Meja Hijau dalam Genggam Korporasi

Meja Hijau dalam Genggam Korporasi

Read Time:3 Minute, 6 Second
Meja Hijau dalam Genggam Korporasi

Judul Buku: Teruslah Bodoh Jangan Pintar

Penulis: Tere Liye

Penerbit: PT. Sabak Grip Nusantara

Tahun Terbit: 2024

Cetakan: Pertama

Jumlah Halaman: 371 halaman

Apa yang terjadi ketika kebenaran tidak lagi dihargai dalam sistem hukum? Apa yang terjadi ketika keserakahan menjadi hal yang biasa dan suara rakyat teredam oleh tumpukan uang sogokan? Dalam novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar, Tere Liye menghadirkan kisah yang berani, gelap, dan penuh kritik. Sebuah cerminan tajam tentang kondisi bangsa yang sering kali memilih diam menghadapi ketidakadilan.

Cerita dimulai dengan suasana persidangan terhadap sebuah perusahaan tambang besar yang melakukan penggusuran paksa, pencemaran lingkungan, dan praktik suap terhadap aparat penegak hukum. Di ruang sidang itu, bukan hanya soal hukum yang menjadi sorotan, melainkan jeritan batin rakyat kecil yang selama ini dipaksa bungkam. Akan terlihat petani yang lahannya digusur, ibu hamil yang kehilangan janinnya akibat pencemaran air, aktivis yang dikejar pasal, hingga anak muda yang kehilangan keluarga karena tanah leluhur mereka dihancurkan oleh kepentingan modal.

Cara Tere Liye menyampaikan cerita dengan bahasa yang lugas namun tetap menyiratkan keindahan yang puitis membuat novel ini sangat istimewa. Konflik sosial seperti tambang ilegal, relasi kuasa antar korporasi dan negara, serta hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, dikupas secara gamblang tanpa kehilangan sisi emosional. Pembaca akan ikut marah, ikut lelah, ikut takut, dan ikut menangis bersama para tokohnya, karena konflik mereka bukan sekadar fiksi, tapi realitas yang terasa akrab.

Kenyataan yang diangkat dalam buku ini tidak jauh berbeda dari kondisi Indonesia saat ini. Rentang tahun 2000 sampai 2025, Tempo mencatat lima kasus besar tentang kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan, seperti pencemaran Teluk Minahasa dan Freeport yang jadi pertanda lemahnya pengawasan industri tambang. Di lain pihak, Kompas melaporkan bahwa terdapat lebih dari 44.000 lubang bekas tambang ilegal di Kalimantan Timur yang dibiarkan menganga tanpa reklamasi. Kawasan itu telah menelan 45 nyawa, merusak jalan dan sumber air, hingga membahayakan nyawa anak-anak. Hal itu adalah contoh nyata bagaimana ‘hukum tumpul ke atas’ terus berlangsung.

Lebih jauh, di Raja Ampat dan pulau kecil sekitarnya, tambang nikel mengancam ekosistem laut, merusak hutan pesisir, dan memaksa masyarakat adat kehilangan wilayah mereka. Aktivitas tambang di pulau kecil yang semestinya dilarang, terus berlangsung karena investasi didukung undang-undang yang berpihak pada investor, bukan rakyat. Ini cerminan lengkap dari apa yang digambarkan Tere Liye: keserakahan korporasi yang terlindungi oleh sistem, sementara suara rakyat tak pernah didengar.

Meski isu yang diusung sangat kuat, beberapa bagian cerita terasa terburu-buru, terutama dalam penyelesaian semua konflik yang terlalu memaksa di akhir cerita. Seluruh karakter dalam buku ini juga cenderung digambarkan terlalu ekstrem, sehingga membuat mereka seolah terlalu baik atau jahat, tanpa nuansa abu-abu yang lebih manusiawi. Namun, kelemahan ini tidak mengurangi kekuatan utama novelnya, yaitu keberanian mengangkat isu-isu penting yang sering disembunyikan dalam diam.

Dari semua karya Tere Liye yang memuat kritik sosial, Teruslah Bodoh, Jangan Pintar mungkin yang terkuat. Kalimat “menjadi bodoh adalah satu-satunya cara untuk tidak ikut-ikutan jahat,” bukan sekadar kutipan, melainkan tamparan keras bagi siapa saja yang masih mencoba mempertahankan nurani di tengah dunia yang telah rusak oleh kepentingan.

Novel ini bukan sekadar bacaan, melainkan panggilan jiwa. Ia mengajak kita berpikir ulang tentang definisi ‘pintar’ dalam konteks hari ini. Apakah pintar berarti cerdik menipu, lihai menyogok, atau mampu membungkam kebenaran demi kenyamanan pribadi? Dalam dunia seperti itu, menjadi ‘bodoh’ bisa jadi satu-satunya pilihan untuk tetap waras.

Pesan dari novel ini menekankan untuk jangan takut menjadi berbeda, jangan lelah memperjuangkan yang benar, dan jangan pernah merasa sendirian dalam melawan ketidakadilan. Dunia tidak akan berubah oleh orang-orang yang diam, melainkan oleh mereka yang tetap berdiri meski ditertawakan, diremehkan, bahkan dianggap bodoh.

Versi cetak artikel ini terbit dalam Tabloid Institut Edisi LXIX dengan judul yang sama. 

Penulis: Siti Fadhila Widya Arianti
Editor: Muhammad Arifin Ilham

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Menilik Masyarakat Pedalaman Banten Previous post Menilik Masyarakat Pedalaman Banten
Pemasangan Tiba-tiba, Tanpa Aba-aba  Next post Pemasangan Tiba-tiba, Tanpa Aba-aba