
Cuitan terkait ketidaksiapan kerja lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menjadi sorotan publik setelah munculnya perbincangan di media sosial, khususnya di Threads pada Sabtu (22/3) oleh akun @supermoney75. Cuitan itu menyinggung terkait lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang dinilai belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Bahkan, muncul kritik yang menyarankan agar pihak kampus lebih berfokus pada peningkatan kualitas lulusan dibandingkan sekadar memperbanyak jumlahnya.
Lebih lanjut, berdasarkan pengakuan salah satu lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) di Mojok.co, anggapan lulusan UIN Jakarta mengalami kendala dalam memasuki dunia kerja akibat minimnya skill benar adanya. Menurutnya, hal itu dilatarbelakangi kurangnya kesiapan skill hingga ekspektasi kerja yang dinilai tidak realistis.
Menjawab narasi lulusan yang sulit bekerja akibat minimnya keterampilan, UIN Jakarta menyajikan data lulusannya melalui uinjkt.ac.id. Berdasarkan laporan Tracer Study UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hampir setengah lulusan UIN Jakarta telah mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum wisuda.
Pada Senin (13/4), Institut mewawancarai Dosen Manajemen Pendidikan (MP) UIN Jakarta sekaligus Analis Kebijakan Pendidikan dan Mutu Pendidikan, Suhardi. Wawancara tersebut membahas mengenai stigma yang melekat pada lulusan UIN, gap antara skill dan pendidikan, serta bagaimana seharusnya kurikulum untuk mahasiswa.
Bagaimana Latar Munculnya Stigma Lulusan UIN?
Stigma terhadap alumni atau lulusan UIN mulai muncul dan berkembang di masyarakat. Stigma tersebut beranggapan bahwa alumni UIN Jakarta kurang memiliki skill dan tidak siap bekerja di lapangan. Stigma ini tidak sepenuhnya mencerminkan realita kemampuan alumni lulusan UIN Jakarta, melainkan muncul karena dipengaruhi oleh persepsi masyarakat dan minimnya kesempatan yang diberikan oleh publik kepada alumni UIN Jakarta.
Pada dasarnya kemampuan seseorang itu terbentuk melalui proses belajar, latihan, dan kesempatan. Namun faktor utama justru terletak pada rendahnya kepercayaan publik terhadap alumni UIN Jakarta sehingga alumni jarang diberikan peluang untuk membuktikan kompetensinya di dunia kerja. Hal inilah yang menyebabkan stigma terhadap lulusan UIN Jakarta terus berulang. Stigma ini diperkuat dengan adanya persepsi di masyarakat bahwa lulusan UIN Jakarta hanya dapat membaca doa, padahal secara kurikulum, materi yang diajarkan tidak jauh berbeda dengan perguruan tinggi lainnya.
Selain itu, tidak semua alumni UIN Jakarta dipersiapkan untuk masuk ke dunia kerja yang bersifat industri, melainkan beberapa disiapkan untuk terjun dalam dunia pendidikan, keagamaan, dan sosial. Namun, realita menunjukkan banyak mahasiswa yang mencari kerja lintas jurusan, sehingga berbanding dengan ekspektasi publik terhadap skill yang dimiliki oleh masyarakat di dunia kerja yang beberapa dituntut untuk mahir di segala bidang.
Bagaimana Relevansi Kurikulum di UIN Jakarta dengan Dunia Kerja?
Relevansi kurikulum di UIN Jakarta dinilai bersifat relatif dan tergantung pada program studi masing-masing. Hal ini dikarenakan tidak semua program studi di UIN Jakarta berfokus pada kegiatan praktikum, contohnya adalah jurusan filsafat yang tidak memungkinkan di dalam perkuliahannya tidak membahas teori lebih banyak. Secara umum, kurikulum yang dirancang telah dikombinasikan antara keilmuan akademik, keislaman, dan keterampilan sesuai dengan di bidang studi.
UIN Jakarta telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan relevansi, seperti diadakannya program magang yang bertujuan mendekatkan mahasiswa dengan dunia kerja. Namun di lapangan masih banyak dihadapi kendala oleh mahasiswa karena keterbatasan tempat magang dan kurangnya kerjasama institusi pendidikan atau UIN Jakarta dengan dunia usaha dan industri (DUDI).
Tantangannya adalah, akibat perkembangan dunia kerja yang tidak memiliki pakam dan terus berkembang dengan cepat sulit untuk menyamakan dan menyelaraskan antara kurikulum dengan perkembangan dunia kerja. Seperti yang diketahui, perubahan di masyarakat sering terjadi lebih cepat dibandingkan perubahan kurikulum yang melalui proses administratif yang panjang.
Bagaimana Keterbatasan Pembelajaran Perguruan Tinggi dalam Membekali Skill?
