
Fenomena self-reward semakin populer di kalangan Generasi Z (Gen Z) yang diperkirakan lahir dari tahun 1997-2012. Melansir dari DJKN.Kemenkeu.go.id, istilah ini merupakan bentuk pemberian penghargaan kepada diri sendiri setelah mencapai suatu tujuan tertentu. Di era digital, Gen Z kerap merayakan diri sendiri dengan cara membeli makanan favorit, nongkrong di kafe, membeli barang bermerek, ataupun bepergian ke luar kota.
Berdasarkan jurnal yang ditulis Jihan Nafilah, Desy Safitri, dan Sujarwo bertajuk Fenomena Self-Reward dalam Budaya Konsumerisme Digital (2025), tren self-reward di kalangan Gen Z berkembang pesat melalui media sosial dan kerap menjadi alasan pembenaran untuk berbelanja di platform digital. Hal itu diperkuat karena adanya kemudahan akses e-commerce, promosi yang kerap menggunakan influencer, hingga sistem pembayaran seperti e-payment dan pay later.
Perkembangan digital tersebut menjadi cara bagi pelaku usaha untuk mempromosikan dagangannya di sosial media. Melansir dari Mojokerto.disway.id, diketahui bahwa self-reward turut dimanfaatkan pelaku usaha sebagai strategi pemasaran dan mengakui bahwa tren self-reward berdampak pada meningkatnya minat belanja anak muda. Berbagai promo bertema “hadiah untuk diri sendiri” atau “healing tipis-tipis” dinilai efektif menarik konsumen usia produktif (15-60 tahun).
Pada Jumat (27/2), Institut mewawancarai Dosen Psikologi Konseling, Psikoterapi, Kualitas Hidup, Kesehatan Mental, dan Adiksi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Mohamad Avicenna. Wawancara tersebut membahas pengaruh self-reward terhadap kondisi psikologis dan gaya hidup konsumtif, serta upaya mencegah perilaku konsumtif yang ditimbulkannya.
Apa yang dimaksud dengan self-reward dan bagaimana pandangan psikologi terhadap self-reward?
Self-reward merupakan bentuk penghargaan diri setelah melalui proses perjuangan. Dalam konsep psikologi, self-reward dapat dihubungkan dengan self-reinforcement atau penguatan diri yang berfungsi untuk mempertahankan perilaku positif. Namun, perlu ditekankan bahwa jangan sampai terlena dengan reward tersebut dan sebaiknya lakukan reward dengan realistis dan tidak berlebihan.
Apakah self-reward bisa dikategorikan sebagai bentuk perilaku konsumsi simbolik?
Dilihat dari sisi sosial, self-reward dapat berubah makna ketika barang atau pengalaman yang dibeli sudah bukan soal kebutuhan atau sekadar melepas penat, tetapi menjurus ke persoalan gengsi dan citra. Di titik itu, self-reward sudah bergeser menjadi ajang pembuktian diri. Masalah tersebut muncul ketika keputusan membeli dilakukan tanpa pertimbangan matang. Tidak ada kontrol diri, tidak dipikirkan dampaknya bagi kondisi keuangan atau prioritas lain yang lebih penting. Jika sudah begitu, self-reward yang awalnya dimaksudkan untuk menyenangkan diri justru bisa berbalik jadi beban.
Mengapa praktik self-reward tampak lebih menonjol pada Gen Z dibanding generasi lainnya?
Praktik self-reward bukanlah praktik yang baru muncul di era Gen Z. Berdasarkan pengertian dari self-reward, fenomena ini sudah dilakukan sejak lama. Akan tetapi praktik ini tampak lebih menonjol pada Gen Z. Salah satu faktor utamanya adalah pengaruh media sosial dan budaya digital seperti aktif mengakses sosial media dan belanja online.
