Karakter Seorang Filsuf

Read Time:2 Minute, 30 Second

Judul: Filosof Juga Manusia
Genre: Filsafat
Tahun: 2018
Halaman: 193

Filsafat merupakan ilmu mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya. Pelaku dari filsafat disebut sebagai filsuf yang cara hidupnya didasari oleh filsafat. Baik kebiasaan maupun cara hidupnya semua tak lepas dari filsafat itu sendiri. Perilaku filsuf dilandasi dengan rasa keingintahuan yang tinggi serta rasa kritis terhadap suatu hal sekecil apa pun.
Akan tetapi, stereotip tentang menghayati hidupnya sebagai filsuf adalah sesuatu yang tidak realistis dan abstrak. Oleh karena itu, status pemangku “sang filsuf” pun tercetak dalam image tukang debat menyebalkan serta membuat hal mudah menjadi susah yang menjadi predikat-predikat yang melekat dari filsuf.
Dalam pemahaman lama, filsuf adalah seseorang yang berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan esensial dan eksistensial tentang kehidupan. Pada masa kini, seorang filsuf, dalam penggunaan yang lebih sempit dan umum, adalah setiap intelektual yang telah membuat kontribusi dalam satu atau lebih kajian filsafat, seperti estetika, etika, epistemologi, logika, metafisika, filsafat, sosial dan filsafat politik.
Dalam buku “Filsuf Juga Manusia” karya Fahruddin Faiz membahas tentang filsafat, tetapi tanpa analisis filsufis. Buku ini mengambil sisi lain dari filsuf-filsuf besar dari barat. Beberapa juga mengungkap aib mereka.
Materi-materi dalam buku ini berisi hal unik dalam kehidupan filsafat-filsafat barat yang berbeda dengan buku filsafat yang membahas hal teoritis. Bagian buku ini yang menjadi ciri khasnya karena memuat sisi manusiawi filsuf dan bukan membebankan pada metodologi ilmiah yang berat untuk dibahas.
Bagian dari buku ini terdiri dari filsuf barat kecuali Mahatma Gandhi. Seperti halnya Socrates filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur paling penting dari bagian filsafat. Suatu ketika, seorang teman Socrates keheranan saat melihatnya di pasar tengah mengamati- amati barang-barang mewah yang dipamerkan. Ia bertanya kepada Socrates mengapa ia repot- repot ke pasar dan tidak membeli apa pun. Lalu Socrates menjawab “Aku selalu senang untuk
melihat berapa banyak barang yang tidak aku butuhkan,” tutur Socrates kepada temannya.
(halaman 58)
Sama halnya dengan Sigmund Freud yang seorang perokok seperti laki-laki pada umumnya. Juga Sigmund pernah menyatakan susah untuk mengerti apa yang diinginkan perempuan. Sigmund pula memerlukan teman setiap kali melakukan perjalanan karena ia tidak membaca jadwal kereta api.
Kejadian problematis pun pernah menghinggapi Arthur Schopenhauer seorang filsuf Jerman—bujang kaya berkat warisan orang tuanya. Saat itu, Schopenhauer banyak menerbitkan buku tetapi tidak laku dijual. Hingga ia membeli karya tulisnya sendiri untuk disimpan. Sampai ajal menjemputnya karya Schopenhauer barulah terkenal dan dari buku yang tadi disimpan banyak dibagikan.
Perkara dalam kehidupan dialami Stephen Hawking sebagai manusia pada umumnya tentang persoalan berumah tangga dan perceraian. Hawking menikah dengan muridnya Jane Wilde tahun 1965. Namun, di tahun 1991 mereka bercerai terjadi karena tekanan ketenaran dan kecacatan Hawking. Lalu menikah lagi dengan perawatnya, Elaine Mason dan pada Oktober 2006 Hawking
meminta bercerai dari istri keduanya.
Dari bahasan isi buku Filsuf Juga Manusia yang terdiri 193 halaman memiliki sisi positif dan negatif dari para filsuf. Karena filsuf juga manusia yang mempunyai sisi unik yang bisa
dijadikan cerita. Maka buku ini termasuk buku ringan yang tidak memuat bahasan ilmiah yang ngejelimet dan butuh dipahami secara mendalam.

Nurul Dwiana

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Dilema Industri Kelapa Sawit
Next post Potret Kilas Balik Tertuang dalam Foto Jurnalistik