
Sejumlah mahasiswa menyoroti keamanan loker Perpustakaan Utama imbas kehilangan barang yang dialami beberapa mahasiswa saat menitipkan barangnya
Beredar sebuah postingan Instagram Story yang menyoalkan keamanan loker Perpustakaan Utama (PU) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Selasa (4/6). Postingan tersebut telah dibagikan oleh lebih dari 100 orang. Keluhan kehilangan barang akibat minimnya keamanan loker PU juga dikemukakan oleh beberapa mahasiswa.
Salah satunya Bima—bukan nama sebenarnya—mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI). Ia mengalami kehilangan barang berupa tas, buku, alat tulis, tumbler, dan pengisi daya gawai saat menitipkannya di loker PU. Sebelum menitipkan barang, ia sudah risau dengan kondisi mayoritas loker yang tidak memiliki kunci.
“Saya cari di loker kok tidak ada, lalu kita cari lagi di sekitaran situ, di loker-loker sebelahnya juga tidak ada. Tidak mungkin lupa naruh, karena setelah diperiksa ke semua loker tidak ada, kayaknya ada yang mengambil,” terang Bima, Rabu (3/6).
Bima pun melaporkan kehilangan tersebut kepada pegawai PU yang berada di lantai satu. Setelah mendapatkan laporan kehilangan dari Bima, pegawai PU pun langsung bergegas menggeledah satu per satu loker untuk mencari barang Bima yang hilang. Namun, barang Bima tetap tidak dapat ditemukan.
“Pegawainya itu menggeledah ke loker yang dikunci, dibuka paksa menggunakan gunting rumput yang panjang dengan dicongkel, dan tetap tidak ada,” ungkap Bima.
Setelah hasil penggeledahan nihil, petugas menyampaikan kepada Bima agar besok kembali ke PU untuk mengetahui hasil penggeledahan. Namun, saat ia kembali keesokan harinya, petugas menyampaikan barangnya masih belum ditemukan.
Kemudian, saat Bima menceritakan kasus kehilangan barang itu di status WhatsApp, temannya yang lain mengaku pernah mengalami hal serupa. “Jadi tidak cuma saya sama temen saya doang, ternyata ada beberapa orang juga yang kehilangan barang di loker PU,” ujar Bima.
Qaf Kalijaga—bukan nama sebenarnya—mahasiswa FDI juga mengalami kehilangan barang berupa Al-Quran, pengisi daya gawai, dan dompet saat menitipkannya di loker PU. Serupa dengan Bima, ia melaporkan kehilangan itu kepada petugas PU dan menemukan hasil yang nihil.
“Kata pegawainya tahun ini CCTV di ruangan loker mati dan belum diperbaiki, makanya dia tidak bisa bantu banyak. Lalu dia bilang ‘mas kayaknya sudah hilang, jadi gak bisa (cari lewat CCTV)’. Yaudahlah hilang aja gitu,” ujar Qaf, Kamis (4/6).
Ia berharap pihak kampus tidak hanya mempercantik ikon-ikon di kampus, tetapi juga meningkatkan keamanan dan kenyamanan PU. Lebih lanjut, Qaf berharap pihak PU dapat mengganti loker yang ada dan memperbaiki CCTV yang ada di ruangan loker.
“Minimal CCTV-nya dulu diperbaiki, itu kan tidak mahal. Terus juga kalau ada dana sebaiknya tuh jangan dihambur-hamburkan untuk desain-desain interior di kampus. Sebenarnya memang bagus, namun itu bukan yang urgensi banget,’’ ucap Qaf.
Berdasarkan pengamatan Institut pada Kamis (4/6), mayoritas loker PU dalam kondisi tidak terkunci meskipun ada barang di dalamnya. Selain itu, tidak ditemukan pegawai yang menjaga ruangan loker tersebut.
Padahal menurut Pasal 22 Ayat 3 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 tahun 2014, gedung atau ruang perpustakaan harus memenuhi aspek keamanan, kenyamanan, keselamatan, dan kesehatan. Sesuai peraturan itu, setiap gedung perpustakaan umum maupun khusus wajib menjamin keamanan di setiap ruang perpustakaan.
Untuk menindaklanjuti keluhan mahasiswa atas keamanan loker PU, Institut pun menghubungi Agus Rifai, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Perpustakaan melalui WhatsApp pada Rabu, (3/6). Agus hanya menjawab bahwa pihak PU ingin fokus dan mempercepat penanganan perbaikan untuk memberikan layanan terbaik kepada civitas academica. Ketika Institut ingin mengonfirmasi terkait keamanan loker PU, Agus tidak menjawab permintaan tersebut hingga tulisan ini terbit.
Pada Jumat (6/6), Institut mendapatkan informasi dari Bima bahwa loker PU sudah dalam proses penggantian kunci.
Reporter: Rifki Kurniawan
Editor: Naila Asyifa
