Seremonial yang Kurang Dimaknai

Seremonial yang Kurang Dimaknai

Read Time:2 Minute, 3 Second

Pelepasan merpati sebagai lambang kebebasan dan impian yang tinggi tak terlalu dimaknai oleh mahasiswa baru. Hal itu lantaran kegiatan berlangsung saat fokus mereka sudah berkurang.


Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, kembali digelar pada Selasa, (26/8). Sesi pertama dilaksanakan di Lapangan Triguna dengan mengikutsertakan lima fakultas, yaitu Fakultas Psikologi, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), serta Fakultas Sains dan Teknologi (FST).

Dari seluruh rangkaian kegiatan, terdapat salah satu kegiatan yang berbeda dari tahun lalu, yaitu pelepasan dua belas merpati yang menunjukan dua belas fakultas di UIN Jakarta. Pelepasan merpati itu dilakukan setelah penyematan tanda peserta PBAK yang mengartikan masa orientasi mahasiswa baru (maba) tahun 2025 resmi dimulai. 

Adinda Salsabila, Ketua PBAK mengatakan, munculnya ide pelepasan merpati karena melihat pembukaan PBAK tahun sebelumnya yang dilakukan dengan pukulan gong dan pelepasan balon terbilang cukup biasa. “Kami ingin menyelaraskan tema dan konsep acara, yaitu ‘Mahasiswa Masa Kini untuk Dunia Masa Depan: Merawat Cinta, Menebar Cinta, Merawat Semesta’,” ucap Dinda, Selasa (26/8).

Ia menjelaskan, pelepasan  merpati sebagai lambang mahasiswa yang diterbangkan. Harapannya, setiap mahasiswa  memiliki tujuan dan impian yang tinggi. Selain itu, pelepasan merpati mengibaratkan kebebasan mahasiswa. “Jadi burung dara ini disimbolkan mahasiswa, makanya tadi ada dua belas burung dara yang mewakili tiap fakultas,” ujarnya. 

Namun, hal tersebut tak begitu menjadi perhatian maba. Dani—bukan nama sebenarnya—misalnya, seorang maba FISIP mengatakan, dirinya tak begitu memperhatikan pelepasan merpati lantaran tak mengerti konteks dari pelepasan burung tersebut.

“Gua sebenernya gak ngerti, ya, itu konteksnya lagi ngapain dan kenapa tiba-tiba dilepasin.Tapi gua bisa bilang, walaupun kita gak ngerti, ini bagian dari kesalahan acara menurut gua,” kata Dani, Selasa (26/8). 

Menurutnya, momen pelepasan merpati yang dilakukan pada siang hari kurang tepat. Sebab, saat itu para maba sudah tidak terlalu memperhatikan acara seremonial. Dani menambahkan, agenda tersebut seharusnya dilaksanakan pada pagi hari saat matahari tak begitu terik. 

“Kalo yang gua alami dan teman-teman, kerjaannya cuma payungan, udah ngobrol, dan kita gak ada yang ngadep ke depan,” ujarnya. 

Selaras dengan Dani, Hilmi—bukan nama sebenarnya—seorang maba FEB, menganggap pelepasan merpati sebagai sesuatu yang biasa dalam pembukaan sebuah acara. Lantaran hal itu, ia tidak terlalu menghayati makna dari seremonial pelepasan merpati.  “Udah biasa sih, kalo enggak pakai burung, pakai balon,” pungkas Hilmi, Selasa (26/8). 

Reporter : Ilham Hidayat, Muhammad Firda Hasan
Editor : Muhammad Arifin Ilham

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Semarak Pengenalan Lingkungan Kampus   Previous post Semarak Pengenalan Lingkungan Kampus  
Manuver Jadwal Bikin Kelimpungan Next post Manuver Jadwal Bikin Kelimpungan