
Masyarakat di Kampung Pemulung bertahan hidup dengan mengandalkan barang bekas sebagai sumber penghasilan, di tengah tekanan ekonomi dan biaya hidup yang terus meningkat.
Di balik deretan gedung tinggi kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, terdapat sekelompok warga yang menggantungkan hidupnya dari barang bekas. Aktivitas itu berlangsung di lahan yang dipenuhi karung-karung berisi botol plastik yang menjadi kegiatan ekonomi warga. Kawasan itu dikenal sebagai Kampung Pemulung.
Berbeda dari kehidupan Bintaro yang identik sebagai kawasan elite, mereka bekerja sejak pagi hingga malam untuk mendapatkan penghasilan yang tidak menentu. Salah satu pengelola lapak di kampung Pemulung, Acang (54), menceritakan perjalanan panjangnya merintis usaha mandiri di Kampung Pemulung sejak 2006. Ia merantau dari Tegal, Jawa Tengah pada tahun 1989.
Ia sempat menarik gerobak di jalanan Jakarta selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mampu membuka lapak sendiri.Kini, ia merasa bertanggung jawab membantu sesama pemulung agar tetap bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan kota. “Saya dulu juga memulung pakai gerobak. Di sini, saya ingin membantu teman-teman supaya memenuhi kebutuhan bersama,” ujar Acang, Sabtu (6/4).
Kondisi ekonomi yang semakin sulit membuat warga harus menekan biaya hidup agar tetap bertahan di tengah kebutuhan yang serba mahal. Ani (43), salah satu warga, menjelaskan cara ia mengatur pengeluaran harian keluarga dengan sangat ketat agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi.
Ani membatasi anggaran makan harian sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu agar sisa uang dapat digunakan untuk kebutuhan lain yang mendesak. Dengan jumlah itu, ia harus memastikan dapur tetap mengepul, meski dengan menu sederhana. “Kami makan apa saja yang penting perut terisi, supaya uang yang ada bisa dipakai untuk kebutuhan lain,” ucap Ani, Sabtu (6/4).
Untuk menyiasati kebutuhan pangan, warga memanfaatkan lahan kosong di sekitar tumpukan sampah untuk menanam singkong, bayam, dan cabai. Upaya ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Tanaman itu menjadi penopang di tengah penghasilan yang tidak pasti. “Makanya Pak Acang sambil menanam daun singkong, bayam, cabai untuk menghemat pengeluaran. Lumayan untuk makan,” kata Acang.
Selain kesulitan ekonomi, warga juga menghadapi tekanan sosial dari pandangan negatif masyarakat. Ani mengaku kerap mendapat tuduhan mencuri saat hendak mencari barang bekas. “Sering ada tuduhan mencuri saat kami mencari botol, padahal pekerjaan kami jujur dan tidak merugikan orang lain,” pungkasnya.
Di tengah kondisi tersebut, warga sesekali menerima bantuan dari komunitas dan relawan, mulai dari kegiatan belajar bagi anak-anak hingga bantuan kebutuhan pokok. Acang mengatakan bantuan tersebut biasanya datang dari mahasiswa dan donatur. Bantuan ini membantu meringankan kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung pendidikan anak-anak.
“Alhamdulillah sekarang kita diperhatikan oleh masyarakat, mahasiswa dan juga donatur,” ujarnya.
Meski dihimpit berbagai kesulitan, warga tetap menempatkan pendidikan anak sebagai prioritas. Di tengah keterbatasan, harapan untuk masa depan tetap dijaga. Acang terus mendorong para orang tua agar menyekolahkan anak setinggi mungkin demi memutus rantai kemiskinan. “Kalau bisa, putus mata rantai kemiskinan. Jangan sampai seperti orang tuanya. Anak-anak harus punya cita-cita setinggi mungkin,” ujar Acang.
Namun, harapan tersebut dibayangi kecemasan terkait status lahan tempat mereka tinggal. Acang mengeluhkan rencana pengosongan lahan oleh pihak pengembang Perseroan Terbatas (PT) Bintaro yang akan digunakan untuk pembangunan. Lahan yang ditempati warga diketahui bukan milik mereka, sehingga sewaktu-waktu dapat diminta dikosongkan.
“Kami diminta pindah dalam waktu singkat. Kalau tidak pergi, katanya akan diturunkan alat berat,” ungkap Acang.
Rencana penggusuran ini menjadi kekhawatiran terbesar bagi warga. Mereka merasa telah berupaya tertib dengan membayar iuran setiap tahun kepada ketua Rukun Tetangga (RT) setempat. “Harapannya jangan diusir dulu kalau lahannya belum dibangun, karena kami bingung harus pindah ke mana dalam waktu singkat,” pungkas Acang.
Reporter: SJF
Editor: Anggita Rahma Dinasih
