakarta juga menghadirkan mobil kebersihan dengan nama Bilas untuk mendukung program Green Campus. Berdasarkan video tersebut Bilas merupakan inovasi mobil kebersihan yang dirancang khusus untuk membantu proses pembersihan di lingkungan kampus UIN Jakarta.
Berbanding terbalik dari hadirnya bangunan lama yang tak kunjung direvitalisasi itu, UIN Jakarta justru kerap kali menghadirkan fasilitas baru dengan dalih inovasi.
Misalnya mengutip d2ari laman uinjkt.ac.id, UIN Jakarta resmi meresmikan ADIA Suites, sebuah fasilitas penginapan dengan standar layanan tinggi setingkat bintang tiga yang dapat digunakan oleh civitas academica maupun masyarakat luas. Selain itu, UIN Jakarta juga menambah fasilitas baru seperti tempat parkir sepeda listrik, serta taman-taman berbeton yang menggantikan beberapa Ruang Terbuka Hijau (RTH) alami.
Terbaru, menyadur uinjkt.ac.id, pada Senin (29/12) UIN Jakarta meresmikan tiga taman sekaligus yang terletak di lokasi berbeda. Ketiga taman tersebut termasuk UIN Corner Park yang terletak di samping Gedung FITK, kemudian Taman Cinta UIN di depan Gedung Rektorat, dan Taman Pintu Masuk UIN.
Pada hari yang sama, UIN Jakarta juga menyebarkan informasi peresmian taman itu lewat akun Instagram resmi @uinjktoffficial. Unggahan itu mendapat ragam reaksi dari publik. Sejumlah pemilik akun Instagram mengapresiasi, sedangkan beberapa lainnya memberi catatan agar UIN Jakarta tidak melupakan renovasi fasilitas kampus.
“Jangan lupa fasilitas kampus lain, ya, seperti trotoar, toilet, dan sebagainya. Tidak hanya cantik di luar, tapi di dalam juga, Min,” tulis salah satu akun Instagram, Senin (29/12).
Halim menjelaskan, adanya fasilitas baru di UIN Jakarta untuk mengakomodasi peningkatan jumlah mahasiswa baru. Menurutnya, jumlah mahasiswa baru pada tahun 2025 melonjak banyak sehingga perlu diakomodasi.
Halim juga menyangkal tuduhan kecenderungan UIN Jakarta membuat fasilitas baru ketimbang merenovasi beberapa gedung lama. Ia menjelaskan, setiap tahun UIN Jakarta selalu melakukan renovasi secara bertahap terhadap fasilitas di gedung-gedung tua. Meski demikian, Halim membenarkan adanya keterkaitan pengadaan fasilitas baru di UIN Jakarta dengan Program Rektor Asep Saepudin Jahar, yakni melalui percepatan pengadaan fasilitas berbasis Green Campus.
“Alhamdulillah kami di tahun ini sudah renovasi kamar mandi di hampir setiap fakultas, jadi kalau kalian lihat di fakultas-fakultas itu kamar mandinya itu sedang direnovasi untuk kenyamanan mahasiswa,” jelas Halim, (28/11).
Selain itu, Halim menerangkan rencana UIN Jakarta untuk merenovasi beberapa gedung lama seperti gedung PU lama. Menurut rencana yang dijelaskan Halim, pada tahun 2026 atap lobi gedung PU lama akan direnovasi total secara bertahap. “Untuk lift dan fasilitas lain akan segera kami ganti dengan yang baru secara bertahap,” ujar Halim.
Kemudian, menyoal pembenahan fasilitas yang telah usang, Halim menjelaskan hal tersebut tak luput dari laporan beberapa mahasiswa lewat sosial media. “Jadi mahasiswa selama ini kan sering viral di Tiktok, bagi kami kritik mahasiswa itu bagus dan saya senang, karena ada checks and balance atau masukan yang konstruktif untuk UIN yang lebih baik lagi,” terangnya.
Versi cetak artikel ini terbit dalam Tabloid Institut Edisi LXX dengan judul yang sama.
Reporter: Adam Alfarraby, Rifki Kurniawan
Editor: Muhammad Arifin Ilham
