Darurat Perundungan di Lingkungan Kampus

Darurat Perundungan di Lingkungan Kampus

Read Time:4 Minute, 1 Second
Darurat Perundungan di Lingkungan Kampus

Kasus perundungan kian marak terjadi di pendidikan Indonesia. Melansir dari laman goodstats.id, berdasarkan data Jaringan Pemantauan Pendidikan Indonesia (JPPI), kasus kekerasan di sekolah melonjak  tercatat selama periode 2020-2024,  pada 2020 terdapat  91 kasus, angka itu terus naik menjadi 142 kasus pada 2021, lalu 194 kasus di 2022. Angka tersebut meningkat  pada 2023 dengan total 285 kasus, hingga puncaknya terjadi pada 2024, tercatat menjadi yang tertinggi sebesar 573 kasus. Terlebih, mengutip dari ykp.or.id, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  juga mencatat setidaknya sepanjang Januari hingga Oktober 2025, terdapat 61 anak menjadi korban perundungan di sekolah. 

Fenomena serupa terjadi di perguruan tinggi. Melansir dari laman idntimes.com, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengungkapkan 520 laporan perundungan sepanjang tahun 2023. Kemendikbudristek juga mencatat terdapat 310 laporan kekerasan di perguruan tinggi selama periode 2021-2024, dari total data laporan tersebut menunjukkan bahwa kasus didominasi oleh kekerasan seksual sebesar 49,7%,  disusul perundungan 38,7%, dan intoleransi 11,6%.

Berdasarkan jurnal Universitas Mitra Indonesia, penyebab terjadinya perundungan itu didasarkan oleh berbagai faktor, mulai dari dinamika keluarga, sistem pendidikan, hingga pengaruh lingkungan. Pengaruh dari faktor-faktor tersebut dapat memicu seseorang untuk berbuat kasar. Kalau tidak dihentikan, akibatnya bisa sangat berbahaya.

Lebih lanjut, merujuk pada Journal of Governance and Public Administration, perundungan dapat menyebabkan rusaknya kesehatan mental korban secara mendalam, hal tersebut dapat memicu terjadinya kecemasan, stres, hingga perasaan tidak aman  berkepanjangan dalam menjalankan kehidupan akademik.

Pada Selasa (16/12), Institut mewawancarai Mayrinda Ratu, selaku Psikologi Klinis, Biro Psikologi Prana. Wawancara tersebut membahas seputar perundungan verbal, kemudian penyebab dan solusi pencegahan perundungan di lingkungan kampus.

Bagaimana definisi perundungan verbal secara spesifik dalam konteks hubungan antar mahasiswa?

Perundungan verbal adalah perilaku menyakiti orang lain melalui ucapan, tulisan, dan gestur untuk menyerang harga diri seseorang. Dalam konteks mahasiswa, mencakup penggunaan bahasa untuk menciptakan ketimpangan kekuasaan, baik melalui intimidasi intelektual, penghinaan, maupun pengucilan secara lisan.

Dalam konteks mahasiswa, bentuk ketidakseimbangan kekuatan apa yang paling sering memicu perundungan verbal?

Pemicu utama yang paling dominan adalah penyalahgunaan keunggulan posisi, misalnya senioritas, status sosial, popularitas, dan kapasitas intelektual. Senioritas kerap menciptakan gap bagi mahasiswa senior untuk mengintimidasi mahasiswa junior, sementara status sosial dan popularitas digunakan untuk mengucilkan mereka yang dianggap tidak setara. 

Selain itu, kapasitas intelektual kerap disalahgunakan dalam forum akademik melalui penghinaan untuk merendahkan rekan sejawat. Intinya, ketimpangan tersebut dimanfaatkan pelaku untuk mengontrol dan merusak harga diri korban yang dianggap lebih lemah secara intelektual.

Bagaimana karakteristik seseorang yang rentan terdampak perundungan verbal? 

Secara umum, pelaku perundungan memiliki insting untuk mencari korban pasif yang tidak dominan, dan tidak berani melawan. Sikap pasif itu biasanya terbentuk di lingkungan keluarga, jika orang tua kurang membiasakan anak untuk berani bicara atau membela diri. Akibatnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri. Maka dari itu,  di mata pelaku perundungan, anak yang pendiam dan tidak berdaya itu dianggap sebagai target mudah karena mereka yakin korban tidak akan memberikan perlawanan saat diganggu.

Secara psikologis, apa penyebab utama mahasiswa melakukan perundungan? Apakah berkaitan dengan rasa tidak aman pelaku?

Aksi perundungan kerap dipicu oleh pola asuh yang terlalu mengekang, di mana anak jarang didengar dan ditekan oleh aturan yang dibuat oleh orang tuanya. Maka dari itu, pencegahan perundungan harus berakar dari lingkungan rumah melalui komunikasi terbuka dan penanaman rasa percaya diri agar anak tangguh dalam berinteraksi sosial.

Selain itu, perilaku tersebut dapat berubah bentuk menjadi balas dendam atau peniruan dari kekerasan yang pernah mereka alami di masa lalu,  kemudian dipraktikkan kembali di lingkungan kampus. Pada akhirnya, alasan pelaku memilih untuk menindas orang lain ialah demi mendapatkan pengakuan dari lingkungannya. Ia membangun perlindungan diri dengan cara menyerang agar dirinya tidak lagi menjadi sasaran pengucilan. 

Bagaimana dampak psikologis jangka panjang dari perundungan verbal yang perlu diwaspadai?

Dampaknya dimulai dari rasa takut dan cemas, lalu  berkembang menjadi depresi. Secara akademis, hal itu menyebabkan penurunan motivasi belajar. Jika berlangsung lama, korban berisiko mengalami gangguan kesehatan mental yang serius. Kondisi itu dapat mempengaruhi suasana hati, pola pikir, serta perilaku seseorang.  Sehingga mengganggu kegiatan sehari-hari, salah satunya dalam bentuk gangguan stres pascatrauma.

Bagaimana langkah pencegahan dan solusi  yang dapat diterapkan kampus untuk menghapus kultur perundungan?  

Pihak kampus perlu mengadakan kampanye anti-perundungan melalui sosialisasi dan pengadaan  poster dan mural perihal edukasi dan larangan perundungan guna meningkatkan kesadaran seluruh mahasiswa di lingkungan kampus. Maka dari itu, edukasi pencegahan perundungan seharusnya dimulai sejak masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) agar mahasiswa sadar akan haknya dan tahu kemana harus melapor. Sebagai bentuk tindak lanjut nyata, setiap Program Studi (Prodi) perlu menyediakan layanan konsultasi teman sebaya guna memfasilitasi mahasiswa yang membutuhkan ruang bercerita dan perlindungan. 

Melalui kampanye tersebut,  diharapkan para penyintas tak lagi ragu bersuara dan berani melaporkan segala bentuk perundungan yang mereka alami. Selain itu, perlu dukungan dari orang-orang sekitar yang meyakinkan korban bahwa apa yang terjadi bukanlah kesalahan mereka.

Reporter: TAR
Editor: Adam Alfarraby

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Lagi-lagi Pelantikan Ormawa Tanpa DEMA dan SEMA Previous post Lagi-lagi Pelantikan Ormawa Tanpa DEMA dan SEMA
Kaum Minoritas di Tengah Stereotipe Masyarakat Next post Kaum Minoritas di Tengah Stereotipe Masyarakat