
Guna membahas realitas kondisi tanah adat masyarakat Papua di tengah kolonialisme, DEMA-U UIN Jakarta menginisiasikan nobar dan diskusi film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di zaman kita” untuk membahas realitas kondisi tanah adat di Papua. Acara tersebut dilaksanakan pada Rabu (29/4) di Gedung Bahtiar Effendi, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Nobar dan diskusi publik itu menghadirkan Kogoyaisme dari Kaum Muda Papua Progresif, dan Adriansyah, ketua Ikatan Alumni (IKAL) FISIP UIN Jakarta sebagai pemateri. Rangkaian acara terdiri dari pemutaran film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Dwi Laksono dan Cipry Paju Dale.
Film itu bercerita tentang perlawanan masyarakat adat Papua melawan budaya kolonialisme untuk mempertahankan tanah adat mereka. Rangkaian acara dilanjutkan dengan diskusi guna membahas materi yang disampaikan dalam film dan realitas kondisi tanah adat di Papua.
Melati Nur Akvira Kasih, Ketua Pelaksana acara diskusi dan nobar film menjelaskan tujuan pelaksanaan nobar diskusi film tersebut untuk menghadirkan ruang diskusi yang lebih dekat dengan realitas sosial, khususnya mengenai isu kemanusiaan dan kehidupan masyarakat papua. Ia juga mengatakan dengan adanya diskusi, peserta dapat lebih memahami makna dibalik setiap adegan dan pesan yang ingin disampaikan oleh film.
“Film pesta Babi ini dipilih karena memiliki pesan yang kuat dan mampu menggambarkan persoalan sosial secara nyata yang ada di sana. Selain itu, kami juga menyiapkan sesi tanya jawab agar audiens dapat menyampaikan pandangan, kritik, maupun refleksi mereka sendiri sehingga acara menjadi lebih interaktif dan tidak hanya bersifat satu arah,” ucap Melati, Rabu (29/4).
Rendy Setiawan, salah satu peserta dari mahasiswa Fakultas Syariah Hukum (FSH), mengatakan diskusi tersebut merupakan ruang diskusi kritis mahasiswa yang masih hidup dan relevan. Ia menjelaskan bahwa film itu bukan menjadi tontonan, melainkan sebuah refleksi yang harus dijaga terhadap krisisnya empati dengan lingkungan sosial.
“Kegiatan ini bukan sekedar tontonan, tetapi menjadi ruang refleksi terhadap realitas sosial yang sering luput dari perhatian,” ucapnya via WhatsApp, Rabu (29/4).
Menurutnya, implementasi yang harus diterapkan pada dunia pendidikan dengan tema acara tersebut merupakan pendidikan yang tidak boleh hanya berfokus kepada nilai norma dan teoritis, melainkan harus bisa menghadirkan kenyataan sosial secara jujur.
“Menurut saya perlu disampaikan kepada pihak kampus maupun pemerintah bahwa pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada aspek normatif dan teoritis, tetapi juga harus berani menghadirkan realitas sosial secara jujur,’’ ujar Rendy, Rabu (29/4).
Reporter: Irsal Nurvikriyansah
Editor: Rifki Kurniawan
