Keluh Mahasiswa Atas Kondisi Musala FITK

Keluh Mahasiswa Atas Kondisi Musala FITK

Read Time:2 Minute, 3 Second
Keluh Mahasiswa Atas Kondisi Musala FITK

Sejumlah mahasiswa menilai kebersihan fasilitas musala FITK belum sejalan dengan standar tempat ibadah yang nyaman. Hal itu terlihat dari mukena, sajadah, dan sarung yang kurang terawat, serta kipas angin yang berdebu.


Perawatan musala Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi perhatian. Sejumlah mahasiswa mengeluhkan kebersihan fasilitas di musala itu, seperti mukena, sajadah, sarung, sandal untuk berwudhu, serta kipas angin yang berdebu. FITK memiliki musala di setiap lantainya, namun dengan pembagian gender yang berbeda. Perempuan menempati musala di lantai empat serta enam, dan laki-laki di lantai tiga, lima, serta tujuh. Sedangkan di lantai dua, terdapat musala untuk keduanya. 

Keluhan itu datang dari Sari—bukan nama sebenarnya—mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSA). Sebagai mahasiswi yang kerap melaksanakan salat di musala lantai dua gedung FITK, ia menyoroti kondisi mukena yang kusam dan rusak, serta kipas angin yang berdebu. “Karena mukenanya berbau tidak sedap jadi kita tidak nyaman. Apalagi mukenanya terkena pada kerudung, itu bikin kerudung kita juga ikutan bau,” ujar Sari, Senin (27/10).

Sari yang saat ini sudah menginjak semester tiga mengaku, kondisi itu sudah ia rasakan semenjak awal berkuliah di UIN Jakarta. Namun, ia tidak melihat ada perubahan yang berarti terhadap kondisi fasilitas di musala tersebut. Harapannya pihak kampus dapat lebih peka dan memperhatikan fasilitas, serta perawatannya. “Sajadah, mukena harus bersih, karena kita mau ibadah, makanya kita harus jaga kebersihan. Aku berharap fasilitas di musala bersih, termasuk kipas, bahkan lebih bagus jika ada pewangi ruangan, supaya lebih nyaman,” ujarnya.

Selaras dengan Sari, Salman, mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) merasa sajadah pada musala FITK berdebu dan terlalu sedikit, sehingga harus membawa sendiri. Selain itu, beberapa fasilitas, seperti sarung, dan sandal tidak tersedia. “Kalau misalnya wudhu kita suka telanjang kaki, karena tidak ada sandal di musala setiap lantai,” ujar Salman, Senin (27/10).

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) FITK, Iin Marlina menyebut setiap lantai memiliki petugas kebersihannya masing-masing. Akan tetapi, terdapat pengurangan karyawan yang sebelumnya dua orang menjadi hanya satu orang setiap lantainya. 

Kata Iin, hal tersebut memungkinkan kurang telitinya beberapa pekerja sehingga masih ada fasilitas di musala yang tak terawat. Maka dari itu ia berharap agar mahasiswa bisa saling mengingatkan dan menjaga kebersihan musala. “Perlu ada kesadaran dari para mahasiswa, misalnya saat selesai salat dirapikan kembali mukena atau alat salatnya. Saya sering nyapu sendiri karena selain kurangnya karyawan, kesadaran saya aja sih untuk membersihkannya,” ujar Iin, Kamis (30/10).

Reporter: RAA
Editor: Ilham Hidayat

Happy
Happy
33 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
67 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Dilema Pengisian EDOM Previous post Dilema Pengisian EDOM
Seruan Soeharto Bukan Pahlawan Next post Seruan Soeharto Bukan Pahlawan