
Makam. Kiranya yang terpikirkan jika mendengar kata itu adalah hal-hal yang berbau mistis, supranatural, atau angker. Namun berbeda dengan komunitas Indonesia Graveyard, mereka justru menjadikan makam sebagai sebuah objek untuk mempelajari nilai sejarah dan budaya. “Bagi kami, nisan bukan hanya sebuah penanda makam, namun sebuah kisah, keindahan, dan nilai budaya yang terekam dari masa silam,” begitulah yang tertulis dalam akun Instagram komunitas tersebut, @indonesia_graveyard.
Hanonsari Paramita, atau kerap disapa Ruri sebagai salah satu pendiri Indonesia Graveyard menceritakan, komunitas itu ia buat pada awal tahun 2017 bersama Deni Priya Prasetia—kini sudah almarhum, temannya yang memiliki hobi yang sama. Ruri mengaku bahwa dirinya tidak menyukai hal-hal yang berbau mistis, tapi ia suka mengunjungi bangunan-bangunan tua yang kemudian merembet kepada makam-makam tua.
Pada mulanya, ia tidak memiliki niat untuk membentuk sebuah komunitas. Setelah menjelajahi makam, ia kerap mengunggah foto dalam akun Instagram pribadinya, tapi teman-temannya merasa terganggu sehingga ia membuat akun khusus untuk mengunggah foto makam-makam tersebut. Namun tak disangka-sangka, akun itu mulai memiliki banyak pengikut dan beberapa orang tertarik untuk bergabung dalam kegiatan tersebut.
Komunitas Indonesia Graveyard terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar. Anggota tidak terikat dengan komunitas sehingga bebas untuk berhenti. Pun tidak ada aturan khusus yang harus dijalani di dalamnya. Alasannya, karena komunitas tersebut dijalankan berdasarkan hobi, kegiatan blusukan makam pun dilakukan jika ada waktu senggang saja. Anggota komunitas tersebut berasal dari berbagai latar belakang, seperti ibu rumah tangga, dokter, arsitek, sejarawan, dan seniman yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.
“Kami berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, usia, agama, ras, suku, macam-macam lah. Tapi ini yang bikin kita jadi lebih berwarna karena memiliki berbagai perspektif,” ujar Ruri melalui telepon video, Sabtu (03/05).
Meski awalnya dibentuk atas dasar hobi semata, pada akhirnya komunitas itu menjadi usaha Ruri untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian makam yang terdapat di sekitar mereka. Menurutnya, makam merupakan peninggalan sejarah yang tidak melulu harus dikaitkan dengan cerita horor. “Kan kasihan kalau ada orang yang sudah meninggal tapi ditambah-tambahkan ceritanya, jadi cerita yang baik-baik saja lah. Toh, kita juga suatu saat akan menemui nasib yang sama,” jelasnya.
Sebelum mengunjungi sebuah makam, mereka melakukan riset terlebih dahulu menggunakan buku, internet, serta perbandingan peta lama dan baru, atau google maps. Melalui peta lama, mereka bisa mengetahui adanya tiga jenis makam dengan lambang yang berbeda dalam peta. Ruri bercerita, bahkan pernah suatu ketika mereka menemukan sebuah bongpai dalam rumah seorang pria tua di daerah Yogyakarta. Pria itu mengizinkan mereka memasuki rumahnya untuk melihat makam tersebut, namun para tetangga ikut masuk karena khawatir mereka adalah orang asing. “Banyak pengalaman lucu dan berwarna dari kita melakukan riset itu,” kata Ruri.
Masyarakat menerima mereka ketika melakukan kegiatan blusukan, bahkan kadang kala turut mewawancarai terkait komunitas. Beberapa orang dari luar negeri juga meminta mereka mencarikan makam keluarganya yang berada di Indonesia, salah satunya berasal dari Belanda. “Kalau ada yang minta tolong kami bantu, asalkan informasi yang disampaikannya jelas, ya, bukan berdasarkan mimpi atau semacamnya. Tapi kami juga tidak menjamin bisa menemukan makam itu,” tuturnya.
Emir Haidar, salah satu anggota komunitas mengaku bergabung dengan Indonesia Graveyard pada tahun 2020 secara tidak sengaja. Hal itu lantaran diajak oleh temannya dalam kegiatan blusukan makam. Dirinya memiliki ketertarikan akan rancangan bangunan pada makam sejak tahun 2008, saat itu ia tertarik pada rancangan makam salah satu taipan Tionghoa, Khouw Oen Giok yang dipublikasikan oleh koran Kompas.
“Sejak saat itu saya mulai mengulik makam yang rancangan bangunnya menarik, dan ketika saya bertemu dengan Indonesia Graveyard jadi mulai fokus riset pada pemakaman,” ucapnya melalui telepon video, Senin (05/05).
Selain itu, menurutnya makam adalah salah satu bukti pernah adanya tokoh sejarah. Selama ada makam, pasti ada cerita masyarakat yang membawa tokoh tersebut, sehingga seakan hidup dalam dimensi lain. Riwayat cerita itu juga dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang masih hidup di dunia ini.
Salah satu harapan Emir dan anggota lainnya adalah membuat database terkait makam-makam bersejarah di Indonesia. Hal itu merupakan upaya mereka dalam mengumpulkan kepingan sejarah, baik berupa makam maupun tokohnya. “Semoga harapan kami ini dapat segera dilaksanakan, dan kami berharap teman-teman juga tergerak untuk menuliskan sejarah dari makam-makam yang akan kami kumpulkan sebagai database,” pungkasnya.
Reporter: NA
Editor: Muhammad Arifin Ilham
