Merawat Ingatan Perjuangan Reformasi

Merawat Ingatan Perjuangan Reformasi

Read Time:3 Minute, 40 Second
Merawat Ingatan Perjuangan Reformasi

Museum Tragedi 12 Mei 1998 Universitas Trisakti didirikan sebagai ruang peringatan atas gugurnya empat mahasiswa dalam perjuangan reformasi. Meski belum direvitalisasi sejak berdiri, museum ini terus menyimpan jejak sejarah dan diharapkan mampu menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda.


Museum tragedi 12 Mei 1998 Universitas Trisakti, yang terletak di Kampus A Universitas Trisakti, Jakarta Barat didirikan sebagai bentuk upaya mengenang dan menghormati peristiwa tragis pada 12 Mei 1998. Pembangunan museum tersebut diketuai oleh Eka Sediadi Rasyad. Awalnya, ruangan museum merupakan terusan dari lobi Gedung M Universitas Trisakti. Namun, pasca peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti yang menewaskan empat orang, ruang tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi museum peringatan.

Kartika Maulina, Staf Humas Universitas Trisakti mengatakan, museum tersebut didirikan sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban tragedi 12 Mei 1998, sekaligus pengingat akan pentingnya demokrasi, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Museum Tragedi 12 Mei 1998 menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan langsung dengan peristiwa tersebut. Koleksi tersebut terdiri atas barang-barang pribadi milik korban, seperti tas, almamater, dan buku, yang digunakan para mahasiswa saat mengikuti aksi demonstrasi. 

Selain itu, museum juga menyimpan barang bukti kejadian, antara lain peluru tajam dan selongsong gas air mata yang digunakan aparat pada saat peristiwa berlangsung. Tidak hanya itu, dokumentasi berupa foto dan rekaman video yang diperoleh dari berbagai media massa pada masa kejadian juga tersedia. “Barang-barang yang ada di museum ini sebagian besar merupakan milik korban dan bukti langsung dari peristiwa saat itu,” ujar Kartika melalui pesan WhatsApp, Kamis (11/12).

Hingga saat ini, bangunan Museum Tragedi 12 Mei 1998 belum pernah mengalami proses revitalisasi sejak pertama kali dibangun. Meski demikian, pihak pengelola menyebutkan bahwa rencana revitalisasi museum telah ada. Revitalisasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas fasilitas museum serta kenyamanan pengunjung dalam mempelajari sejarah tragedi 1998.

Kartika berharap, keberadaan Museum Tragedi 12 Mei 1998 dapat menjadi sarana pembelajaran sejarah, khususnya bagi generasi muda. Selain itu, tragedi yang terjadi pada tahun 1998 tidak dilupakan dan dapat menjadi pelajaran penting agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang. “Harapannya, masyarakat tidak melupakan sejarah kelam yang pernah terjadi pada tahun 1998 dan dapat mengambil pelajaran berharga dari peristiwa tersebut,” tuturnya.

Gylberth Sylvano Samberi, mahasiswa Universitas Trisakti Fakultas Arsitektur Lanskap dan Teknologi Lingkungan (FALTL), Program Studi (Prodi) Perencanaan Wilayah dan Kota berpendapat, pendirian museum tragedi merupakan langkah penting agar sejarah tidak dilupakan. Menurutnya, museum tersebut secara tidak langsung menuntut generasi saat ini untuk terus mengingat peristiwa kelam yang pernah terjadi di kampus Trisakti. 

“Dengan adanya museum untuk mengenang suatu tragedi, itu secara tidak langsung menuntut kita supaya tidak melupakan sejarah kelam, terutama yang menimpa abang-abang kita yang meninggal pada tragedi 12 Mei tersebut,” ujar Gylberth, Senin (8/12).

Gylberth menjelaskan bahwa museum tersebut sering dikunjungi oleh mahasiswa, khususnya dalam kegiatan akademik dan organisasi. Ia mengaku cukup sering mendatangi museum karena adanya kewajiban dalam kegiatan latihan kepemimpinan di fakultasnya. “Di masing-masing fakultas ada kegiatan latihan kepemimpinan dasar sampai tingkat lanjut, dan dalam kegiatan itu kami diwajibkan mempelajari langsung tragedi 12 Mei. Jadi saya cukup sering ke museum dan ke tugu peringatannya,” ungkapnya.

Gylberth menegaskan bahwa Museum Tragedi 12 Mei 1998 harus tetap dipertahankan. Menurutnya, sejarah tidak boleh dihapus atau dilupakan, namun pengelola kampus perlu melakukan pembaruan agar museum tetap relevan dengan perkembangan zaman. “Kalau menurut saya, museumnya tetap harus ada karena sejarah tidak boleh dilupakan. Tapi mungkin perlu revitalisasi agar lebih modern dan mengikuti perkembangan zaman, misalnya dengan menambahkan unsur elektronik atau digital,” ujarnya. 

Selaras dengan Gylberth, Sasi Kirana, mahasiswi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Trisakti turut memberikan pernyataan. Menurutnya, dengan adanya museum di tengah lingkungan kampus membuat mahasiswa memiliki kebanggaan tersendiri untuk kampusnya. Ia menyoroti koleksi-koleksi yang ada di dalam museum tersebut yang dinilai memiliki cerita tersendiri dari setiap koleksinya. “Bagus sih, apalagi banyak koleksi peninggalan abang-abang kita yang saat itu berjuang untuk reformasi,” kata Sasi, Senin (8/12). 

Sasi menambahkan, dirinya merasa bangga dengan kampus tempatnya menimba ilmu. Hal itu lantaran banyak perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh para alumnusnya, yang kemudian menjadikan Universitas Trisakti dikenal sebagai kampus reformasi. Harapannya, mahasiswa trisakti senantiasa berkunjung ke museum 12 Mei, guna mengingat perjuangan yang telah dilakukan oleh para mahasiswa Trisakti dahulu. “Untuk mengingat perjuangan yang dilakukan sama mahasiswa Trisakti pada masa itu, jadi sangat penting untuk berkunjung ke museum 12 Mei,” pungkasnya.

versi cetak artikel ini terbit dalam Tabloid Institut Edisi LXX dengan judul Museum Tragedi Trisakti, Penjaga Ingatan Perjuangan Reformasi

Reporter: Ilham Hidayat, Muhammad Firda Hasan
Editor: Naila Asyifa

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Kaum Minoritas di Tengah Stereotipe Masyarakat Previous post Kaum Minoritas di Tengah Stereotipe Masyarakat
Lingkungan Dibela, Alam Tetap Merana Next post Lingkungan Dibela, Alam Tetap Merana