Melatih Nyali, Merawat Tradisi

Melatih Nyali, Merawat Tradisi

Read Time:2 Minute, 11 Second
Melatih Nyali, Merawat Tradisi

Seni bela diri Debus tengah berjuang menjaga eksistensi di era digital sebagai simbol keberanian dan identitas budaya lokal asal Banten.


Debus memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bermula dari abad 16 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin sebagai media dakwah Islam. Mengutip dari laman bantenprov.go.id, pada era Sultan Ageng Tirtayasa 1651–1682, fungsinya berkembang menjadi pemantik semangat rakyat Banten untuk melawan penjajah Belanda. 

Debus dinilai sangat layak untuk mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) merujuk laman unesco.or.id. Namun, memasuki zaman modern debus kini tengah berjuang mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran tren modern dan dominasi hiburan layar ponsel.

Eli Pakel, pemilik sanggar debus Yayasan Hidayatul Anwar, menjelaskan pelestarian Debus memiliki tantangan besar, karena debus penuh dengan misteri dan trik yang harus dipelajari dengan benar. Eli menekankan pentingnya menjaga tradisi Debus sebagai ilmu bela diri agar tidak hanya menjadi sekadar tontonan. “Saya mempertahankan seni tradisi bukan hanya untuk kreasi. Kalau kreasi itu lebih ke festival gitu kan. Nah, Saya mempertahankan ilmu-ilmunya juga agar terus bermanfaat untuk bela diri,” ujar Eli, Senin (9/2).

Melalui Yayasan Hidayatul Anwar, Eli membina 37 padepokan, dengan anak didik berusia variatif dari yang muda sampai tua, di wilayah Pandeglang, Banten. Ia menceritakan debus di padepokannya sudah diturunkan secara turun-temurun oleh para leluhurnya. Upaya Eli dalam pelestarian debus menarik perhatian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kementerian memberikan bantuan Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) yang digunakan untuk mendukung operasional padepokan.

Harapan besar untuk menjaga estafet budaya ini kini berada di pundak generasi muda seperti Widianingsih. Baginya, belajar debus adalah cara mengasah mental dan keberanian. “Motivasi saya untuk belajar debus awalnya karena penasaran, ingin belajar lebih dalam, dan ingin mengetahui debus sendiri. Selain itu, untuk melatih keberanian saya dan belajar ilmu bela diri,” ungkapnya saat diwawancarai, Minggu (8/2).

Widianingsih mengakui, adanya tantangan sosial seperti komentar negatif, tetapi Ia tetap bangga menjadi bagian dari pelestari debus. Ia berpesan kepada generasi muda sebayanya agar mengikuti jejak dirinya melestarikan Debus. “Jika sebagian orang menganggap debus menakutkan. Maka jangan takut karena debus hanyalah permainan, yang dimainkan oleh pemain terlatih dan tidak boleh untuk ditiru tanpa memiliki keahliannya,” ujarnya.

Adang Surya, warga asal Pandeglang menjelaskan Debus merupakan himpunan dari semua permainan menggunakan senjata tajam, seperti golok, almadad, tombak, jarum, dan lainnya. Adang meyakini, minat anak muda terhadap debus akan tumbuh jika mereka berani mencoba.

“Generasi muda sekarang kebanyakan malu, soalnya belum pernah terjun ke dunia seni. Kalau kita sudah terjun ke dunia seni mungkin tertarik juga, dan debus ini akan semakin lestari,” ujarnya, Minggu (8/2).

Reporter: TAR
Editor: Naufal Fauzan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Keluh Efektivitas Kebijakan Kuliah Daring  Previous post Keluh Efektivitas Kebijakan Kuliah Daring