Pijar Kemanusiaan di Ujung Barat Indonesia

Read Time:5 Minute, 11 Second

Aksi kemanusiaan di provinsi paling barat Indonesia tak pernah padam. Sudah belasan tahun pengungsi Rohingya mendapat uluran tangan dan perlindungan di sana.


Provinsi terbarat di Indonesia menjadi salah satu pilihan tempat muhajir Rohingya mengungsi. Mereka mulai mendarat di Sabang, Aceh sejak tahun 2009. Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) mencatat 1200 jiwa Pengungsi Rohingya pindah ke Indonesia sejak November 2023. 

Jumlah pengungsi tersebut bukanlah yang terbanyak di Indonesia. Menurut data UNHCR per Januari 2024, pengungsi terbanyak berasal dari Afghanistan dengan jumlah 5820 pengungsi. Kemudian dilanjut Myanmar dan Somalia yang masing-masing berjumlah 2220 dan 1159 pengungsi.

Nahkoda perahu Rohingya, Muhammad Toyub (44) mengatakan, mereka memilih Indonesia sebab pemerintah dan masyarakat Indonesia memiliki sikap berperikemanusiaan. “Maka, kami berharap di sini (Indonesia) aman dan dapat mendidik anak-anak kami,” harap Toyub yang juga ayah dengan enam anak tersebut, Kamis (29/2).

Toyub dan kelompoknya memilih mengungsi sebab Pemerintah dan Militer Myanmar telah melakukan genosida terhadap Rohingya. Akhirnya, kata Toyub, mereka mengungsi ke Bangladesh, namun keresahan juga kerap dialami mereka. “Situasi di Bangladesh memburuk karena adanya penculikan dan pembunuhan anak-anak kami,” keluh Toyub.

Alhasil, tetap tinggal dengan alas dan atap terpal di Kamp Pesisir Kulam menjadi cerminan sikap Rohingya di lokasi pengungsian lainnya. Hal itu menunjukkan fasilitas minim bukan menjadi masalah besar bagi mereka untuk tetap semangat hidup. Dengan begitu, mereka terus menghiasi kehidupan dengan berbagai aktivitas positif seperti bermain, belajar, dan beribadah bersama.

Sikap Masyarakat Aceh

Peumulia jamee menjadi salah satu prinsip masyarakat Aceh menerima pengungsi Rohingya yang datang ke sana. Atas dasar itu, masyarakat menerima serta membantu Rohingya selama tiga hari setelah mendarat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Panglima Laot Aceh Besar, Azwir Nazar mengatakan, masyarakat Aceh berprinsip membantu siapapun di laut sesuai adat mereka. Syarat menolong ada tiga, tidak boleh membahayakan nelayan, tidak melanggar hukum negara serta syariat. 

“Apabila ada masalah yang timbul dari tindakan tersebut, maka akan diserahkan kepada otoritas hukum di darat, yaitu pemerintah,” tegasnya, Jumat (1/3).

Azwir juga menegaskan, masyarakat Aceh tidak menolak Rohingya. Akan tetapi, sesuai adat, mereka akan menyerahkan para pengungsi kepada pemerintah setempat setelah tiga hari. “Kehadiran negara tidak ada di sini, seharusnya ada kebijakan pemerintah yang tegas untuk menyelesaikan masalah pengungsi ini,” sesal Azwir.

Kamp pengungsi asal Myanmar tersebut berlokasi di beberapa titik Provinsi Aceh. Asrama Yatim Mina Raya, Padang Tiji, Kabupaten Pidie menjadi salah satu kamp Rohingya. Lokasi itu menampung kurang lebih tiga ratus pengungsi Rohingya dari berbagai gelombang kedatangan.

Untuk membuat konsumsi ratusan pengungsi di sana, masyarakat setempat digaet guna mengolah makanan di dapur kamp. Mereka ditugaskan memasak dua kali sehari di pagi dan sore hari. 

Warga asli Padang Tiji, Mukhlis (26) menjadi salah satu pengolah konsumsi di Mina Raya. Ia mengatakan, setiap warga saling membantu tanpa adanya tekanan dari pihak manapun. Dirinya juga mengaku mendapat upah sebulan sekali dari pimpinan desa. “Dalam satu minggu ada delapan orang masyarakat yang membantu secara bergilir untuk sekadar memasak dan memberi obat,” tutur Mukhlis, Kamis (29/2).

Selain di Mina Raya, bangunan Kantor Imigrasi, Blang Mangat, Lhokseumawe juga menjadi lokasi pengungsian Rohingya. Hampir sama dengan Mina Raya, pengungsi di kamp tersebut berjumlah sekitar tiga ratus kepala.