Mengapa pembelajaran di perkuliahan dianggap belum mampu membekali mahasiswa dengan keterampilan praktik? Alasannya adalah karena orientasi pendidikan S1 memang lebih menekankan pada aspek akademik yang teoritis dibandingkan vokasional seperti D3 atau D4.
Pembelajaran di kelas sering dibebani dengan banyaknya materi teori sehingga waktu untuk praktik menjadi terbatas. Akan tetapi, hal ini dapat berjalan dengan sedikit perubahan jika, baik mahasiswa maupun tenaga pendidik mampu memberikan improve di tengah perkuliahan. Tenaga pendidik atau diisi dosen harus melakukan upaya untuk mengintegrasikan praktik melalui metode pembelajaran kontekstual seperti studi lapangan dan proyek nyata.
Bagaimana Metode Pembelajaran dan Kesenjangan dengan Dunia Kerja?
Metode pembelajaran yang diterapkan di kelas memiliki pengaruh besar terhadap kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja. Jika pembelajaran di kelas terlalu berorientasi pada teori tanpa diimbangi dengan improvisasi praktik maka dapat menghambat pengembangan keterampilan mahasiswa.
Idealnya, pembelajaran di kelas bersifat fleksibel dengan menggabungkan teori dan praktik. Beberapa dosen UIN Jakarta telah menerapkan metode pembelajaran yang berbasis praktik, seperti penelitian lapangan dan analisis kasus nyata untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa.
Namun bukan berarti tidak ada kesenjangan atau gap antara pendidikan di kampus dengan kebutuhan industri. Adanya Kesenjangan antara pendidikan di kampus dengan dunia kerja dikarenakan perkembangan dunia kerja yang relatif cepat dan tidak memiliki pakem, sedangkan kurikulum yang diterapkan di UIN bersifat statis dengan proses yang rumit dan panjang, didukung oleh minimnya keterlibatan industri dalam proses pembelajaran.
Universitas sebagai institusi pendidikan seharusnya mampu untuk memiliki kerjasama dengan dunia kerja agar dapat membekali mahasiswa sebelum akhirnya mahasiswa terjun ke dunia kerja secara mandiri. Selain itu juga perlunya dukungan kepada mahasiswa agar mereka mampu untuk mengikuti kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler yang disediakan oleh pihak kampus. Kesenjangan antara skill dengan pendidikan dinilai diperparah karena kurangnya partisipasi mahasiswa dalam kegiatan organisasi padahal aktivitas tersebut dapat berperan penting untuk membangun soft skill yang tidak dapat dicari dengan praktik.
Bagaimana Strategi Pengembangan Kurikulum yang Relevan?
Kurikulum UIN Jakarta perlu dirancang secara lebih adaptif dan kontekstual. Misalnya dengan berbasis pada kebutuhan dunia kerja di mana kurikulum yang disusun bukan berdasarkan kebutuhan yang saat ini sedang dibutuhkan oleh masyarakat tetapi dengan menganalisis bagaimana kebutuhan masyarakat di masa depan. Karena mahasiswa tidak mungkin lulus hanya dalam jangka waktu satu sampai dua tahun beberapa diantaranya lulus dengan periode empat hingga tujuh tahun yang maka dari itu Harus memiliki gambaran analisa kebutuhan dunia kerja yang lebih panjang.
Kemudian kurikulum yang diterapkan oleh institusi harus memiliki integrasi dengan kokurikuler dan ekstrakurikuler yang memiliki peran penting dalam menjembatani kesenjangan dengan dunia kerja. Pada kok kurikuler dan ekstrakurikuler mahasiswa setidaknya dapat mengembangkan soft skill seperti kemampuan berkomunikasi bekerjasama dan memimpin yang tidak dapat ditemukan dalam pembelajaran di kelas.
UIN Jakarta sebagai institusi pendidikan juga harus mengambil langkah pasti dengan melakukan kerjasama dengan dunia industri atau dunia agar memperluas peluang magang mahasiswa rekrutmen dan pengalaman praktis mahasiswa. Karena pada dasarnya di lapangan mahasiswa untuk sekedar magang tanpa bayaran saja perlu melalui proses seleksi yang panjang seperti melamar kerja.
Terakhir, perlu ditanamkan pada mindset mahasiswa bahwa setelah lulus dari UIN mereka tidak hanya bisa menjadi seorang karyawan atau pegawai tapi mereka juga mampu untuk membangun lembaga atau usahanya sendiri. Perlu diingat tidak semua program studi berorientasi pada satu lingkup dunia kerja, sehingga dengan mahasiswa yang memiliki orientasi untuk membuat usaha sendiri dapat memberikan dan menyalurkan skillnya sesuai dengan tempatnya dan mampu untuk memberikan tempat terhadap mahasiswa yang berasal dari jurusan yang sama atau orientasi pendidikan yang sama.
Penulis: HZ
Editor: Naufal Fauzan
