Tisu Basah Musuh Lingkungan

Read Time:2 Minute, 25 Second

Oleh: Fadhilah Karamun

Eksistensi tisu basah sekarang ini memang sangat meledak. Dimana di kota-kota besar penggunaan tisu basah dianggap sangat praktis karena hanya sekali pakai. Menurut masyarakat keberadaan tisu basah sangat membantu. Namun, dibalik penggunaannya yang praktis ternyata sampah dari bekas tisu basah sangat sulit terurai di lingkungan. Biasanya, ia hanya akan hanyut dan berakhir ke lautan.
Tisu kering membutuhkan waktu selama sebulan untuk terurai dengan lingkungan. Sedangkan, tisu basah akan lebih lama terurai karena terbuat dari rensin plastik. Hal tersebut menjadikan ia bertipe sampah anorganik. Plastik, membutuhkan waktu sekitar 30-40 tahun untuk terurai, bahkan untuk beberapa jenis plastik bisa sampai 1.000 tahun. Maka penguraian sampah bekas tisu basah hampir sama seperti penguraian sampah plastik.
Menurut surat kabar The Guardian, pada tahun 2015 tisu basah menjadi musuh terbesar untuk lingkungan. Marine Conservation Society (MCS) pada 2014, memperkirakan terdapat 35 tisu basah di pantai inggris. Bahkan pada Februari 2016, banjir yang terjadi di Inggris disinyalir diakibatkan oleh fatberg atau tumpukan lemak yang berasal dari tumpukan tisu basah dan popok yang tertimbun di bawah jalan Oxford, Inggris.
Karena bahayanya tisu basah untuk lingkungan, di beberapa tempat di Indonesia telah memberlakukan larangan penggunaan tisu basah. Salah satunya di pendakian Gunung Gede, Pangrango, Jawa Barat. Di sana pemberlakuan larangan ada sejak tahun 2017. Alasan pemberlakuan tersebut karena setelah dikaji, sampah yang paling dominan di kawasan Gunung Gede adalah tisu basah dan botol plastik.
Selain itu, di kawasan pendakian Gunung Semeru pemberlakuan larangan tersebut juga sudah ada. Hal tersebut ditetapkan oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ( BB TNBTS), karena menurut mereka tisu basah yang terbuat dari plastik sintesis, dan jika ditinggalkan menjadi sampah dan akan sulit terurai. Setiap calon pendaki, akan diperiksa bawaanya sebelum mendaki.
Penggunaan tisu mulanya untuk membersihkan tanpa menggunakan air. Namun, kebersihannya masih diragukan. Maka diciptakannya lah tisu basah dan mulanya masyarakat mengira, hal tersebut ramah lingkungan. Kenyataannya, walaupun terlihat ramah lingkungan, ia berbahaya untuk lingkungan. Sampah yang sulit terurai dan ikut mengalir ke lautan akan mengancam ekosistem lautan, dan bisa termakan oleh hewan di sana.
Seperti, kura-kura akan menganggap tisu basah yang berenang-renang melayang di air adalah ubur-ubur, dan ia memakannya. Secara tidak langsung, masyarakat memberi makan hewan laut dengan plastik. Belum lama, ditemukan Ikan Paus berjenis Sperm Whale mati dalam keadaan busuk di Pulau Kapotas, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Saat diperiksa ternyata di dalam perut ikan tersebut terdapat 5,9 kilogram sampah plastik dan salah satunya pastilah tisu basah. Sampah-sampah yang berasal dari daratan, mengalir terus ke lautan dan dimakan oleh para hewan laut.
Masyarakat sebaiknya membiasakan diri untuk tidak menggunakan plastik dan tisu basah. Penggunaan tisu basah dapat digantikan oleh sapu tangan ataupun kain lap. Walaupun terkesan kurang praktis karena setelah menggunakannya beberapa kali, kita harus mencucinya. Namun, pembiasaan mengganti tisu basah dengan sapu tangan sangatlah efektif untuk mengurangi sampah pada lingkungan. Jika merasa kurang steril, maka dapat diganti dengan membiasakan diri membawa hand sanitizer.

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
100 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Pemilu Mewariskan Masalah
Next post Si Pengecut Yang Mengambil Hidupmu