
UKM Teater Syahid kembali menggelar Studi Pertunjukan 2026 yang bertajuk ‘Semar Mencari Raga’. Melalui kisah seorang penguasa yang menggunakan simbol Semar untuk melegitimasi kekuasaannya, pertunjukan ini mengangkat tema kepemimpinan, politik, dan kekuasaan.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Syahid menggelar Studi Pertunjukan 2026 bertajuk ‘Semar Mencari Raga’ yang disutradarai oleh Holifah Wira. Pementasan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat (5/6) hingga Minggu (7/6), di Aula Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Holifah Wira menjelaskan bahwa pementasan tersebut mengisahkan upaya seorang pemimpin desa atau penguasa desa yang ingin mengkultuskan dirinya melalui semar agar memperoleh kehormatan sebagai sosok yang suci, spiritual, dan dihormati oleh masyarakat. “Jadi dia menggunakan atribut-atribut semar untuk melegitimasi kekuasaannya,” ujar Holifah, Sabtu (6/6).
Tema Semar Mencari Raga ini berangkat dari ketertarikan Holifah pada sosok semar. Menurutnya, semar masih menjadi sosok panutan hingga kini. Bukan hanya bagi masyarakat Jawa, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Ketika mengingat kembali sosok semar, sebenarnya kita telah memiliki teladan mengenai pemimpin yang baik,” jelas Holifah.
Melalui pertunjukan ini, Holifah ingin mengajak penonton untuk kembali kepada nilai-nilai falsafah yang selama ini mulai memudar, khususnya falsafah semar dalam kepemimpinan, politik, dan kekuasaan. Ia menilai nilai-nilai tersebut masih relevan dengan kondisi bangsa saat ini. “kita harus lebih mengkritis lagi tentang kondisi bangsa ini melalui pertunjukan, sekecil apapun suaranya,” ucap Holifah.
Stage Manager Pementasan, Muhammad Adzka Nanda mengungkapkan bahwa persiapan menuju pertunjukan ini berlangsung selama tiga bulan. Tantangan yang ia dan tim Teater Syahid hadapi selama persiapan hingga pertunjukan digelar adalah aktor yang sakit atau izin, serta kendala teknis yang tidak memungkinkan untuk latihan. “Menjelang pementasan, banyak juga aktor yang sakit. Tapi, dari segi produksi itu sudah menanganinya dengan cepat dan sigap,” ucap Azka, Sabtu (6/6).
Intan Dewi Anggraeni, penonton asal Fakultas Psikologi. Menurutnya, Semar Mencari Raga mengingatkan bahwa kehidupan tidak seharusnya didasari oleh ego semata. Ia menilai manusia dapat berubah ketika dihadapkan pada kepentingan pribadi yang menguntungkan dirinya. “Manusia bisa berubah-ubah. Ketika ada sesuatu yang menguntungkan dirinya, ia bisa saja bertindak hanya untuk kepentingannya sendiri,” ujar Intan, Sabtu (6/6).
Sebagai orang yang pertama kali menonton pertunjukan teater, Intan mengapresiasi jalannya pementasan tersebut. Menurutnya, pertunjukan berlangsung dengan baik dari awal hingga akkhir. Ia juga menilai para pemain benar-benar menjiwai setiap peran yang mereka mainkan. “Bener ngerasa puas banget sih, karena bagus banget, peran perannya itu tuh bener-bener dijiwai sama mereka, apalagi persiapannya itu berbulan-bulan kan, jadi ngerasa kayak mereka keren banget sih,” ungkapnya.
Reporter: SJF
Editor: Rifki Kurniawan
