
Minimnya pemahaman literasi keuangan membuat mahasiswa rentan terhadap tawaran investasi. Banyak dari mereka kemudian mengambil keputusan finansial yang berisiko.
Literasi keuangan merupakan kemampuan dasar yang penting dimiliki mahasiswa untuk menghadapi berbagai keputusan finansial. Dilansir dari Kompas, literasi keuangan adalah kemampuan mencakup pengelolaan uang, pemahaman risiko, penilaian informasi, dan pengambilan keputusan finansial secara bijak. Tanpa literasi yang memadai, mahasiswa berpotensi menumpuk hutang, kredit buruk, atau terjerumus penipuan.
Meski perannya penting, tingkat literasi keuangan mahasiswa di Indonesia masih berada pada kategori rendah. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 mencatat kelompok mahasiswa memiliki indeks literasi keuangan sebesar 56,42 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 65,43 persen dan jauh di bawah indeks inklusi keuangan sebesar 75,02 persen.
Konsistensi rendahnya literasi keuangan mahasiswa juga terlihat pada SNLIK 2025. Dalam laporan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali mencatat mahasiswa sebagai salah satu segmen masyarakat dengan tingkat literasi rendah. Kelompok ini juga masuk dalam kategori prioritas edukasi karena dianggap rentan dalam pengambilan keputusan finansial.
Indeks literasi keuangan dalam SNLIK diukur melalui lima aspek, yakni pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku dalam pengambilan keputusan finansial. Rendahnya pemahaman membuat mahasiswa rentan terhadap informasi yang tidak kredibel dan kurang mampu mengenali risiko. Akibatnya, mereka cenderung mengambil keputusan finansial tanpa pertimbangan matang.
Sulthan Aqeel Zahid mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, menjadi salah satu korban pengambilan keputusan finansial berisiko akibat minimnya literasi keuangan. Ia mengaku tertarik setelah mendapatkan tawaran freelance dengan janji keuntungan cepat dan besar dari sebuah perusahaan produk kosmetik.
Tergiur oleh testimoni keberhasilan dan bujukan pihak perusahaan, Sulthan segera membuka pinjaman online untuk mendapatkan dana. Tegasnya, pembukaan akun itu diarahkan oleh pihak perusahaan. “Awalnya terlihat seperti pekerjaan freelance, tapi saya diminta menyetor Rp3 juta sebagai setor awal kepada perusahaan,” jelasnya, Senin (17/11).
Kurangnya pemahaman dasar mengenai pengelolaan keuangan membuatnya tidak meninjau ulang tawaran tersebut secara kritis. Sulthan mengaku, dirinya terlibat karena tidak memahami risiko dan mengira tawaran tersebut merupakan kesempatan yang bagus.
Dalam beberapa minggu, ia mulai merasakan kejanggalan karena terus diminta mengeluarkan dana tambahan hingga total kerugiannya mencapai sekitar Rp7 juta. Pinjaman yang ia ambil masih harus ia cicil hingga sekarang. Sulthan sempat mengajak temannya bergabung karena berharap mendapat hasil lebih besar, namun malah membuat temannya ikut terlilit pinjaman online.
Berbeda dengan Sulthan, Lida—bukan nama sebenarnya—memilih menolak tawaran serupa, karena menilai skema keuntungan yang ditawarkan tidak masuk akal. Lida mulai curiga ketika perusahaan meminta calon anggota menyetor sejumlah uang sebelum bekerja, kemudian ia mencari informasi melalui media sosial dan rekannya hingga mengetahui banyak mahasiswa yang menjadi korban. “Kalau ada tawaran begitu harus dicek dulu, jangan langsung percaya karena kelihatannya menguntungkan,” ucap Lida, Selasa (18/11).
Sofyan Rizal Dosen Ekonomi Makro UIN Jakarta, menekankan pentingnya literasi keuangan untuk ketahanan mahasiswa menghadapi tawaran finansial berisiko. Menurutnya, mahasiswa harus bisa berpikir rasional sebelum menerima tawaran keuntungan besar dalam waktu singkat. “Keuntungan besar dalam waktu cepat itu tidak rasional. Bahkan investasi seperti saham saja butuh proses dan risikonya naik turun,” jelasnya, Selasa (18/11).
Sofyan menambahkan, mahasiswa perlu membekali diri dengan pengetahuan dasar finansial. Ia melihat, minat mahasiswa pada investasi dapat menjadi peluang belajar, sekaligus menekankan literasi keuangan sebagai fondasi untuk mengambil keputusan finansial.
Reporter: SFA
Editor: Ilham Hidayat
