Belanja Daring Bentuk Pola Konsumsi Baru 

Belanja Daring Bentuk Pola Konsumsi Baru 

Read Time:4 Minute, 0 Second
Belanja Daring Bentuk Pola Konsumsi Baru 

Di era modern, fitur belanja online semakin diminati karena dianggap memudahkan aktivitas berbelanja. Tren ini tidak hanya mengubah cara masyarakat memenuhi kebutuhan, tetapi juga membawa berbagai dampak dalam kehidupan sehari-hari.


Belanja online adalah proses membeli barang atau jasa melalui platform digital. Melansir dari rmoljabar.id dan ekonomi.bisnis.com, metode transaksi tersebut paling populer dan masif di Indonesia. Sistem itu bekerja dengan menghubungkan penjual dan pembeli melalui aplikasi atau situs e-commerce, di mana konsumen dapat mencari produk, membandingkan harga, melakukan pembayaran digital, hingga melacak pengiriman secara real time

Kemudahan alur transaksi inilah yang mendorong perubahan besar dalam budaya belanja masyarakat. Pada semula mengandalkan toko fisik, kini sebagian besar konsumen beralih ke layanan daring yang dinilai lebih cepat, praktis, dan menawarkan lebih banyak pilihan. Pergeseran ini tidak hanya memengaruhi kebiasaan belanja individu, tetapi juga memaksa pelaku bisnis untuk beradaptasi dengan ekosistem digital yang terus berkembang.

Mengutip Kontan.co.id, transaksi e-commerce di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan pada periode 2019–2024. Pada 2019, nilai transaksi tercatat sebesar Rp205,5 triliun dan terus meningkat pada 2020 menjadi Rp266,3 triliun, atau tumbuh 29,6%.

Tren positif berlanjut pada 2021 dan 2022, masing-masing dengan pertumbuhan 50,7% dan 18,7%, hingga nilai transaksinya mencapai Rp401,1 triliun dan Rp476,3 triliun. Namun, pada 2023, transaksi e-commerce mulai mengalami perlambatan. Nilai transaksi turun 4,7% menjadi Rp453,75 triliun. Meski sempat melemah, e-commerce kembali mencatatkan pertumbuhan pada 2024 dengan kenaikan 7,3% dan nilai transaksi mencapai Rp487,01 triliun.

Peningkatan nilai transaksi tersebut menunjukkan adanya perubahan cara berbelanja  masyarakat. Konsumen semakin banyak beralih ke belanja online karena dianggap lebih cepat, praktis, dan menawarkan pilihan produk yang lebih beragam. Pada periode 2021–2022, kebiasaan belanja masyarakat juga banyak berubah karena adanya pembatasan sosial selama pandemi Covid-19, sehingga membuat orang lebih sering memilih belanja secara daring. Penurunan pada periode tahun 2023 juga dipicu oleh berbagai faktor seperti menurunnya daya beli masyarakat, pemulihan ekonomi pasca pandemi, serta banyaknya persaingan. 

Perubahan cara masyarakat berbelanja dirasakan oleh Nurul Hidayanti, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia merasakan berbagai kemudahan dari hadirnya platform belanja online yang kini semakin canggih dan mudah diakses. Menurutnya, harga yang ditawarkan sering kali lebih murah dibandingkan belanja langsung di toko, apalagi dengan banyaknya promo yang variatif.

Namun, Nurul juga menilai kemajuan teknologi dan kemudahan belanja online memiliki sisi negatif. Ia menyebut, akses yang serba cepat dan praktis dapat memicu perilaku boros jika tidak diimbangi dengan pengendalian diri.

“Perkembangan teknologi bikin saya makin sering belanja online karena semuanya jadi lebih mudah dan cepat. Promo yang banyak juga jadi alasan saya tertarik, soalnya harga bisa jauh lebih murah. Tapi meskipun praktis, belanja online bisa bikin kita boros kalau nggak punya kontrol diri,” ujar Nurul, Rabu (19/11). 

Perkembangan teknologi juga membuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) semakin terbantu melalui fitur jualan secara online. Abi, penjual pisang goreng wijen di Tangerang Selatan, turut merasakan manfaatnya. Ia mulai memasarkan produknya melalui GoFood, GrabFood, dan ShopeFood pada awal Maret 2025 dan mengaku omzetnya meningkat karena jangkauan pembeli menjadi lebih luas.

Namun, di balik kemudahan tersebut, Abi juga menghadapi sejumlah tantangan. Ia memerlukan kesabaran ekstra dalam melayani pembeli maupun pengemudi ojek daring yang datang mengambil pesanan di tokonya.

“Pemasukan hampir 90% lewat online semua, tapi tantangannya ya banyak kali menghadapi customer yang ribet dan driver yang gak sabaran. Jualan online bisa nguntungin kalo banyak yang beli,” ujar Abi, Sabtu (22/11).

Melihat peristiwa tersebut, Dosen Sosiologi Budaya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mohammad Hasan Basri menjelaskan, perubahan sosial masyarakat dari yang awalnya belanja secara langsung menjadi belanja online terjadi akibat perkembangan teknologi. “Perkembangan teknologi yang makin cepat dan murah membuat pola belanja masyarakat bergeser dari konvensional ke online. Akses internet yang gampang bikin orang memilih belanja online karena dinilai lebih praktis,” ujar Hasan, Minggu (30/11).

Selain itu, ia menambahkan bahwa faktor ekonomi dan budaya konsumsi juga mendorong tren tersebut. Platform seperti Shopee, Tiktok Shop dan Bukalapak menarik minat melalui fitur cashless, Cash On Delivery (COD), serta berbagai promo. Faktor kepercayaan masyarakat terhadap belanja online yang tinggi juga mengakibatkan peningkatan transaksi belanja online. 

Hasan juga menegaskan bahwa generasi yang paling banyak melakukan transaksi belanja online adalah Gen Z. “Menurut survei Jakpat yang dimuat Media Indonesia pada 2024, dari 2.474 responden Gen Z, 9 dari 10 lebih memilih belanja online. Rata-rata mereka menghabiskan sekitar Rp414.309 per bulan untuk belanja online”, katanya.

Selain itu, kehadiran belanja online turut menimbulkan berbagai dampak. “Belanja online berdampak positif bagi UMKM dan membuat konsumsi lebih inklusif, tetapi UMKM tradisional bisa kehilangan pasar dan warga yang sulit akses internet tertinggal. Pasar tradisional sepi karena interaksi pindah ke online, generasi tua sulit beradaptasi, dan muncul konsumerisme karena tren serta influencer.”, ujarnya. 

Reporter: AA
Editor: Rizka Id’ha Nuraini

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Jeratan Judi Online dan Ancaman Gangguan Mental  Previous post Jeratan Judi Online dan Ancaman Gangguan Mental 
Lemahnya Literasi Keuangan Mahasiswa Next post Lemahnya Literasi Keuangan Mahasiswa