Tak Ada yang Berhak Melabeli Kebenaran

Read Time:3 Minute, 10 Second

Judul Buku: Merasa Dekat dengan Tuhan itu Godaan yang Berat

Penulis: Muhammad Zaid Su’di

Penerbit: Buku Mojok

Tahun Terbit: 2022

Cetakan: Pertama

Jumlah Halaman: 129 halaman

Manusia sering merasa selalu benar ketika sudah taat beribadah pada Tuhan. Akibatnya, ia tak mau menerima pandangan orang lain yang kadangkala berbeda.


Manusia sering kali merasa benar, tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka bisa salah. Perasaan tersebut berawal dari ketidaktahuan bahwa dirinya bisa tidak mengetahui suatu hal. Ini terjadi karena mereka merasa dekat dengan Tuhan Yang Maha Benar. Secara otomatis, timbul anggapan bahwa mereka dekat dengan kebenaran. Dalam Islam, hal seperti ini sering terjadi tatkala seorang muslim mulai taat beribadah pada Tuhan.

Anggapan tersebut akan menimbulkan kelucuan dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan tak jarang menghasilkan kebodohan yang berakibat kerugian. Dalam buku “Merasa Dekat Dengan Tuhan itu Godaan yang Berat” tercatat kisah seorang pemuda yang rumahnya akan tenggelam banjir. Datang padanya seseorang dengan perahu menawarkan bantuan, namun ia menolak dengan jawaban bahwa Tuhan akan menolongnya. 

Pertolongan kembali datang padanya lewat seseorang dengan perahu, lalu seseorang dengan helikopter. Jawaban yang sama tetap ia lontarkan hingga dirinya mati tenggelam. Pemuda tersebut merasa bahwa perbuatannya benar. Sebab, ia merasa menjadi manusia yang soleh lantaran senantiasa beribadah pada Tuhan. Ia beranggapan bahwa Tuhan akan menolongnya tanpa sadar bahwa kedatangan bantuan tersebut merupakan pertolongan Tuhan.

Selain itu, perasaan merasa benar akan menimbulkan pertikaian dengan agama minoritas lainnya yang tentu punya pandangan berbeda. Ditambah lagi posisi sebagai penganut agama mayoritas akan melebarkan potensi diskriminasi terhadap agama minoritas. 

Jangankan dengan agama lain, sejatinya perasaan merasa benar kerap kali menimbulkan kegaduhan dengan orang yang seagama. Dalam beragama, penafsiran serta pandangan berbeda terhadap perkara yang sama sering terjadi. Perbedaan itu dengan mudahnya menjadi alasan orang-orang yang sempit pemikiran untuk melabeli orang lain sesat.

Lewat buku terbitan Mojok.co ini, Muhammad Zaid Su’di berusaha mencatat peristiwa seperti itu. Ia merespons sembari memberikan penjelasan bahwa perbuatan mereka merupakan suatu kesalahan. Su’udi berusaha menyampaikan tidak ada agama yang benar-benar selesai. Dalam pengertian, saat beragama, apapun agamanya teruslah belajar, mencari tahu, dan berdialog agar tidak terkekang dalam pemikiran yang sempit. 

Buku Su’di ini juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang menjadikan agama sebagai momok yang menakutkan. Agama disampaikan sebagai hukuman atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia. Saat tidak sholat, para orang tua mengingatkan dengan berkata bahwa perbuatannya akan membuat Tuhan murka. Kelembutan dan kasih sayang dalam agama kabur dengan penggambaran-penggambaran tersebut.

Su’udi merupakan lulusan Program Studi (Prodi) Tafsir Hadis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebelumnya ia seorang santri dari Pondok Pesantren Qomaruddin, Gresik, Jawa Timur. Selain menulis di media online, Su’udi sempat menjadi penerjemah. Salah satu karya terjemahannya Arbain Ghazali dari kitab al-Arbain fi Ushul al-Din karya Imam al-Ghazali.

Buku ini memaparkan kejadian yang sering ditemui saat ini sehingga cukup relevan untuk dibaca. Banyak manusia merasa serba tahu lalu mudah melabeli orang lain sesat, padahal ia hanyalah seorang yang baru belajar. Penafsiran berbeda tentang suatu persoalan dianggap salah lantaran belum pernah ia dengar. Ditambah dengan penyajian tulisan naratif yang mempermudah dalam mendapat pengetahuan, menjadikan buku ini cocok dibaca siapapun dan kapanpun.

Dari buku ini juga terlihat bahwa pesan agama juga bisa sampai dengan cara yang humoris. Cerita-cerita menggelitik yang penuh hikmah mampu mengatasi kebosanan orang-orang yang selalu diberi gambaran menakutkan soal agama. Meskipun pernyataan di dalamnya terkesan cukup keras dan bebas, buku ini turut menjadikan kisah-kisah Nabi dan Sahabat sebagai dasar argumen. Hal itu menjadikan buku ini tetap agamis, dengan bentuk yang liberal dan kritis.

Penulis memang tidak secara gamblang memberikan pernyataan salah tentang sikap manusia sebagaimana cerita dalam buku ini. Barangkali, penulis ingin pembaca mampu menilai serta memetik hikmah yang lebih banyak dari cerita yang tersaji tanpa kesan menggurui. Tentunya, hal itu tak akan mengurangi kualitas pengetahuan yang tersaji.

Reporter: MAI
Editor: Nabilah Saffanah

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Carut-Marut Revisi UU Penyiaran
Next post Harapan KKN di Desa, Realita Dekat Kampus