Belajar mengajar menjadi salah satu agenda wajib di sana. Ketika relawan pengajar datang, anak-anak berbondong-bondong menghampiri para relawan yang membawa alat edukasi. Bahkan, sebelum kelas dimulai, mereka sudah menunggu di ruang kantor.  

No mandi, no drawing,” terdengar ucapan salah satu pengajar kepada anak-anak Rohingya, Rabu (28/2).

Tetap Terang di Balik Kisah Kelam

Walaupun akses pendidikan pengungsi Rohingya tidak formal, namun beberapa dari mereka berbakat. Mohammed Ayaz (19), pengungsi di Blang Mangat dan Pengungsi di Padang Tiji, Zafor Ullah (27) menjadi salah dua pengungsi yang pandai berbahasa Inggris.

Mohammad Ayaz memiliki semangat yang tinggi untuk ikut andil membantu relawan pengajar menerjemahkan Bahasa Inggris ke Bahasa Myanmar dan sebaliknya. Terkadang, anak kedua dari delapan bersaudara tersebut turut menebar ilmu Bahasa Inggrisnya kepada teman-temannya di kamp.

“Pendidikan itu nilai penting. Maka, saya ingin membantu mereka mengejar pendidikan dan membuat masa depan mereka cerah,” harap Ayaz, Senin (11/3).

Relawan lainnya, Zafor mulanya berkontribusi mengembangkan situs Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di Kamp Cox’s Bazaar, Bangladesh dan pusat pendidikan swasta. Karena pengalamannya, Zafor menjadi salah satu pendidik di Kamp Mina Raya. “Karena pendidikan itu sangat penting untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik,” tutur Zafor, Kamis (28/2).

Mengajar pengungsi Rohingya lainnya dengan  penuh keikhlasan, Zafor mengaku tujuan utamanya hanya menolong tanpa berharap imbalan apapun. “Saya tidak mendapat upah dari mana pun,” ucap ayah anak satu itu.

Lalu, ada juga pengungsi satu kamp dengan Zafor yang berbakat dalam menggambar, yaitu Mohammed Ayas (18). Ia menuturkan, kecintaannya terhadap seni lukis telah tumbuh sejak dia masih kecil. “Ya, saya belajar sendiri dari kecil secara otodidak,” kata Ayas, Kamis (28/2).

Dengan kemampuannya tersebut, Ayas fokus menggambar sketsa wajah, lalu menggosokan jari telunjuknya ke sketsa guna memberi kesan hidup pada karyanya. Selain itu, dirinya turut menghias ruang kelas dengan goresan krayon bergambar kapal saat dirinya melaut ke Indonesia.

Berserah pada Tekanan Publik

Azwir menekankan, narasi negatif seputar Rohingya di media sosial telah menyudutkan masyarakat yang ingin membantu. Lalu, masyarakat di sana sering dicap sebagai pelindung bahkan pelaku perdagangan manusia.

Menurut Azwir, salah satu penyebab warga menolak kedatangan Rohingya yaitu kecurigaan warga pada jam kedatangan mereka. “Salah satunya karena Rohingya sering datang di waktu minimnya aktivitas warga, seperti malam hingga menjelang subuh,” papar Azwir, Jumat (1/3).

Terkait kondisi ini, Protection Associate UNHCR Indonesia untuk Aceh, Faisal Rahman mengatakan, informasi salah tentang Rohingya di media sosial masih banyak. Sedangkan, kata Faisal, ketika lampau, pengungsi yang mendarat diterima bahkan dijemput warga. “Ujaran kebencian pada pendaratan baru-baru ini mulai masif. Padahal, sebelumnya hanya ada diskusi biasa bagi yang mempertanyakan status kepengungsian,” ujar Faisal, Rabu (28/02).

Kemudian, ujar Faisal, resettlement—hak dipindahkan ke negara ketiga—memiliki seleksi yang ketat. Maka, Faisal berharap pengungsi memiliki kemampuan khusus supaya bisa menjadi peluang ke negara ketiga. ”Pelatihan dan pembekalan menjadi alternatif dalam penanganan Rohingya yang harus didekati secara menyeluruh,” tutur Faisal.

Faisal juga berharap, masyarakat perlu memahami, Indonesia adalah negara transit sehingga tidak akan memberi kesempatan Rohingya untuk menetap atau mendapatkan kewarganegaraan. “Mengingat tidak adanya peraturan yang mendukung hal ini,” pungkas Faisal.

Reporter: Febria Adha Larasati, Ken Devina

Editor: Shaumi Diah Chairani

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Waktu Ciputat Bagian Ngabuburit
Next post Mereka Ada, Serasa Tiada