
Berada di tengah masyarakat dengan anggapan umum yang sudah mengakar, membuat mereka dengan orientasi seks berbeda sering tersisihkan. Hal itu menjadikan mereka hidup dengan segala stereotipe yang membebani.
Judul Buku : Gula, Gula, Gula
Penulis : Nuril Basri
Penerbit : Indonesia Tera
Tahun Terbit : 2022
Jumlah Halaman : 440
Golongan minoritas hadir berdampingan di ruang yang sama dengan masyarakat luas. Meski demikian, mereka kerap dianggap sebagai “orang yang berbeda”. Pada akhirnya, stereotipe itu memunculkan tindakan diskriminatif. Seperti halnya yang diceritakan dalam buku Gula, Gula, Gula, karya Nuril Basri. Nuril menggambarkan bagaimana seorang dengan orientasi seks berbeda kurang mendapat pengakuan di Indonesia. Namun, kondisi itu tak berlaku di tempta lain, salah satunya Berlin, Jerman.
Cerita berawal dari tokoh Yusuf, seorang anak yang kebanyakan hidupnya berada di salah satu pesantren di Kota Tangerang. Selama menempuh pendidikan di pesantren itu, Yusuf memenuhi kebutuhan atas bantuan dari salah seorang kakak tingkatnya bernama, Ali. Hingga pada akhirnya Yusuf memilih untuk memulai kehidupan baru di luar pesantren, bantuan Ali tak pernah hilang.
“Ini ada sedikit duit simpanan ane. Ente pake untuk modal hidup ente di luar,” ucap Ali kepada Yusuf dalam buku tersebut.
Bermodal uang sembilan ratus ribu rupiah pemberian Ali, Yusuf memulai hidup barunya. Dalam upaya mencari tempat tinggal, Yusuf bertemu dengan Jajang. Singkat cerita, Jajang menjadi teman sekamarnya di rumah susun yang mereka tinggali. Kedekatan keduanya sering mendapat pandangan miring dari masyarakat. Terlebih Yusuf yang memang memandang orientasi seks bukan seperti pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya.
Seiring berjalannya waktu, mereka berhasil mendirikan bisnis bersama. Hasil bisnis itu, membawa mereka hingga bisa menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Hal itu sekaligus menjadi titik balik Yusuf dalam memandang sebuah hal yang tabu pada masyarakat Indonesia, yaitu orientasi seks berbeda dengan pandangan umum masyarakat.
Saat berada di Pulau Dewata inilah Yusuf berkenalan dengan pria berkebangsaan asing bernama Volker. Pertemuan itu yang pada akhirnya membawa Yusuf ke Berlin—kota Volker. Di sana ia menemukan, orientasi seks berbeda yang dianggap sebagai penyimpangan dalam pandangan umum masyarakat Indonesia, mendapat penerimaan. Bahkan, hidup Yusuf sebagai pasangan Volker di Berlin bagaikan suatu hal yang lumrah terjadi.
Di Berlin, Yusuf tinggal serumah bersama Volker. Namun hal itu tak berjalan lama. Yusuf terpaksa angkat kaki dari kediaman Volker setelah tiga bulan lamanya. Setelah pengusiran itu, Yusuf menjalankan sisa waktunya di Jerman dengan berpindah dari satu penginapan ke penginapan lain. Kondisi itu membuat uang untuk melanjutkan hidupnya kian menipis.
Menyiasati keterpurukan itu, Yusuf memberanikan diri untuk membuka jasa pijat lewat aplikasi Grindr. Grindr merupakan aplikasi jejaring sosial berbasis lokasi yang populer di kelompok gay, biseksual, queer, dan transgender. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk sekadar mengobrol (chatting), mengirim foto, atau pun berbagi lokasi dengan pengguna lain.
Mengutip dari Indonesiatera.com, Nuril Basri memandang persekusi terhadap golongan minoritas datang bukan hanya dari lingkungan luar, tetapi juga kerap muncul dari lingkaran terdekat dipicu oleh intrik dan kecemburuan sosial. Hal itu yang mendasarinya mengangkat tema kontroversial ini dalam novel Gula, Gula, Gula.
Nuril berusaha menggambarkan sedetail mungkin bagaimana stigma terhadap orang dengan orientasi seks berbeda memunculkan tindakan diskriminatif. Karakter-karakter yang hadir dalam novel itu mengalami diskriminasi tanpa bisa melakukan banyak perlawanan. Hal itu membuat mereka hanya bisa menertawakan takdir yang tengah berlangsung.
Meski alur cerita yang agak bertele-tele, Nuril tetap mampu menjaga koherensi setiap fenomena yang ia ceritakan. Hal itu membuat pesan yang ingin ia sampaikan tetap mendapat tempat di dalam pikiran pembaca.
Sederhananya, novel ini ingin menyampaikan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk menyakiti. Orientasi seks yang berbeda dengan pandangan umum bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan keadaan yang terjadi dari putusan takdir terhadap seorang manusia.
Versi cetak artikel ini terbit dalam Tabloid Institut Edisi LXX dengan judul yang sama.
Reporter: Hailen Ummul Choiriah
Editor: Anggita Rahma Dinasih