Merujuk pada teori modeling dari Albert Bandura, manusia pada dasarnya belajar dengan cara melihat lalu meniru. Apa yang sering muncul di depan mata, lama-lama akan menjadi hal yang terasa biasa, yang kemudian dianggap sebagai standar. Di media sosial, orang sering kali disuguhi gaya hidup tertentu yang akhirnya terlihat wajar dan pantas diikuti.
Hal itu didukung dengan kecenderungan gaya hidup hedonis yang semakin terlihat di berbagai kalangan, terutama di kalangan pejabat dan influencer. Ditambah teknologi yang serba cepat dan praktis. Akses yang mudah tanpa sadar membuat kebiasaan konsumsi menjadi semakin spontan dan instan.
Bagaimana self-reward mencerminkan kebutuhan psikologis?
Tren self-reward berkaitan dengan kebutuhan psikologis. Self-reward dapat dikaitkan dengan konsep self-compassion dan self-care, yakni merawat diri agar kembali pada kondisi seimbang.
Jika diibaratkan dengan tubuh manusia, tubuh manusia secara otomatis menyeimbangkan suhu ketika kepanasan atau kedinginan. Jika cuaca sangat panas dan tubuh kelebihan panas, maka secara otomatis tubuh akan mengeluarkan keringat. Begitupun dengan cuaca dingin yang memicu tubuh menggigil. Tubuh secara otomatis melakukan hal tersebut untuk menjaga keseimbangan dan kondisi tubuh.
Hal ini sama dengan kondisi psikologis, manusia membutuhkan momen untuk menenangkan diri setelah tekanan atau stres. Perlu diketahui bahwa stres dalam kadar tertentu tetap dibutuhkan. Terlalu nyaman berada di zona aman dan terlena dengan self-reward justru dapat melemahkan keberanian mental.
Bagaimana batasan antaraself-reward dan gaya hidup konsumtif?
Batasan paling jelas antara self-reward dan perilaku konsumtif terletak pada kontrol diri. Ketika seseorang melakukan pembelian tanpa perencanaan, tanpa analisis cost and benefit, serta tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi diri dan orang sekitar, maka self-reward telah berubah menjadi konsumtif. Perilaku konsumtif kerap ditandai dengan pemaksaan diri untuk memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak mampu dibeli secara rasional.
Apakah tren self-reward lebih banyak membawa dampak positif atau negatif?
Dampak dari self-reward tergantung dari bagaimana kita melakukan self-reward tersebut. Self-reward dapat membawa dampak positif, seperti meningkatkan motivasi, menjaga kesehatan mental, dan menjadi bentuk apresiasi atas pencapaian. Tetapi, self-reward juga membawa dampak negatif ketika praktik tersebut berubah menjadi gaya hidup hedonis dan materialistis.
Maka dari itu, penting untuk memiliki kecerdasan emosional dan kepekaan sosial, terutama ketika kondisi ekonomi keluarga atau lingkungan sedang tidak mendukung.
Bagaimana bentuk self-reward yang baik agar tidak tenggelam dalam gaya hidup konsumtif?
Self-reward sebenarnya tidak harus selalu identik dengan belanja mahal atau membeli barang baru. Olahraga, jalan santai di tempat yang banyak pohon dan udaranya segar, berenang, atau sekadar duduk santai dan menikmati suasana kafe tanpa harus berbelanja secara berlebihan. Kegiatan tersebut juga dapat menjadi bentuk self-reward berdasarkan bagaimana cara memandang kegiatan tersebut.
Untuk menghindari jebakan konsumtif, setiap orang perlu melakukan analisis sebelum memutuskan melakukan self-reward. Perencanaan dan penentuan prioritas menjadi kunci dari mencegah tenggelam dalam gaya hidup konsumtif.
Dalam Islam, terdapat istilah maqashid syariah yaitu dengan mempertimbangkan kondisi finansial, keluarga, serta nilai moral dan agama. Konsep menjaga akal, jiwa, harta, dan lingkungan dapat menjadi pedoman agar keputusan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Konsep ini dapat menjadi solusi agar tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif.
Penulis: HZ
Editor: Anggita Rahma Dinasih
