Nasib Pengusaha Fotokopi Saat Pandemi

Read Time:1 Minute, 57 Second

Pandemi Covid-19 menjadikan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menerapkan pembelajaran jarak jauh. Akibatnya, beberapa tempat usaha mengalami penurunan jumlah pengunjung, khususnya tempat fotokopi. Hal tersebut diakui oleh beberapa pengusaha fotokopi sekeliling Kampus 1 dan Kampus 2 UIN Jakarta.

Feddy (40) pemilik usaha Interlive Press Photocopy di Jalan Pesanggrahan, samping Kampus 1 UIN Jakarta mengatakan, pandemi memberikan dampak yang begitu besar terhadap kelangsungan usahanya. “Usaha fotokopi ini mati saya bilang, karena sekarang belajar serba online jadi jarang ada yang fotokopi, paling satu dua orang,” ungkap Feddy, Minggu (26/09).

 Sebelum pandemi, Feddy mengaku banyak mendapat pesanan dari mahasiswa UIN Jakarta. Misalnya, kata dia, mahasiswa Fakultas Ushuluddin. Ketika itu ia menerima proyek pembuatan buku untuk mahasiswa tingkat akhir. “Sudah banyak langganan dengan mahasiswa, ada yang sekali pesan 40 buku, alhamdulillah bayarnya selalu cash,” kata Feddy, Minggu (26/09).

Menurut Feddy, dalam menjalankan usaha sudah menjadi kebiasaan ketika dihadapkan dengan penawaran-penawaran pelanggan. Seperti meminta potongan harga, dan keluhan ketika hasil pesanan tidak sesuai dengan yang diharapkan, “Waktu itu saya pernah nemuin pelanggan yang ada kembalian Rp200,00 dia tungguin sampe kembaliannya saya kasih,” sambung Feddy.

Asep (24) karyawan fotokopi Satria 2 di Jalan Cireundeu, Pisangan depan Kampus 2 UIN Jakarta, juga ikut membagikan pengalaman. Menurutnya, hal unik yang sering kali ditemukan adalah ketika pelanggan tidak mengambil pesanannya. Akibatnya pesanan hanya menjadi barang yang menumpuk di rak, “Saya tidak tau dia lupa atau bagaimana, dari sebelum pandemi sering terjadi seperti itu, sampai sekarang tidak diambil.” tegas Asep, Rabu (20/10).

Berbeda dengan Dika (24) karyawan fotokopi Garuda di Jalan Pesanggrahan samping Kampus 1 UIN Jakarta. Ia mengaku selama tiga tahun tidak pernah mengalami kesulitan dalam melakukan pekerjaannya. “Selama ini pelanggan yang saya temukan biasa saja, gak pernah yang macem-macem. Alhamdulillah gak nemu yang aneh-aneh.” ungkap Dika, Rabu (20/10).

Hal serupa pun dirasakan oleh Juna (37), pemilik usaha Excel Photocopy di Jalan Cireundeu, Pisangan depan Kampus 2 UIN Jakarta. Menurutnya, kesulitan-kesulitan yang dihadapi ketika bekerja tergantung bagaimana cara menyikapinya. “Kalau ada kesulitan sebenernya sudah risiko setiap profesi, jadi itu bukan masalah besar,” ungkap Juna, Rabu (20/10).

Juna juga menambahkan, selama menjadi pengusaha fotokopi ia mendapat banyak pengalaman menarik. Menurutnya, dengan kemampuannya di bidang fotokopi, ia bisa membantu orang lain sekaligus mencari nafkah. “Alhamdulillah keuntungan penjualannya selau saya pakai untuk menghidupi keluarga,” tambahnya.  

 Siti Hayati Nufus

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
100 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Peran Netizen Terhadap Kualitas Jurnalisme
Next post Perubahan Iklim yang Responsif Gender