Napak Tilas Sang Maestro

Napak Tilas Sang Maestro

Read Time:3 Minute, 16 Second
Napak Tilas Sang Maestro

Di akhir hayatnya, Basoeki Abdullah mewasiatkan rumahnya untuk dijadikan museum dengan menyerahkan sepertiga hartanya kepada pemerintah. Hal tersebut menjadi wujud kecintaannya kepada tanah air lewat seni.


Dari Halte Pancoran Tugu, saya naik Transjakarta koridor 9 arah ke Pluit. Setibanya di Halte Simpang Kuningan, saya melanjutkan perjalanan dengan transit ke Halte Underpass Kuningan melalui Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Di sepanjang halte, tak terlalu banyak orang yang menunggu bus. 

Saya kemudian menunggu bus 6H yang akan mengantarkan saya ke bus stop Ampera. Bus dengan rute Pasar Senen–Lebak Bulus itu beberapa kali berhenti karena di sela lampu merah di persimpangan yang tak terlalu padat kendaraan. Di Ampera, saya turun untuk menunggu bus dengan nomor rute D21 atau 7A. Keduanya singgah di titik terakhir transportasi umum, yaitu bus stop Stasiun MRT Fatmawati. Sisa perjalanan ke museum saya tempuh dengan berjalan kaki sekitar sepuluh menit. 

Tak seperti kebanyakan museum, museum itu terletak di tengah permukiman. Hanya terdapat beberapa penanda yang mengarahkan pengunjung ke museum tersebut. Hal itu membuat saya sempat ragu dengan titik lokasi yang tertera di gawai

Sesampainya di depan museum, saya disambut dua bangunan museum. Satu bangunan lawas dan satu gedung yang dihubungkan ke bangunan lawas tersebut. Bangunan lawas merupakan rumah asli Basoeki Abdullah. Sedangkan bangunan baru adalah gedung tiga lantai yang diresmikan pemerintah pada 29 November 2016 dengan sentuhan modern. Hal ini berbanding terbalik dengan rumah Basoeki Abdullah yang tampak seperti rumah pada umumnya.

Dari pos satuan pengamanan (satpam), saya diarahkan menuju pintu masuk gedung baru. Saat masuk, saya melewati lorong dengan pencahayaan dari atap kaca. Di sisi kanan terdapat loket yang dijaga seorang petugas. Harga tiket masuknya sebesar Rp5 ribu untuk orang dewasa dan Rp2 ribu untuk anak-anak.

Setelah membeli tiket, saya dipersilakan untuk menjelajahi setiap ruang berisi lukisan dan karya seni lainnya. Di lantai satu, terdapat ruangan berisi sekumpulan karya seni dari seniman-seniman lokal, seperti Shavierra Arvinda dan Alfiah Rahdini. Terdapat sekitar empat belas kanvas yang terpajang di dinding.

Saat naik ke lantai dua, saya langsung disambut papan berisi penjelasan lukisan bertema pemimpin negara milik Basoeki Abdullah. Ruangan itu menampilkan empat lukisan yang dipasang di dinding, serta dua sofa yang terletak di bagian tengah. Setelah itu, saya menemukan dua etalase. Etalase pertama berisi kliping koran mengenai Basoeki Abdullah beserta karyanya. Sementara etalase kedua berisi alat-alat yang digunakan Basoeki Abdullah untuk melukis, seperti satu paket cat, kuas, dan mesin tik.

Saya kemudian bergeser ke bangunan lawas yang merupakan rumah Basoeki Abdullah. Begitu masuk ke rumahnya, suasana hangat dengan pencahayaan temaram langsung terasa. Terdapat tiga ruangan yang masing-masing berisi lukisan Basoeki Abdullah yang beraliran realisme serta koleksi wayang miliknya.

Saat berada di lantai satu tersebut, saya merasakan bahwa ruangan dan etalase yang ada berusaha menunjukkan sisi pribadi Basoeki Abdullah. Terdapat etalase berisi pakaian dan benda-benda miliknya yang terpampang rapi di balik kaca. Ruang tamunya dihiasi lukisan-lukisan miliknya. Sedangkan ruang tidur menampilkan kehangatan lewat penataan barang-barang pribadi. 

Selepas semua ruangan saya hampiri, saya kembali menuju loket tiket dan bertemu Fadil, salah satu staf pengelola museum. Ia menjelaskan bahwa perubahan rumah menjadi museum merupakan wasiat Basoeki Abdullah sebelum meninggal dunia. Dalam wasiat itu, Basoeki Abdullah ingin mewujudkan cita-citanya untuk membuat museum dengan menyumbangkan sepertiga kekayaannya, termasuk rumah, 120 lukisan asli, tiga lukisan reproduksi, dan koleksi patung pribadinya untuk dijadikan museum.  

Dari banyak lukisan, salah satu hasil karya yang paling langka adalah sketsa lukisan Mahatma Gandhi yang digambar menggunakan pensil oleh Basoeki Abdullah saat ia berumur sepuluh tahun. 

“Lukisan lain yang bagus atau ikonik ada di Istana Negara, Istana Merdeka, Istana Bogor, dan Gedung Agung Yogyakarta,” ucap Fadil saat diwawancarai pada Minggu (15/3).

Rendahnya jumlah pengunjung menjadi tantangan yang dihadapi museum tersebut. Pada akhir pekan, jumlah pengunjung terbanyaknya sekitar lima puluh orang dan dapat  meningkat hingga seratus orang saat rombongan pelajar datang. Fadil berharap masyarakat dapat berkunjung dan meramaikan museum tersebut. “Mungkin karena kegiatan kita sekarang sedikit jadi sepi,” terkanya.

Reporter: MHR
Editor: Anggita Rahma Dinasih

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Jeratan Konsumerisme dalam Tren Self-Reward Previous post Jeratan Konsumerisme dalam Tren Self-Reward
Fenomena Job Hugging Imbas Ketidakpastian Ekonomi Next post Fenomena Job Hugging Imbas Ketidakpastian Ekonomi