Tangkal Berita Hoax Dengan Literasi Media

Read Time:2 Minute, 28 Second
sumber foto: Berita uin

“Apa yang dicari oleh orang saat ini ketika mereka bangun tidur?,” Pertanyaan ini  dilontarkan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika, Niken Niken Widyastuti dalam Seminar Nasional Hoax di Media Massa dan Media Sosial : Pergulatan antara Fitnah dan Tanggung Jawab Sosial di Auditorium Harun Nasution, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidyatullah Jakarta, Selasa (7/4). Seolah sepakat, sembari diiringi tertawa riuh,  para peserta seminar mengatakan telepon genggam merupakan benda yang pertama kali dicari ketika bangun tidur.
Pesatnya perkembangan Teknologi seperti bermunculnya telepon genggam mode smartphone mendorong masyarakat menjadi pengguna internet. Menurut Niken dari 259.000.000 penduduk Indonesia lebih dari 50% adalah pengguna internet. Ia menambahkan dari  pengguna 50% tadi, sekitar 30% masyarakat Indonesia adalah pengguna media sosial. Sebenarnya tak mengapa dengan pesatnya pertumbuhan pengguna internet ini. Hanya saja penggunaan media sosial punya dampak negatifnya sendiri.
Menurut Laporan Trust Positifbahwa Kemenkominfo telah menutup 200.000 situs-situs negatif, tidak hanya berbau pornografi, propaganda tapi juga berita tidak benar atau lebih dikenal saat ini sebagai berita hoax. Media sosial memang rentan sebagai sarana penyebar berita hoax.
Beberapa berita hoax bahkan menyebabkan konflik danrevolusi pada suatu negara. Parahnya, menurut Niken penyebaran berita hoax didukung oleh pola komunikasi masyarakat saat ini yaitu 10 to 90. “Maksudnya adalah 10% pembuatan berita hoax. Sedangkan  90% sisanya disebarkan secara sukarela oleh orang-orang (nitizen)tentang berita hoax tersebut,” ungkapnya.
Hadir sebagai narasumber anggota Dewan Pers Imam Wahyudi, menambahkan tempo dulu pemberitaan bersumber pada realitas sosial. Sedangkan pada sekarang topikyang viral di media sosial yang dijadikan rujukan utama. Peralihan masyarakat yang lebih condong terhadap viral media sosial tak menjadi masalah,  asalkan memiliki  data dan tidak melanggar kaidah-kaidah jurnalisik.
Lebih lanjut ia mengatakan, seringkali informasi yang belum diverifikasi kebenarannya langsung dikonsumsi mentah-mentah oleh publik. Tak jarang, masyarakat bahkan langsung melakukan aksi share tanpa mengetahui konten bacaan dan kebenaran dalam isi berita. Tak hanya media sosial, media meanstream terkadang bertindak serupa dengan menayangkan berita tanpa melakukan verifikasi sebelumnya.
“Dalam survei Masthel tentang Wabah Hoax Nasional menyatakan bahwa media cetak telah menjadi sarana berita hoax mencapai 5%. Tak tanggung-tanggung televisi pun mencapai sekitar 8,5%,” katanya, Selasa (7/4). Sayang, media meanstream yang seharusnya bisa menjadi kiblat dengan menyajikan berita yang valid dan akurat pun ikut tak bisa terlepas dari pemberitaan hoax.
Imam Wahyudi mengambil contoh kasus bom di Sarinah yang terjadi tahun lalu. Beberapa media meanstream bahkan berani menyebarkan pemberitaan yang informasinya diambil dari viral media sosial.  Padahal menurut pria dengan pakaian kemeja  putih ini, belum dapat dipastikan kebenarannya. “ Dan benar, pada akhirnya media tersebut telah menyampaikan informasi yang salah,” ujarnya.
 Meningkatkan literasi informasi media dan media sosial digadang para narasumber untuk mengatasi tersebarnya berita hoax. Dengan dua hal itu masyarakat bisa membedakan informasi antara yang benar dan salah. Di sisi lain, pemerintah pun telah mengupayakan meminimalisir bermunculannya berita hoax dengan menciptakan situs pelaporan hoax yaitu aduancontenct.kominfo.go.id.

Aisyah Nursyamsi

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Tisunya Kak?
Next post Penasaran dengan Gedung Baru FAH? Inilah Kisahnya