Keterbatasan tak pantang pudar

Read Time:2 Minute, 19 Second
Kopi dipandang sebagai gaya hidup masyarakat Indonesia, baik di coffee shop maupun di warung kopi terdekat. Bukan hanya sebagai tempat bersantai dan berkumpul bersama sahabat, kehadiran kopi menjadi titik kebersamaan dalam meningkatkan pertumbuhan. tak hanya itu, kalangan pemuda berusaha membuat perusahan kedai kopi dan menjadi seorang barista terkenal. Hingga, masyarakat Indonesia merasakan adanya kenikmatan khas kopi tersebut.
Namun, beda halnya dengan penyandang disabilitas, kekurangan  tak mengurangi semangat Dalam mengikuti pelatihan dasar dan ilmu barista selama enam hari berturut-turut di Bengkel Teater Rendra

, Jl raya Cipayung No. 55, Kecamatan Cipayung, kota Depok, Jawa Barat. Pelatihan tersebut diadakan oleh Fency, Rumah Belajar, (Rube) Cipeteuy, Dapoer Kaoem sejak tanggal 24 sampai 28 Juni 2019.

salah satu kepala komunitas fency “Fellowship of Netra Community”, Tarini mengutarakan Meski keterbatas penglihatan tidak sama layaknya orang normal, mereka berhasil mendapatkan potensi dalam dunia barista. Sehingga, bagi para tuna netra bisa membuka wawasan dalam dunia Barista “semoga dengan adanya pengetahuan baru, mereka bisa tampil bersaing di lapangan.” Ujarnya, Jumat (28/06).
Ia pun menambahkan, tujuan menyelenggarakan pelatihan Fency berdasarkan untuk mengembangkan difabel dalam dunia barista. Sebab, difabel terkadang di pandang rendah dengan alasan tidak bisa melakukan apapun selain profesi pijat dan musik. “karena itu kami menyelenggarakan Fency Rumah kaca karena melihat kemampuan mereka,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Peserta Fency Rube dan alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, wahyu prasetiyo mengungkapkan dengan adanya pelatihan barista tuna netra ini, mendapatkan pelajaran sejarah dari barista, jenis-jenis kopi dan memprakteknya. Sehingga, pembelajaran ini bisa diaplikasikan kepada sesama tuna netra.”saya sangat senang, kami belajar dari awal sampai akhir, hingga bisa menjadi mengaplikasikan pada teman teman tuna netra,” tuturnya, Kamis (27/06).
Sama perihalnya dengan peserta Fency Rube, Ariyani atau yang disebut Yani mengutarakan rasa apresiasi pelatihan barista tuna netra hingga akhir penyelesaian ini. Selain mendapatkan ilmu barista, ia pun mendapatkan teman saat mempelajari pelatihan tersebut. “Saya sangat senang dan bangga telah mengikuti pelatihan dan mendapatkan pertemanan,”ungkapnya saat berada pelatihan, Kamis (27/6).
Saat itu, seorang artis ternama dimas Danang Suryonegoro mengunjungi Bengkel Teater Rendra untuk latihan bersama Ken Zuraida pada hari kamis, (26/6). namun, sekilas ia melihat seorang tuna netra sedang berlatih mempraktek pelatihan barista kopi di Bengkel Teater Rendra. hingga Ia mendatangi dan mencicipi hasil pembuatan kopi tuna netra. Ia pun mengungkapkan, ini sangat mengapresiasi atas pelatihan barista tuna netra ini. “keterbatasan bukanlah halangan,” tuturnya saat di temui di bengkel Teater, Kamis (27/6)
Menanggapi kegiatan pelatihan barista tuna netra ini, seorang mintor barista kopi Andri Wijaya S menyatakan sangat mengapresiasi mengembangkan bakat dari seorang tuna netra. Sebab, tujuan mengadakan pelatihan barista tuna netra ini hanyalah memberikan sebuah kemampuan alternative daripada  kemampuan secara umumnya.”bagi tuna netra yang profesinya hanya seorang pijat atau music, jadi kami memberikan kapasitas kemampuan barista kopi tuna netra,” ujarnya, Jumat, (28/6)
M.Sukri

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Independensi Bagi Auditor dalam Mengatur Kualitas Audit
Next post Kikis Dampak Globalisasi dengan Bahasa Indonesia