Kikis Dampak Globalisasi dengan Bahasa Indonesia

Read Time:2 Minute, 18 Second

Bahasa menunjukkan sebuah bangsa, frasa ini rasanya familiar di telinga bukan? Terlihat dari bagaimana bahasa digunakan sebagai penilaian karakter sebuah bangsa. Namun dalam perkembangannya, bahasa Indonesia pada masa kini kian merosot. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya penyimpangan bahasa Indonesia dari tatanan yang baik dan benar. Salah satunya mengubah tatanan berbahasa menjadi tidak baku dan meyisipkan kosakata bahasa asing di dalam penggunaannya. 
Tepatnya awal September 2018, penggabungan kosa kata bahasa asing dan Indonesia mencapai puncak tren. Bahasa Jakarta Selatan sebutannya, dengan menyisipkan beberapa kosakata bahasa Inggris seperti which is, literally, basically dalam bahasa keseharian. Kebiasaan ini mulanya muncul pada anak-anak muda Jakarta Selatan (Jaksel) dalam menggunakan dan membaurkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Menurut Aktivis bahasa Indonesia, Ivan Lanin, dalam website www.kompas.com memaparkan bahwasannya fenomena berbahasa anak Jaksel merupakan usaha seseorang mempelajari bahasa baru. Dalam hal ini sebagai bentuk pembelajaran kosakata bahasa Inggris, tapi dengan cara mencampurkan kedua bahasa. Kosakata bahasa Inggris yang lebih populer juga menjadi penyebab lain maraknya fenomena bahasa anak Jaksel. Contohnya istilah download yang lebih banyak dipakai untuk menggantikan kata mengunduh dalam bahasa Indonesia.
Meskipun begitu, Ivan menilai maraknya penggunaan bahasa anak Jaksel pun memiliki sisi positif, yakni pengguna bahasa anak Jaksel menjadi lebih hafal berbahasa Inggris. Selain itu, menjadi lebih memahami banyak tentang kosakata bahasa Inggris bahkan terjemahannya. Mengingat, bahasa Inggris telah ditetapkan menjadi bahasa Internasional dan penutur dalam bersaing dan berkompetisi dalam dunia global.
Akan tetapi, maraknya pencampuran bahasa asing dengan bahasa Indonesia hendaknya tidak menimbulkan kelunturan terhadap bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Seperti yang tercantum dalam Ikrar Sumpah Pemuda yang diresmikan pada 28 Oktober 1928 yang salah satu bunyinya ialah ‘Kami putra-putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.’ Isi dari Ikrar Sumpah pemuda yaitu sebuah kemerdekaan yang sudah diraih, harus diisi dengan bersatunya masyarakat Indonesia dengan menggunakan bahasa persatuan. 
Selain itu, dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Bab XV Pasal 36 pun disebutkan bahwasannya bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya warga negara Indonesia merasa bangga akan bahasa ‘ibunya’. Karena telah menjadi bahasa pemersatu seluruh masyarakat,  dan merupakan jati diri bangsa.
Sebenarnya banyak cara untuk dapat menjaga bahasa Indonesia agar tak pudar. Seperti merealisasikan penggunaannya sesuai tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar, meningkatkan kedisiplinan berbahasa Indonesia, menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis pembinaan bahasa. Peran pemerintah pun diperlukan guna menjaga undang-undang kebahasaan serta mengkampanyekan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia.
Bahasa asing memang sangat penting untuk kita kuasai agar kita mampu bersaing dan berkompetisi dalam dunia global. Namun sebagai warga negara Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia jauh lebih penting dan harus diutamakan sebagai ciri khas dan citra bangsa. Jangan sampai bahasa yang menjadi penghubung dan pemersatu dalam beranekaragam budaya, adat-istiadat, justru luntur akibat maraknya penggunaan bahasa Inggris masa sekarang ini.
IKA TITI HIDAYATI

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Previous post Keterbatasan tak pantang pudar
Next post Bersama Syawal: Harapan Baru Akan “Hoax”