Terbelenggu Patriarki Melawan Tradisi

Read Time:2 Minute, 19 Second

Judul film: Yuni 

Tahun rilis: 2021

Genre: Drama

Durasi: 95 Menit

Sutradara: Kamila Andini 

Skor: 7.4/10 (IMDb)

Yuni merupakan sebuah film yang disutradarai oleh Kamila Andini dan diproduksi pada masa Covid-19 lalu. Film yang berlatar di daerah Serang Banten ini  menceritakan tentang budaya patriarki yang masih kental di sebagian masyarakat Indonesia.

Film diawali dengan kemunculan tokoh utama Yuni—Arawinda Kirana yang merupakan seorang siswi berprestasi di SMA di Serang, Banten. Yuni berasal dari keluarga yang hanya berpendidikan rendah serta hidup dilingkungan yang masih memegang kuat kultur patriarki.

Konflik berawal ketika Yuni berkeinginan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi Jakarta. Namun, harapannya terhambat oleh dua pria yang menyatakan niat untuk melamarnya. Meski menolak kedua lamaran tersebut karena fokus pada pendidikan, situasi semakin rumit ketika datang pelamar ketiga. Yuni terperangah, karena di daerahnya beredar mitos bahwa menolak lamaran lebih dari dua kali dapat membawa kesulitan dalam mencari jodoh.

Yuni, dalam perjuangan batinnya, memilih untuk berkonsultasi dengan Suci, seorang penata rias yang memiliki pengalaman serupa ketika masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama  (SMP). Kisah Suci yang pernah dilamar saat SMP dan terpaksa berhenti sekolah karena pernikahan singkatnya, yang diakhiri oleh serangkaian keguguran, menjadi cerminan yang menarik bagi keputusan Yuni.

Setelah mendengar cerita dari Suci, Yuni seakan membuka mata untuk tidak gegabah mengambil keputusan hanya karena sebuah mitos. Kemudian, Yuni memantapkan diri untuk menerima lamaran dari orang ketiga ini. Namun tak disangka, di akhir film diperlihatkan bahwa Yuni mengambang di atas air setelah ia kabur dari pernikahannya.

Film Yuni menggambarkan bagaimana mitos lokal dapat menghambat impian seseorang, di samping itu, film ini menekankan pentingnya membuat keputusan pernikahan secara bijak dan mengungkap kejahatan dalam dunia pendidikan yang menyebabkan marginalisasi perempuan oleh budaya daerah.

Secara keseluruhan, film ini memberikan pembelajaran untuk tetap memperjuangkan hak perempuan, terlepas dari semua stigma masyarakat yang ada. Film Yuni mengajarkan bahwa setiap perempuan bisa menentukan pilihannya sendiri. Sehingga, para perempuan bisa mengambil langkahnya sendiri tanpa harus menuruti budaya adat istiadat yang mengekang.

Film Yuni secara rinci menggambarkan kehidupan pedesaan dan memiliki keunikan dalam penggunaan puisi karya Sapardi Djoko Damono, yang memberikan sentuhan sastra khas pada narasinya. Sayangnya, klasifikasi usia film ini ditetapkan untuk penonton 17 tahun ke atas karena terdapat adegan dewasa. Di samping itu, film ini mengangkat isu  Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dan pendidikan seks dengan cara yang realistis tanpa berlebihan.

Film Yuni memenangkan Platform Prize di TIFF 2021, menjadikannya film Indonesia pertama yang meraih penghargaan tersebut sejak ajang dimulai pada 2015. Selain itu, film ini juga meraih beberapa Piala Citra di ajang Piala Maya, termasuk untuk pemeran utama perempuan, penyutradaraan, aktris utama, film panjang, desain poster, penulisan skenario asli, tata kamera, dan penyuntingan gambar. Koleksi prestasi film ini menciptakan kesan yang mengesankan di dunia perfilman.

Penulis: MNA

Editor: Ken Devina 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Menggali Kegelapan di Balik Kemilau Emas
Next post Cacat Era Jokowi