Keluhkan Rasa Air Fasilitas Water Drinking Fountain 

Keluhkan Rasa Air Fasilitas Water Drinking Fountain 

Read Time:3 Minute, 53 Second
Keluhkan Rasa Air Fasilitas Water Drinking Fountain 

Fasilitas water drinking fountain kini mulai tersedia di berbagai sudut kampus sebagai bentuk dukungan terhadap gaya hidup sehat dan ramah lingkungan. Namun, belum lama ini, muncul keluhan dari mahasiswa terkait kualitas air minum yang dihasilkan. 


Pada 14 Juli, beredar video di akun Instagram @mahasiswa_uinjkt  mengenai fasilitas water drinking fountain di Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Video tersebut menayangkan dua mahasiswa yang sedang mengisi ulang air minum dari water drinking fountain yang tersedia di PLT. Mereka mendapati rasa air dari mesin tersebut tidak enak diminum.

Ketika membuat video itu, Leanna Narasnama Mahendra sedang melakukan praktikum di PLT lantai dua. Lantaran merasa haus, ia memanfaatkan fasilitas water drinking fountain di gedung PLT untuk mengisi ulang air minum sekaligus mencicipi bersama temannya.

“Pada saat aku dan temanku nyobain dan minum air itu, rasanya seperti air aquarium. Bedanya airnya jernih, tapi aroma dan rasa bener-bener bikin mual, terus setelah kita coba berdua, temen-temen kita yang lain juga kita suruh minum dan emang bener rasa air ikan,” ucap Leanna pada Senin, (21/7).

Setelah videonya viral di media sosial, Leanna merasa fasilitas air dari water drinking fountain itu lekas diperbaiki. Ia berharap agar kampus dapat lebih memperhatikan kualitas air minum dengan rutin mengecek filter air. “Mungkin karena waktu itu baru, jadi masih proses kali, ya, airnya. Saat hari itu juga aku upload video review ke TikTok, langsung fyp dan rame banget, bener-bener besoknya langsung dibenerin. Tapi enggak tau ya mungkin kebetulan aja, tapi setelah dibenerin, rasa air nya sudah normal lagi,” ungkapnya.

Menurut Hoirun Nisa, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) mengatakan, untuk menjaga kualitas air minum yang dikonsumsi, perlu mengawasi kualitas air minum secara rutin minimal satu bulan sekali. Artinya, bisa saja kualitas air terpantau memenuhi syarat pada saat dilakukan pemeriksaan. Namun, setelah itu kualitas air dapat kembali buruk dalam jangka waktu satu bulan berikutnya. 

“Agar air minum tetap sehat dan aman dikonsumsi untuk kesehatan harus memenuhi persyaratan fisik, mikrobiologis, kimiawi, dan radioaktif sesuai Permenkes Air Minum No. 2 tahun 2023,” kata Hoirun Nisa pada Senin (21/7).

Perlu diketahui, Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Air Minum No. 2 tahun 2023, mengatur standar kualitas air minum agar bebas dari zat berbahaya dan aman dikonsumsi. Aturan ini bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat dan menjamin akses terhadap air yang layak dikonsumsi.

Ia menjelaskan, syarat air minum yang layak konsumsi di antaranya memiliki pH (Potential of Hydrogen) netral antara 6,5 hingga 8,8, tidak memiliki rasa, tidak berbau, dan tidak berwarna. Selain itu, air harus bebas dari kontaminasi mikroba berbahaya seperti Escherichia Coli dan Salmonella, tidak mengandung zat berbahaya seperti iodida, nitrit, nitrat, amonia, arsenik, barium, boron, dan kadmium, serta memiliki temperatur suhu 15 sampai 22 derajat celsius.

Kualitas air minum sangat dipengaruhi oleh pH dan suhu. Air dengan pH terlalu rendah dapat menyebabkan korosi dan pencemaran, sedangkan pH terlalu tinggi bisa memicu gangguan kesehatan seperti alkalosis. Selain itu, suhu tinggi juga mendorong pertumbuhan bakteri berbahaya seperti Coliform dan Escherichia coli, sehingga membuat air tidak aman untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, penting untuk menjaga pH dan suhu air dalam batas aman agar tetap layak dan sehat untuk diminum.

Hoirun Nisa tidak bisa memberikan tanggapan mengenai video yang beredar karena bersifat subjektif. Ia menyarankan, sebaiknya pembuat video dapat menjelaskan apa yang dirasakan setelah meminum air tersebut. Mulai dari rasa, bau, hingga warna air  apabila memiliki perbedaan dengan air minum yang biasa ia dikonsumsi. Hal tersebut akan lebih informatif dan mengedukasi. “Ini tergantung kepada tujuan pembuatan video tersebut. Apakah untuk menilai air minum secara objektif atau sebaliknya untuk konten saja,” ungkapnya.

Yusup Ginanjar, selaku Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Ahli Pertama mengatakan, mesin water drinking fountain menggunakan sumber air perpipaan langsung yang tersedia di masing-masing lokasi, bukan menggunakan air baku kemasan sehingga air yang dihasilkan selalu baru. Mesin itu juga sudah dilengkapi sistem proses filtrasi yang disebut Reverse Osmosis (RO), sistem penyaring molekul, di mana pori-pori filternya mencapai 1/1000 micron. Maka dari itu, zat padat hingga bakteri dapat tersaring sehingga membuat air tersebut aman dikonsumsi.

“Mengenai hal yang di video, kita akan kirimkan tim untuk memeriksa alat tersebut. Mesin diperiksa secara berkala, apabila ada kendala atau hal lainnya, bisa di info untuk ditindaklanjuti,” kata Yusup pada (30/7).

Ia juga menambahkan, pada mesin water drinking fountain, air bisa mengalir secara kontinu. Hasil dari proses filtrasi RO tersebut memiliki tangki tiga puluh liter, sehingga apabila airnya berkurang, otomatis mengisi sendiri. Hasil dari output mesin sudah melewati uji laboratorium bulan Mei 2025 dan sudah memenuhi syarat air minum sesuai aturan Permenkes RI tentang air minum.

Reporter: Siti Fadhila Widya Arianti, Anggita Rahma Dinasih
Editor: Rizka Id’ha Nuraini

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Lepas Landas Pengabdian Mahasiswa Previous post Lepas Landas Pengabdian Mahasiswa
Harus Redam Sebelum Malam Next post Harus Redam Sebelum Malam