Gelar Usaha, Kenalkan Sastra

Read Time:2 Minute, 17 Second

Menyediakan ragam karya sastra dari berbagai negara. Pemilik Warung Sastra  hendak memperbanyak referensi bacaan sastra bagi masyarakat.


Para penikmat sastra di Jogja pasti sudah familiar dengan Warung Sastra, sebuah toko buku kekinian di kawasan Tegalrejo yang berdiri sejak 2022. Selayaknya warung lain, toko berslogan “Buku, Kopi, Penyetan” ini mempersilakan pengunjung untuk membeli atau membaca buku sembari menyantap berbagai hidangan. Diskusi sastra yang kerap terselenggara di lokasi tersebut menjadikannya tempat nongkrong para komunitas sastra di Jogja.

Lokasi Warung Sastra berjarak sekitar 10 menit dari Jalan Malioboro yang dapat ditempuh menggunakan mobil atau motor. Sementara itu, pengunjung dari luar kota dapat berhenti di Stasiun Tugu kemudian melanjutkan perjalanan dengan Ojek Online. Warung Sastra menerima pengunjung setiap Senin hingga Sabtu pukul 15.00–22.00 WIB. 

Salah satu Pemilik Warung Sastra, Ari Bagus Panuntun—akrab disapa Bagus—menuturkan, pada awalnya penjualan buku hanya dilakukan secara daring pada 2017. Seiring dengan peningkatan jumlah pembeli, ia dan rekannya, Andrean Ilham Listyadi memutuskan untuk mendirikan toko buku fisik. Tak hanya itu, sebuah perpustakaan juga tersedia di Warung Sastra. “Cita-cita dari dulu memang punya toko buku berkonsep warung. Jadi orang bisa nongkrong, ngopi, dan baca buku,” ujar Bagus, Selasa (16/1).

Sejak awal berjualan buku, Bagus mengaku sering mengunjungi berbagai penerbit buku seperti Mojok, Interlude, dan Diva Press. Berkat kunjungannya itu, ia mengenal lebih banyak orang, menambah pengetahuan tentang perbukuan, hingga mendapat titipan buku untuk dijual. “Saat ini, 70–80% buku yang dijual di Warung Sastra adalah titipan penerbit,” ungkap Bagus. 

Bagus menuturkan, karya dari para penulis masyhur seperti Tere Liye dan Andrea Hirata mendominasi rak-rak berbagai toko buku besar saat ini. Keberadaan Warung Sastra bertujuan memperkenalkan masyarakat pada alternatif bacaan sastra yang juga berkualitas. “Kami memberikan rekomendasi, misal karya sastra asal Prancis, Inggris, atau Jepang, supaya masyarakat punya lebih banyak referensi,” tutur Bagus. 

Salah satu pengunjung asal Madura, Faizis Sururi mengungkapkan alasannya berkunjung ke Warung Sastra. Selain karena kopinya yang cocok di lidah, toko buku tersebut juga sering menghadirkan para penulis buku dalam diskusi sastra. “Koleksi bacaan Sastra Prancis di perpustakaannya juga banyak,” tutur Faizis, Kamis (25/1).

Pengunjung lain asal Kebumen, Annas mengungkapkan, dirinya mengetahui Warung Sastra sejak menjadi mahasiswa. Ia kerap berkunjung ke sana dan mendapatkan referensi bacaan dari sang pemilik toko buku. “Salah satu buku yang saya baca dan berkesan adalah tetralogi bukunya Pramoedya Ananta Toer. Bacaan itu disarankan oleh mas Bagus,” tutur Annas, Selasa (16/1).

Annas juga berharap Warung Sastra dapat mempopulerkan karya sastra ke khalayak umum. Sebab, menurutnya, masyarakat masih beranggapan bahwa karya sastra merupakan bacaan berat dan adiluhung—bermutu tinggi—sehingga perlu dipelajari secara khusus. “Padahal, sesuai pengalamanku, sastra itu bisa menjadi bacaan yang menyenangkan dan bisa dibaca semua kalangan,” pungkasnya.

Reporter: Ibrahim Haikal Putra Abadi

Editor: Shaumi Diah Chairani

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Berawal Dari Hobi, Ciptakan Ratusan Buku
Next post Kisah Makhluk Berpikir: Realita Organisasi Ekstra Kampus