Perjuangan di balik Getirnya Kehidupan Athirah

Read Time:2 Minute, 26 Second
Di balik keramaian jalan raya dari balik jendela jendela rumah kayu, terlihat seorang ibu tengah bercakap-cakap dengan anak sulungnya. Anak yang akrab dipanggil Ucu ini tengah sibuk bercermin di kamarnya. Sang ibu,Athirah memasangkan kopiah kepada Ucu sembari mengelus kepalanya.“Kau tampak gagah,nak. Kelak kau akan jadi orang besar.” ucap Athirah menepuk pundak Ucu dan tersenyum lembut penuh kasih sayang. 
Begitulah sekelumit kehidupan Athirah, perempuan berdarah bugis sekaligus ibu dari sembilan anak. Tak hanya melimpahkan kasih sayang lebih dan membesarkan si buah hati, Athirah pun harus mengarungi pahit kehidupan dengan tegar dan tabah sendiri. Berawal dari Indonesia yang baru beberapa tahun menikmati kebebasan melewati masa penjajahan, Athirah (Cut Mini) memutuskan untuk pindah bersama suami dan anak-anaknya ke Makassar. Di Makassar, Athirah dan suami menjadi pedagang dan membuka sebuah toko.
Tak banyak permasalahan pelik yang dihadapi oleh keluarga ini selama beberapa saat setelah kepindahan. Usaha dagang yang mereka rintis dari awal pun berjalan lancar tanpa hambatan. Perkembangan pesat dari usaha mereka, tak pelak membuat suami Athirah saat itu disebut-sebut sebagai saudagar dagang. Selain berdagang membantu usaha sang suami, aktivitas sehari-hari layaknya seorang ibu selalu dilakukan Athirah tanpa lelah, salah satunya menyiapkan makanan kesukaan anak-anak yakni ikan kuah kuning.
Namun, ujian rumah tangga itu muncul tepat di puncak kesuksesan. Sang suami yang menjadi saudagar terpandang menikahi perempuan tanpa sepengetahuan Athirah. Dari sini Athirah menunjukkan ketegaran hatinya sebagai seorang wanita, ia bertekad untuk tetap melanjutkan kehidupan dan merawat kesembilan anaknya.
Kala itu, Athirah dalam keadaan hamil. Ia menghidupi anak-anaknya dengan tetap berdagang. Anak tertua Athirah, Ucu (Christopher Nelwan) pun tanpa ragu ikut membantu sang ibu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam berdagang. Karena dalam kesehariannya ia bertindak mandiri dan berusaha membantu perekonomian ibunya, membuat Ucu berkarakter sebagai pekerja keras, dan peduli terhadap adik-adiknya. Kelak tabiat dan tekad ini yang di kemudian hari menjadikannya sebagai orang sukses dan saat ini dikenal sebagai Jusuf Kalla.
Selain berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, Athirah juga berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan rumah yang merupakan tepat tinggal satu-satunya. Semenjak kepergian suaminya kondisi ekonomi yang kian melemah membuat rumah tersebut hampir dijual. Padahal rumah itulah yang menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi Athirah beserta anaknya-anaknya. Usaha itu dimulai dengan memproduksi kain sarung, pakaian khas orang Makassar.
Berkat kesabaran dan kegigihan Athirah, usaha kain sarung berkembang sehingga kondisi ekonomi keluarga Athirah pun membaik. Berkat didikan Athirah yang mengajarkan kesabaran dan gigih dalam berusaha, kesembilan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang pekerja keras dan pantang menyerah.  Begitu pun dengan Ucu. 
Dengan berlatarkan suasana tahun 50-an dan tempat di wilayah Sulawesi Selatan yang budaya dan adatnya masih kental, film ini juga menyuguhkan scene tarian-tarian khas Sulawesi Selatan. Di samping itu juga, melalui latar suasana yang dikemas semirip mungkin dengan suasana tahun 50-an, sehingga penonton serasa diajak kembali bernostalgia dan mengetahui jenis pakaian Makassar yang sering dikenakan orang-orang Makassar yakni sarung.
Simak trailernya berikut ini: 
NPR

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Menyulut Peradaban Islam di Indonesia
Next post Sertifikat ISO Belum Merata