Aksi Nyata Ukir Prestasi

Aksi Nyata Ukir Prestasi

Read Time:3 Minute, 27 Second

Aksi Nyata Ukir Prestasi

Memiliki segudang aktivitas di kampus tidak menghalangi Intan untuk berprestasi di luar kampus. Sempat menjadi Abang None Buku dan Duta Bahasa DKI Jakarta, kini ia disibukkan untuk menggalakan program SDGs yang dicanangkan oleh PBB.

Pada 25 September 2015 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beserta 193 kepala negara mengesahkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau dalam Bahasa Inggris disebut Sustainable Development Goals (SDGs). Mengusung tema “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, SDGs memiliki 17 tujuan untuk 15 tahun kedepan guna mengurangi kemiskinan, perbaikan kesehatan, pendidikan serta melindungi lingkungan.
Salah satu orang yang menjalankan salah satu tujuan SDGs ialah Intan Qomariah. Dari 17 Tujuan yang ada, Intan memilih aspek pendidikan berkualitas. Sejak Mei 2017, mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini menjabat sebagai partnership officer di organisasi bernama Indonesian Youth For Sustainable Development Goals (Indoyouth4sdgs).
Demi mendukung dan menjalankan program PBB tersebut, perempuan kelahiran Cirebon, 16 November 1995 ini pun berkesempatan menjalani pertukaran pemuda ke Filipina. Di sana ia meneliti serta memberikan solusi perihal masalah pendidikan di sebuah desa.“Kalo di Indonesia sendiri sebenarnya minat baca, buta huruf dan putus sekolah, pendidikan karakter masih banyak PR-nya,” tutur Intan.
Sejak duduk dibangku sekolah, Intan memang sudah aktif mengikuti organisasi baik ekstrakulikuler atau Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Tekun dan pantang menyerah membuat Intan berhasil meraih sejumlah prestasi. Selama menjadi mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ia pernah mengikuti beberapa organisasi intra kampus seperti UKM Bahasa Foreign Languages Asssociation (FLAT) dan juga UINPreneurs.
Saat masih aktif di UKM Bahasa FLAT, Intan menginisiasi program Flaternational walau program tersebut hanya berjalan selama 2 tahun. Ia bersama teman-teman juga menginisiasi program FLAT Tari dengan tujuan untuk mempelajari tari tradisional. Karena itulah Intan berhasil membuktikan kalau sebenarnya budaya dan bahasa itu saling berkesinambungan.
Tahun 2016 silam, Intan didaulat menjadi Top 5 finalis Duta UIN Jakarta. Tak sampai disitu, ia pun berhasil menjadi Abang None Buku Jakarta Barat 2016. Prestasinya menjadi abang none buku merupakan hal yang paling tak terlupakan sebab banyak pelajaran yang ia dapatkan seperti cara berkomunikasi yang baik dan benar hingga cara berpenampilan. “Melalui abang none buku, saya mendapat keluarga baru,” Ujarnya saat ditemui di lobi FITK pada Rabu, (18/9).
Sering mencoba peruntungan sebagai duta, Intan pernah mendapat cibiran dari teman-temannya. Ia bercerita, dirinya sempat dicap terobsesi menjadi artis hanya karena menjadi Duta Bahasa Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Padahal menjadi duta bahasa adalah representasi anak muda untuk mengajak teman untuk membaca buku dan ke perpustakaan. Untungnya, dia tak ambil pusing akan hal tersebut. “Yang ngejalanin aku, mereka cuma bisa berkomentar,” ungkapnya.
Selain mengurus organisasi Indoyouth4sdgs, perempuan yang hobi membaca buku ini juga dipercaya menjadi Koordinator Public Relations Komunitas Jendela Jakarta. Dari banyak pengalaman berorganisasi yang telah ia lalui, menurutnya yang paling berkesan adalah saat ia ada di UKM FLAT. Ia menganggap, apa yang ia dapatkan hari ini karena dibentuk di FLAT. Dengan segudang aktivitasnya, sempat Intan merasa capek dan jenuh. Apalagi jika kegiatannya bentrok dengan jadwal kuliah. Untuk mengatasi hal tersebut, ia memilih untuk istirahat total dan memprioritaskan kegiatan yang paling penting dan utama.
Semua prestasi yang ia raih tak semata didapatkan secara instan. Berdebat dengan orang tua, Indeks Prestasi (IP) yang menurun dan juga ketiduran di kelas pun pernah ia hadapi. Bahkan, sering ia tidak lolos saat mendaftar sebagai kontestan duta. Tapi semua itu malah membuatnya makin terpacu untuk terus berusaha. “Kegagalan aku jadikan untuk evaluasi diri,” kata Intan. Ia berujar, ikut organisasi apalagi organisasi dalam kampus itu penting karena dapat menambah pengetahuan dan kecintaan kepada kampus. Tak hanya itu, menurutnya karena didikan organisasi dalam kampuslah ia jadi lebih kuat menrima tantangan di dunia luar.
Kedepannya ia ingin menciptakan organisasi sendiri seperti komunitas pendidikan gratis. Ia ingin menyelesaikan masalah sosial yang ada di kampung halamannya, Cirebon. Intan ingin membagi pengalamannya demi Indonesia yang lebih baik. “Aku udah mulai merancang dari sekarang,” Tuturnya. Intan berpesan untuk anak-anak muda terutama mahasiswa UIN Jakarta, jangan pernah takut mencoba hal yang baru. Prestasi yang sudah diraih jangan dijadikan hal untuk mengunggulkan diri, tapi harus dijadikan amal. Perihal kegagalan, itu nomor dua yang penting sudah berani untuk mencoba. “Tugas kita bukan untuk berprestasi tapi untuk mencoba,” pungkasnya.
Rizki Dewi Ayu

About Post Author

LPM Institut

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Milenial Hadirkan Ragam Budaya Previous post Milenial Hadirkan Ragam Budaya
Siapkan Diri Meniti Karir Next post Siapkan Diri Meniti Karir