Pemasangan Tiba-tiba, Tanpa Aba-aba 

Pemasangan Tiba-tiba, Tanpa Aba-aba 

Read Time:3 Minute, 43 Second
Pemasangan Tiba-tiba, Tanpa Aba-aba 

UIN Jakarta melengkapi program Green Campus dengan pengadaan PLTS. Namun, pengadaan PLTS yang tiba-tiba di tengah efisiensi anggaran, menimbulkan pertanyaan di kalangan mahasiswa.  


Semenjak pertengahan Juli 2025, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada gedung Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Hal tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan mahasiswa karena tidak ada informasi yang diberikan oleh pihak fakultas atau pun universitas terkait pemasangannya. Selain di FST, kampus juga memasang PLTS pada Gedung Rektorat, Auditorium Harun Nasution, dan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).

PLTS atap berkapasitas 270,17 kWp merupakan salah satu pendukung program green campus yang telah direncanakan oleh tim green campus UIN Jakarta sejak tahun 2020. Namun baru terealisasi pemasangannya pada tahun 2025. Dalam pengadaannya, UIN Jakarta bekerja sama dengan perusahaan pengelola PLTS, PT Agra Surya Energi lewat mekanisme penyewaan jangka panjang selama lima belas tahun.

Unggahan video dari akun instagram @mhafidzerr pada tanggal 16 Juli 2025 memperlihatkan kegiatan pemasangan PLTS di gedung FST. Muhammad Hafidz Rizky Rahmawan, mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Informatika, pemilik akun tersebut mengatakan bahwa pemasangan PLTS adalah langkah yang baik. Sebab, UIN Jakarta mengambil pemasangan PLTS tersebut sebagai sewa jangka panjang, dan setelah itu akan menjadi milik UIN Jakarta sepenuhnya. 

Berdasarkan informasi dari uinjkt.ac.id, mahasiswa dengan sapaan Awan itu melakukan riset tentang pengadaan PLTS di UIN Jakarta. Penelusurannya itu menunjukkan, kerja sama pembelian daya (Power Purchase Agreement/PPA) lewat skema sewa–beli selama 15 tahun dengan PT Agra Surya Energy, tidak membuat UIN Jakarta mengeluarkan dana investasi awal yang besar untuk pemasangan PLTS. Sebaliknya, dana yang dikeluarkan oleh UIN Jakarta hanya dalam bentuk pembayaran operasional secara berkala, seperti tarif listrik yang disepakati, yang umumnya lebih rendah dari tarif listrik konvensional.

Setelah masa kontrak 15 tahun berakhir, sistem PLTS akan sepenuhnya menjadi milik UIN Jakarta, yang berarti universitas akan mendapatkan manfaat energi gratis dan berkelanjutan selama sisa umur teknis PLTS, yang umumnya mencapai 27 tahun. Biaya operasional dan pemeliharaan selama masa sewa juga umumnya ditanggung oleh PT Agra Surya Energy dan sudah termasuk dalam tarif PPA yang dibayarkan.

Menurut Awan, selama pemasangan PLTS tidak menuntut efisiensi berlebih pada fasilitas, hal itu adalah proyek yang bagus untuk fakultas, terutama UIN Jakarta sendiri. Meskipun memang banyak fasilitas fakultas yang memerlukan perbaikan. “Kalau tidak ada efisiensi aneh-aneh lagi, pemasangan PLTS ini menurut saya proyek yang positif untuk mendukung program green campus,” jelas Awan, Senin (28/7).

Mahasiswa Prodi Teknik Informatika, Arian Nathan menjelaskan, ia juga sempat datang untuk menanyakan terkait PLTS yang dipasang kepada dekanat FST. Berdasarkan pengakuaannya, pihak dekanat, terkhusus Kepala Bagian Umum (Kabag Umum) FST, pun, tidak mendapatkan informasi terkait pemasangan PLTS tersebut. “Jadi, bener-bener pemasangan PLTS di FST itu atas dasar perintah dari atas atau pihak universitas,” ujar Nathan saat diwawancarai, Selasa (22/7).  

Sebagai mahasiswa, ia merasa kaget dan bertanya-tanya ketika adanya pemasangan PLTS tersebut. “Karena kan tajuknya sedang terkena efisiensi. Banyak pengurangan dana yang menyebabkan banyaknya pengurangan dan pembatasan kegiatan, tapi kok tiba-tiba memasang PLTS, dan tidak ada kejelasan atau informasinya juga,” ucapnya.

Ketua Green Campus UIN Jakarta, Hendrawati menjelaskan, pembahasan awal program PLTS sudah dimulai sejak tahun 2020. Pembahasan awal hanya melibatkan beberapa pihak di FST karena instalasi dari PLTS tersebut berkaitan dengan bidang sains. “Jadi, semua pihak dilibatkan. Namun, karena fokusnya di bidang sains, banyak pihak yang menawarkannya ke FST,” ujar Hendrawati, Senin (28/7).

Ia pun menjelaskan, untuk tahap awal PLTS akan dipasang di Gedung Rektorat, Auditorium Harun Nasution, FST, serta FITK. PLTS tersebut hanya mampu mengalirkan listrik untuk satu gedung. Maka dari itu, pemilihannya berdasarkan gedung yang penggunaan listriknya lebih banyak ketimbang gedung yang lain. “PLTS yang dipasang baru di beberapa gedung yang diusungkan. Salah satu pertimbangannya, karena PLTS yang ada pada satu gedung, penggunaannya hanya bisa digunakan pada gedung tersebut,” jelasnya.

Hendrawati pun menerangkan, pemasangan PLTS hanya dilaporkan kepada pimpinan universitas, lalu diinformasikan kepada beberapa dosen. Namun, belum ada informasi untuk para mahasiswa karena pemasangannya belum selesai. “Sebelumnya, program itu sudah diberitahu pada saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2024. Materi tersebut disampaikan ketika daring, dari situ, sebenarnya sudah ada target-target yang akan dilakukan, salah satunya adalah PLTS,” jelasnya.

Hendrawati menambahkan, nantinya, jika PLTS sudah terpasang pada tiap titik yang telah ditentukan, pihak kampus akan mengadakan launching dan sosialisasi terkait PLTS sebagai program green campus tersebut. Lalu, kedepannya, pengelolaan PLTS akan diteruskan oleh perusahaan yang bekerjasama dengan pihak kampus, yakni PT Agra Surya Energy.

Reporter: Naufal Fauzan, Ahmad Zaidan Hafidz
Editor: Muhammad Arifin Ilham

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Meja Hijau dalam Genggam Korporasi Previous post Meja Hijau dalam Genggam Korporasi
Sukarela Cegah Mara Bahaya Perlintasan Next post Sukarela Cegah Mara Bahaya Perlintasan