Menjahit Luka di Pondok Ranggon

Menjahit Luka di Pondok Ranggon

Read Time:2 Minute, 37 Second
Menjahit Luka di Pondok Ranggon

Prasasti Pelanggaran HAM Tragedi Mei 1998 kokoh berdiri di TPU Pondok Ranggon untuk menyimpan ingatan tentang pelanggaran HAM masa lalu.


Perjalanan dimulai dari Stasiun Pondok Ranji, Tangerang Selatan Menuju Stasiun Palmerah, Jakarta Barat menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Dalam perjalanan, suasana gerbong tampak ramai khas hiruk pikuk perkotaan. Terlihat penumpang berdiri berdesakan, sebagian menunduk menatap layar ponsel, sebagian lainnya berusaha mencuri waktu untuk beristirahat di tengah perjalanan.

Sesampainya di Stasiun Palmerah, perjalanan dilanjutkan menggunakan bus TransJakarta sampai ke Halte Gerbang Pemuda, Jakarta Pusat  lalu kembali berpindah ke TransJakarta Koridor 9 dengan arah Pinang Ranti sebagai titik akhir.

Setibanya di Pinang Ranti, perjalanan dilanjutkan menggunakan ojek online menuju TPU Pondok Ranggon. Saat motor melaju memasuki kawasan pemakaman toko-toko bunga berjajar rapi, diselingi penjual batu nisan dengan berbagai ukuran dan bentuk di sisi kiri dan kanan jalan.

Sesampainya di dalam area TPU, mata saya tertuju pada sebuah monumen berbentuk tangan. Bukan patung utuh, melainkan bentuk tangan yang terbungkus kain, dengan jahitan yang terlihat di bagian jari-jarinya. Semakin dekat dengan monumen tersemat kalimat Prasasti peringatan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Tragedi Mei 1998. 

Di bagian depan prasasti, tertulis penjelasan mengenai Monumen Mei 1998. Tulisan tersebut menjelaskan sejarah kelam pelanggaran HAM 98, ketika kekerasan yang merenggut ribuan nyawa, termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan. Membaca tulisan itu di bawah terik matahari, tenggorokan saya mengeras. 

Tak jauh dari prasasti, terdapat deretan makam korban Tragedi Mei 1998. Jumlahnya puluhan, berjajar rapi dengan nisan yang seragam. Tidak ada nama, tidak ada usia, hanya satu kalimat “Korban Tragedi 1998”. 

Usai berziarah, saya menuju kantor pengelola TPU untuk mencari informasi lebih lanjut. Di sana, saya bertemu dengan Jayadi, admin TPU Pondok Ranggon. Ia menjelaskan tujuan keberadaan monumen Prasasti Peringatan Tragedi Mei 1998 sebagai pengingat agar kejadian serupa tidak terulang.

“Sejarah memang pahit, tetapi tetap harus diingat. Tidak untuk terus melukai, melainkan agar bangsa ini belajar,” terang Jayadi, Kamis (26/2).

Berdasarkan catatan yang ada, Jayadi menyebutkan bahwa jumlah korban yang dimakamkan di area tersebut sekitar 129 orang. Ia juga menjelaskan bahwa makam-makam korban Tragedi 1998 memang tidak memiliki identitas seperti nama, maupun keterangan personal lainnya. “Kami tidak punya data identitas korban yang dimakamkan di sini. Dari awal memang sudah tanpa nama, jadi kami tidak berani menyebutkan siapa-siapa. Yang ada hanya catatan jumlahnya saja,” ujarnya.

Setiap tahunnya, khususnya pada bulan Mei, area ini kerap menjadi lokasi ziarah dan peringatan Tragedi Mei 1998. Namun di luar bulan itu, suasana TPU cenderung sepi. “Paling hanya satu atau dua orang yang datang, dan biasanya langsung ke makam tanpa ke kantor,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa peziarah yang datang umumnya berasal dari organisasi dan komunitas, diselingi dengan keluarga korban. Ia menjelaskan, ketika ada kegiatan ziarah bersama, pihak penyelenggara dapat berkoordinasi secara lisan dengan pengelola TPU, tanpa prosedur administrasi yang rumit.

Terkait perawatan makam dan prasasti, Jayadi menyebutkan bahwa pengelolaan kawasan TPU Pondok Ranggon berada di bawah naungan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta. Perawatan sehari-hari dilakukan oleh pengelola TPU. Menurutnya, sejauh ini tidak ada kendala berarti, baik dari sisi anggaran maupun kondisi lingkungan. “Kami menjalankan tugas sesuai tanggung jawab yang ada,” katanya.

Reporter: SJF
Editor: Rifki Kurniawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Petaka Manipulasi Terselubung Child Grooming Previous post Petaka Manipulasi Terselubung Child Grooming
Dari Ruang Kelas Gencarkan Edukasi Digital Next post Dari Ruang Kelas Gencarkan Edukasi Digital