Merawat Ingatan Lewat Jelajah Budaya

Merawat Ingatan Lewat Jelajah Budaya

Read Time:3 Minute, 39 Second
Merawat Ingatan Lewat Jelajah Budaya

Berawal dari keresahan atas minimnya perhatian masyarakat terhadap warisan budaya, KJB menginisiasikan kegiatan penelusuran tempat bersejarah guna mendorong pelestarian sejarah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.


Komunitas Jelajah Budaya (KJB) merupakan komunitas sejarah berbasis di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek) yang memiliki rasa peduli terhadap seni, budaya, bangunan tua serta peninggalan sejarah bangsa. Komunitas itu berawal dari kegiatan program Jelajah Kota Toea, Jelajah Malam, serta kegiatan penelitian sejarah dan budaya.

KJB didirikan 17 Agustus 2003, namun komunitas tersebut mulai berkembang dan berjalan pada 2005 oleh beberapa mahasiswa serta alumni perguruan tinggi di Jakarta. Ketua KJB, Kartum Setiawan menjelaskan bahwa KJB lahir dari keresahan terhadap minimnya perhatian masyarakat dan warisan budaya bangsa. 

“KJB didirikan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kurangnya perhatian dan apresiasi masyarakat dengan warisan budaya bangsanya, baik berupa bangunan bersejarah yang telah menjadi Bangunan Cagar Budaya (BCB) maupun kesenian tradisional,” ungkap Kartum pada Kamis (26/2).

Ia menambahkan tujuan utama pembentukan komunitas KJB adalah untuk membangun kecintaan terhadap sejarah kepada pelajar/mahasiswa serta masyarakat. Secara program, KJB tidak hanya menggelar diskusi atau penelitian, tetapi juga mengajak masyarakat terjun langsung mengunjungi lokasi bersejarah. Ia berharap kegiatan komunitasnya dapat menimbulkan rasa kepedulian terhadap bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan keberadaanya dan juga koleksi didalamnya.

 “Kegiatan meliputi penelitian sejarah, budaya, dan museum. Selain itu program publik untuk masyarakat umum terdiri dari Jelajah Kota Toea dan Night Time Journey at Museum. Kegiatan ini mengajak masyarakat umum untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Nusantara,” ujarnya.

Kegiatan tersebut digelar rutin setiap bulan atau dua bulan sekali, baik di dalam maupun luar Jabotabek. Pada 2026, KJB bahkan merencanakan jelajah ke sejumlah kota seperti Padang-Bukittinggi-Sawahlunto, Cirebon-Kuningan, Sumedang-Bandung, Banjar hingga Penang (Malaysia). Melalui aktivitas lintas daerah tersebut, KJB ingin menunjukkan bahwa pelestarian sejarah tidak dibatasi oleh wilayah administratif, melainkan oleh komitmen untuk membuka akses edukasi seluas mungkin.

Dalam praktiknya, KJB kerap menghadapi tantangan akses lokasi. Tidak semua bangunan bersejarah mudah dikunjungi untuk publik. “Terkadang Lokasi yang kita harapkan untuk dikunjungi, tidak mendapatkan akses. Padahal jika bisa dilihat publik, akan memiliki nilai edukasi bagi masyarakat umum,” katanya.

Meski demikian, pengalaman menjelajahi ruang-ruang bersejarah yang jarang diakses publik menjadi daya tarik tersendiri. Antusiasme peserta disebut sebagai energi utama komunitas tersebut untuk terus bergerak menelusuri berbagai tempat bersejarah.

“Sukanya jika peserta antusias untuk menjelajahi dalam sebuah lokasi dan tempat yang jarang dikunjungi dapat diakses oleh Komunitas Jelajah Budaya. Dukanya terkadang bangunan yang harus dilestarikan sudah rusak atau tidak terawat,” tuturnya.

Terlepas dari berbagai tantangan, KJB terus menaruh harapan besar pada regenerasi dan pemanfaatan bangunan bersejarah secara berkelanjutan. Kartum menekankan pentingnya revitalisasi adaptif tanpa menghilangkan nilai asli bangunan.

 “Semakin banyak bangunan bersejarah yang dapat dimanfaatkan oleh publik. Bangunan tersebut dapat direvitalisasi dengan fungsi baru yang lebih menarik, tanpa merusak bangunannya. Misalnya digunakan untuk museum, galeri, kafe, dan lain sebagainya,” harap Kartum.

Selaras dengan Kartum, Oktal Uska Putra, salah satu anggota KJB yang bergabung sejak Oktober 2022. Awalnya ia mengenal KJB saat mendampingi Kartum di kawasan Candi Muaro Jambi dan perkampungan Melayu di Jambi. Di sana Kartum beberapa kali bercerita tentang KJB dan ingin mengajak KJB tur ke Jambi. Ketertarikannya pada sejarah membuatnya merasa memiliki keterhubungan dengan visi KJB. 

“Selama program Jalur rempah, kami banyak mengunjungi tempat sejarah dan setelah mendengar cerita tentang KJB dari Mas Kartum, di sana lah saya pikir Jalur rempah dan KJB seperti punya keterkaitan yang tak jauh dari sejarah, itu kenapa membuat saya semakin penasaran ingin mengenal KJB,” ucap Oktal pada Kamis (26/2).

Saat ini ia berperan sebagai konten kreator yang mendokumentasikan kegiatan komunitas melalui media sosial @komunitasjelajahbudaya. Ia mengaku mendapatkan pengalaman yang eksklusif selama bergabung. 

“Di KJB saya merasa punya privilege untuk mengunjungi tempat bersejarah, dimana orang lain belum tentu bisa mengunjunginya. Selain itu, seluruh anggota KJB sangat friendly sekali dan saya banyak menggali ilmu dari mereka,” ujarnya.

Namun, menurutnya dalam melakukan kegiatan di lapangan tidak selalu mudah. Banyak tantangan yang perlu dihadapi mulai dari mengeksplorasi bangunan terbengkalai hingga medan yang menantang. Selain itu, ia juga harus beradaptasi dengan anggota yang sebagian besar jauh lebih senior darinya.

“Anggota KJB hampir sembilan puluh persen berusia antara 45-83 tahun, mereka jauh lebih senior dari saya dan mereka memiliki segudang pengalaman yang berbeda dan karakter yang juga beragam. Terkadang saya juga harus bisa memahami setiap karakter anggota dan saya harus bisa cepat beradaptasi dengan siapa pun, harus bisa mengolah emosi,” jelasnya.

Reporter: Anggita Rahma Dinasih
Editor: Irsal Nurvikriansyah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Telisik Sistem Keamanan Data Pustipanda Previous post Telisik Sistem Keamanan Data Pustipanda
Solidaritas DEMA-U Lawan Pembungkaman Terhadap Andrie Yunus Next post Solidaritas DEMA-U Lawan Pembungkaman Terhadap Andrie Yunus