
Meski sudah dua kali peletakan batu pertama, pembangunan masjid di Gedung PPG UIN Jakarta masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Di lain sisi, mahasiswa juga mengeluhkan fasilitas ibadah di Gedung tersebut.
Pada September 2025, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar seremonial peletakan batu pertama pembangunan masjid di Gedung Pendidikan Profesi Guru (PPG). Melansir dari liputan Institut dengan tajuk Jilid Dua Pembangunan Masjid PPG, pada peletakan batu pertamanya di tahun 2020, pembangunan masjid di PPG itu tidak mendapatkan bantuan dana dari pihak manapun.
Namun, pada proyek kali ini, UIN Jakarta bekerja sama dengan donatur asal Kuwait, Abdul Latief Al-Rubai, melalui lembaga Baituzzakat Kuwait dan dikelola oleh Asosiasi Amal Indonesia-Kuwait sebagai mitra pelaksana. Meskipun demikian, hingga kini pembangunan Masjid Al-Rabi’a belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Muhammad Arif, Wakil Ketua II pembangunan Masjid Al-Rabi’a, menjelaskan bahwa saat ini pembangunan masjid tersebut masih berada dalam tahap penguatan dasar bangunan. Ia menegaskan, meskipun secara visual belum terlihat perubahan yang signifikan, tetapi proses pembangunannya tetap berjalan. “Sekarang fokus kita memang masih pada penguatan fondasi. Jadi wajar kalau dari luar belum terlihat progres yang besar,” kata Arif, Senin (22/12).
Kemudian, ia juga menjelaskan bahwa pembangunan masjid tetap dilanjutkan di lokasi semula, agar dana yang telah dikeluarkan pada pembangunan sebelumnya tidak terbuang sia-sia. Sebab, setelah melakukan pengujian struktur pada fondasi yang lama, menurutnya lokasi bagunan masjid sebelumnya masih layak tanpa perlu melakukan relokasi, dengan catatan perlunya penguatan di sejumlah titik.
“Jadi kita putuskan kembali ke fondasi yang sudah ada dengan penguatan pada 16 titik kolom, masing-masing dengan empat bore pile, sehingga total ada 64 titik penguatan. Proses tersebut meliputi pengeboran, pembesian dan pengecoran beton,” jelasnya.
Selanjutnya, Arif juga menjelaskan bahwa pembangunan masjid direncanakan berlangsung dalam sepuluh tahap dengan target mencapai tahap kelima dalam satu tahun ke depan. Di tahap kelima ini struktur utama bangunan telah berdiri dan masjid sudah dapat digunakan, meskipun secara pengerjaan arsitekturalnya belum selesai.
“Dalam satu tahun kita akan sampai di tahap lima. Tahap lima itu sudah sampai ke kubah, atap sudah tertutup tapi belum masuk ke pekerjaan arsitektural yang sebenarnya,” kata Arif.
Terkait pendanaan, ia mengungkapkan total anggaran pembangunan masjid itu mencapai angka Rp 8,6 Miliar. Sebaliknya, saat ini dana yang sudah terkumpul masih di angka Rp 1,3 Miliar yang diperoleh dari sisa pendanaan di tahun 2020. Ditambah bantuan awal dari donatur asal Kuwait itu sebesar Rp 600 juta dari total komitmen Rp 2 Miliar yang akan disalurkan secara bertahap. Dengan demikian, masih dibutuhkan dana sebesar Rp 7,3 Miliar untuk menyelesaikan keseluruhan pembangunan masjid tersebut.
Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa hingga kini pihak kampus belum menyalurkan dana untuk pembangunan masjid itu. “Tapi kami masih berharap ke depannya akan ada alokasi anggaran dari pihak kampus, karena ini hak mahasiswa untuk mendapatkan fasilitas ibadah di lingkungan kampus,” ujar Arif.
Naswa—bukan nama sebenarnya—Mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menyayangkan belum dilanjutkannya pembangunan masjid usai seremonial peletakan batu pertama. Ia mengaku tidak lagi menaruh harapan besar terhadap proyek tersebut mengingat kondisi kampus yang sedang melakukan efisiensi anggaran. “Aku sendiri nggak yakin dan berekspektasi dengan proyek pembangunan masjid ini mengingat kampus lagi efisiensi dana,” ujar Naswa, Jumat (19/12).
Selanjutnya, Naswa juga menyoroti tentang kondisi fasilitas ibadah yang tersedia di Gedung PPG. Meski terdapat musala di setiap lantai, melihat dari segi kualitas dan kelengkapan menurutnya belum memadai. Permasalahan utama yang kerap dikeluhkan adalah ketersediaan air untuk wudhu dan kebersihan sarana ibadah.
“Air di tempat wudhu maupun toilet setiap jam sebelas keatas pasti selalu habis. Sedangkan, pilihan toilet adanya di lantai paling atas atau lantai paling bawah, kalau di sana nggak ada air juga mahasiswa wudhu di pos satpam atau balik ke kosan masing-masing,” jelasnya.
Senada dengan Shabrina Nur Ramadhani, Mahasiswi FITK Program Studi (Prodi) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS), mengungkapkan bahwa mushola di Gedung PPG sudah tersedia di setiap lantai. Namun, kurangnya ketersediaan air di tempat wudhu maupun toilet membuat mahasiswa kesulitan untuk wudhu ataupun buang air.
“Bagi saya mushola di setiap lantai sudah cukup, tinggal ditingkatkan kualitasnya saja seperti disediakan karpet, sajadah dan mukena untuk sholat, yang kurang itu mungkin ketersediaan air di tempat wudhu dan toilet,” ujar Shabrina, Jumat (19/12).
Kemudian, ia berharap pihak kampus dapat merencanakan pembangunan masjid PPG secara matang, terutama terkait penyediaan air yang masih menjadi kendala utama. Ia menilai pembangunan masjid akan kurang relevan jika persoalan suplai air belum diselesaikan.
Reporter: SJF
Editor: Adam Alfarraby
